Tampilkan postingan dengan label Diorama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diorama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Diorama

Diorama… sebuah kisah sederhana mengenai kehidupan seorang gadis SMA, mungkin bukan cerita yang sempurna ataupun menyenangkan tapi… untuk ukuran seoarang yang masih SMA saat menulis cerita jelas bisa dikatakan “lumayan” sedikit alay dan terdapat banyak kekurangan di penulisannya, maklum lah gak ada yang namanya”editing”.

Mengapa Diorama? Entahlah.. hanya tiba tiba saja judul itu muncul tanpa harus aku pikirkan lebih dalam… dalam prosesnya juga dibantu beberapa teman saat SMA dulu, semoga kalian menyukainya (tulisan ini) terima kasih untuk yang telah membaca.. Salam #Diorama !

Diorama #Stage 24 "Ending"

Silahkan review cerita sebelumnya di stage 23 J


Datanglah malam ini ditaman dekat rumahmu.. dan kamu akan tahu siapa aku. Setelah isya temui aku Zira..

Itu isi card pagi ini, masih dengan mawar dan coklat yang sama. Akhirnya rasa penasaran aku akan sosok ‘dia’ akan berakhir malam ini. Tapi kenapa malam ini? Seharusnya malam ini aku lebih bersama Elang ini kan malam terkahirnya…
Tadinya aku memutuskan untuk tidak datang menemui ‘dia’ tapi berhubung Elang lagi dirumah Gerza jadi mending aku kesana deh. Tinggal satu jam lagi sebaiknya aku bersiap siap.
Selesai sholat aku langsung pamit pada oppa dan pergi ketaman. Setiap langkah aku selalu memikirkan siapa dia? apakah aku mengenalnya? siapa namanya?dan seperti apa?. Semua pertanyaan itu membuatku sampai dibangku taman ini. Tapi tak ada siapapun disini. Apa aku terlalu cepat. Tunggu di bangku itu … ada mawar dan sebuah card lagi tanpa coklat.

Arahkan badanmu ke utara dan lihat kearah pukul 7
                    
Apa maksudnya? Eh ada kuntum kuntum mawar putih dibawah sepertinya membentuk sebuah jalan. Aku mengambil satu persatu dan  akhirnya sampai disisi lain taman ini. Dan waw! aku berada tepat ditengah tengah sebuah lingkaran yang dibentuk lilin lilin kecil dan kelopak mawar putih tersebar didalam atau luar lingkaran ini. Sangat indah. Tapi dimana dia…
Hey apa itu? Ada sebuah kotak berwarna putih disana. Perlahan aku meraihnya. Ini… ahh yang benar saja kenapa sebuah kartu lagi

Dibelakangmu..

Dibelakang? Saat aku berbalik.. ahh aku tidak bisa melihatnya dengan jelas terlalu gelap, cahaya lilin ini masih mengaburkan wajahnya. Perlahan sepertinya dia mulai mendekat dan sedikit banyak aku bisa melihatnya, semakin dekat semakin jelas…
“Elang…”
“hay Ra!”
“jadi selama ini.. kamu?”
Dia sama sekali tidak menanggapinya dan berjalan menuju bangku taman tak jauh dari sini, terpaksa aku mengikutinya. Untuk beberapa saat dia masih terdiam
“hey..jelaskan?” ujar ku  mulai kesal
“iya itu semua aku, mawar, coklat, kartu, lilin semuanya aku Ra…” ujarnya tenang
“kenapa?”
“semenjak kamu menumpahkan kuah mie kebadan aku, semenjak itu dan semakin saat kamu membawa aku kerumah sakit sampai saat ini.”
“intinya…”tanyaku mulai gusar
“oh Zira… berhentilah membuat hatiku serba salah karenamu. Entah apa ini namanya. Tapi perasaan seperti ini adalah perasaan yang dulu aku pernah merasakannya pada Kiara dan aku –akui tidak sepenuhnya sama, berbeda tapi ini perbedaan yang lain yang membuatku semakin aneh”
“tapi kenapa aku? Dan setiap aku tanya siapa soal kiriman itu dan juga nomor itu, kamu terlihat cuek acuh dan santai. Kamu selalu berkata kamu tidak tahu”
“aku pintar dalam menyembunyikan perasaanku sepertimu, saat tiba saatnya aku akan memberitahu. Dan ini saatnya”
“oh saat terakhir kamu? Saat dimana esok justru kamu akan pergi? Bagaimana bisa kamu melakukan semua ini. Lagi pula kamu tahu persis seperti apa dan untuk siapa kini perasaanku” ujarku semakin melemah
“ya, Zafi… I just want to say  it! Kamu tak perlu menjawabnya saat ini, dan aku cukup senang dan lega karena perasaanku. Setidaknya aku tidak menyukai orang yang salah!”
“yang benar saja jawaban apa? Sama sekali tak ada pertanyaan darimu. Jika kamu sendiri tahu kalau aku sampai saat ini… sampai detik ini masih dan masih—perasaanku untuknya. Kenapa masih melakukan semua ini?”
“soal bagaimana kamu akan menyikapi semua ini. Jadi menurutmu aku salah? Aku hanya ingin kamu mengetahuinya, ya aku tahu semua ini—ahh aku tahu hanya Zafi dan Zafi tapi …”
“tentu ini bukan sebuah kesalahan Elang, itu—itu semua hak kamu karena ini perasaan kamu. Aku gak akan pernah membuat kamu menunggu. Kamu tahu jawabannya. Aku gak bisa untuk membalas ketulusan yang udah kamu kasih, karena kamu tahu bagaimana isi perasaanku, meski aku tahu aku gak akan pernah bisa bersama Zafi, dan akan selalu menjadi sahabatnya, aku sama sekali tidak merasa keberatan untuk itu dan aku menikmatinya, lagi pula dengan menjadi sahabatnya aku masih bisa untuk selalu ada disampingnya dan membantu setiap  persoalannya. Lagi pula dengan persahabatan kita bisa seperti ini selamanya setidaknya sampai aku meninggalkan dunia ini. Dan aku juga menginginkan hal seperti ini sama kamu, kamu yang selalu menjadi teman, sahabat, musuh dan bahkan keluarga untukku. Aku sama sekali tidak ingin merubah semua ini Elang..”
“baiklah aku mengerti Ra, meski setelah semua ini rasanya akan ada hal yang berubah tapi aku harap perubahan itu tidak terlalu buruk.” Ujarnya
“oh ayolah.. aku janji tak akan pernah ada yang berubah. Dan aku sangat sangat sangat berterima kasih untuk hal ini. Kamu hal terindah setidaknya salah satu hal terindah yang hadir dihidup aku. Oke sudahlah kita tak perlu membahas semua ini lebih jauh. Jadi kamu tidak akan berkemaskan? Kamu akan kembali kesini setelah kamu ke Bali?”
“setidaknya aku yang harus berterimakasih Ra. Well perubahan rencana, oppa ku di Bali memintaku untuk langsung pulang kesana jadi sepulang dari sini aku akan berkemas Ra. Dan entah kapan aku akan kembali”
“jahat! Jadi kemungkinan besar ini malam terakhir untuk aku bertemu kamu ?”
“sepertinya, aku ikut penerbangan pagi. Ayolah suatu saat aku akan kembali untuk kamu dan oppa. Atau justru kamu yang akan menemuiku?”
“ahh tidak janji Elang haha”
“ini sudah malam, ayolah kita pulang!”ujarnya
“baiklah my secret admire!” godaku
Dan respon Elang hanya tersenyum dengan sikap salah tingkah khasnya…
Setelah aku membantu Elang berkemas malam ini aku kembali kekamar, aku masih bingung apakah kejadian hari ini benar benar nyata? aku sama sekali tak menyangkanya. Bagaimana mungkin seorang Elang yang sering kali acuh bahkan bertindak menyebalkan bisa seperti ini.
Keesokan harinya aku dan oppa bahkan Zafi menemani Elang kebandara
“seriusan gak akan kuliah disini Lang? wahh Zira pasti sedih tuh” ujar Zafi
“semuanya ada yang harus oppa urus disini. Oppa tinggal ya, sebentar” ucap oppa dan pergi, kami hanya menangguk pelan
“iyalah.. kenapa? Ohh apa justru kamu yang sedih aku tinggal Fi? Haha.. jelas Zira pasti kehilangan banget secara gitu aku ini sosok yang tidak tergantikan. Haha”
“idihhh males banget! Haha. Jadi kapan balik lagi ke Bandung?” tanya Zafi
“gak tau lah Fi, biar waktu yang menjawab.”ujar Elang
“nah Elang ini tiket kamu, dan sudah saatnya kamu berangkat!” ujar oppa yang telah kembali.
“baiklah, sudah saatnya. Hati hati yaa!” ujarku dengan seulas senyuman
“kamu  juga ya. Fi jagain nih Zira oke! oppa makasih ya selama ini Elang dibolehin tinggal dirumah oppa sama Zira. Makasih untuk semuanya oppa!”
“iya salam untuk oppamu disana. Bilang sama dia lain kali berkunjunglah ke Bandung” timpal oppa
“siap oppa. Semuanya terima kasih yaa.. bye!”ujar Elang melangkah pergi.
Setelah pesawat Elang benar benar lepas landas kita semua pulang. Zafi akan pulang kerumahku untuk belajar bersama. Diperjalanan, semua hal tentang Elang mulai muncul diingatanku. Terutama soal peristiwa kemarin malam ditaman.
Setelah kita tiba, aku pamit pada Zafi untuk mengambil buku dikamar. Saat mencari buku kumpulan soal soal snmptn. Loh itu kan box putih yang kemarin kok bisa ada disini perasaan aku tidak membawanya. Eh  ada foto? Ini kan foto aku dan Elang. Ada kalung juga? Tapi jelas sini kalung yang tidak bisa dibilang cantik. Tapi keren haha gimana enggak kalung ini lebih mirip kalung untuk seorang pria dengan bandul berbentuk bintang masing masing di bandan bintang itu ada inisial Z dan E. Sepertinya aku tahu apa maksudnya. Ada suratnya juga ternyata..

Well saat kamu baca ini pasti aku lagi terbang deh sama pesawatnya atau justru aku sudah sampai diBali. Kamu harus simpan foto itu, foto yang diambil waktu kita jalan jalan bareng Langit sama Zafi. Dan kalungnya aku tahu kamu tidak bisa dibilang seorang wanita haha tapi aku harap kamu suka. Aku yakin kamu tahu apa arti dari inisialnya. Thanks ya buat semuanya. Biarkan aku juga untuk menyimpan semua perasaan aku ya.. sampai aku siap untuk melepasnya…
Elang
Elang Elang, tentu saja aku menyukainya. Eh ya ampun Zafi aduuhh lupa lagi. Ah itu dia bukunya.
“maaf ya nunggu lama, hehe” ujarku
“aku harap tadi kamu gak ketiduran Ra, haha” timpalnya
“ya enggaklah, kita bahas paket 5 kan sekarang? Baiklah”
“thanks ya”
“untuk?”
“kamu seharusnya kan liburan apalagi kamu tinggal kuliah tanpa harus tes, tapi malah ngelesin aku”
“tak apa” ujarku singkat.
“aku janji deh nanti kalau aku diterima aku pasti teraktir kamu dimanapun kamu mau?gimana?”ujarnya
“baiklah  aku  pegang janji kamu yang satu itu oke!”

Sekarang rasanya rumah ini sepi. Bahkan setelah dia pergi dia tak pernah sekalipun menghubungiku. Katanya suka tapi apa sekarang?. Ternyata benar kita tak pernah tahu berapa berartinya seseorang sebelum kita kehilangannya. Terkadang aku membuka kembali box yang diberi Elang waktu itu yang kini aku isi dengan semua card yang pernah dia kasih secara tidak langsung. Benarkah ini Elang? Kata kata semanis ini, mawar mawar yang telah dia berikan tentu saja aku menyimpannya kini terlihat sangat layu bahkan kering. Beberapa ada yang sudah menghitam. Tapi rasanya masih terlihat indah.
Hari yang berlalu dengan cepat, sebagian besar aku habiskan untuk memikirkan Elang, mengunjungi rumah sakit dan pergi kemakam Afa dan bunda. Pastinya untuk Zafi juga. Handphoneku bergetar,ada pesan dari … Elang???

Buka email kamu…

Email? Aku langsung meraih laptop. Ternyata benar ada beberapa pesan dari Elang. Dia kan tahu aku jarang banget buka email.

Ini email dari  Elang tanggal 28 mei
Hay Ra? Apa kabar kamu? Aku malas ah kalau harus nelepon atau kirim kamu sms nanti kamu pasti GR. Oh iya Langit nanyain terus tuh. Kamu suka sama hadiah yang aku tinggal di kamar kamu? Aku harap jawabannya iya…

Yang ini tanggal 2 juni
Andai kamu ada disini Ra? Dulu segalanya baik baik saja tanpa kamu disini, kenapa sekarang rasanya tidak menyenangkan… Kenapa kamu sama sekali gak kabarin aku? Kamu gak sms, gak nelepon bahkan kamu gak bales email aku..
Pasti lagi sibuk sama Zafi ya??? Yaahhh patah hati deh…

Yang ini e mail darinya tanggal 6 juni
Ra? Ayo dong kenapa sih e mail aku belum kamu balas juga. Kamu gak tahu apa kalau aku kangen sama kamu!!! Oh iya ada salam dari Langit. Banyak banget sih fans kamu!!! Please bales dong Ra… 

Tanggal 20 juni
Aku gak tahu apa hasilnya akan baik atau enggak soal ujian itu. Aku harap aku masuk. Yang perlu kamu tahu perasaan ini belum bisa aku melepasnya… jadi biarkan ini sedikit lebih lama lagi ya Ra..

Tanggal 25 juni
Aku sayang kamu  Ra….


Tanggal 2 juli
Sampai kapanpun kayaknya aku belum bisa lepasin ini semua. Syal dari kamu selalu bisa ngobatin kangen aku ditambah album foto yang kamu kasih.. I miss u…

Tanggal 7 juli
Aku LOLOS Ra, Zira aku LOLOS!!!

Yang terakhir itu baru saja dia kirim sepuluh menit yang lalu. Saat aku mau membalas semua e mailnya tiba tiba handphoneku bergetar.

Zira!!! Aku tembus PTN.. Aku LOLOS Ra!!! Aku LOLOS!!!... Temui aku ditempat terakhir kali kita bertemu. SEKARANG!!!

Itu pesan dari Zafi. Rasanya hati aku langsung ikut bahagia mengetahui dia berhasil. Aku langsung menyimpan laptop dan bergegas menemui Zafi. Elang aku janji sepulang dari sana aku akan balas semua email kamu. Maaf aku harus pergi.
Tunggu! Aku gak mungkin hanya dengan tangan kosong bagaimanapun aku harus memberikan sesuatu  untuk Zafi. Kebun oppa mawarnya belum bisa aku petik. Baiklah aku akan membelinya. Diperjalanan aku mampir ketoko bunga dan membeli tujuh kuntum mawar putih dan cup cakes dadakan untuknya dengan ucapan” selamat! Kamu LOLOS!!!” dengan sebuah coklat yang dibentuk seperti anak laki laki dan sebuah nama perguruan tinggi yang dia inginkan.
Ah itu dia Zafi... Tunggu dulu! Ya ampun anak kecil itu ngapain ditengah jalan, astaga  mobil !!!. Aku dengan cepat berlari dan mendorong anak itu, setelah itu……


Diorama #Stage 23

Silahkan review cerita sebelumnya di stage 22 J


Apa suasana hati Elang sedang seburuk ini? Dia sama sekali tidak bicara. Bahkan setelah sampai di rumah. Dan ternyata oppa gak ada dirumah. Dimana? Kalau oppa sendiri gak ada dirumah untuk apa memintaku pulang cepat?. Aku lekas pergi ke kamar Elang.
“Lang? oppa mana? Bukannya kata kamu tadi oppa minta aku pulang ? Tapi kok aku gak lihat oppa yaa. Ya kan biasanya oppa minta aku pulang kalau ada hal penting.” Ujarku namun Elang sama sekali tak menanggapinya dan malah sibuk dengan laptopnya. “Elang?” tambahku cepat setelah dia sama sekali tak merespon ucapanku.
“emm—well tadi oppa emang minta aku buat kasih tahu kamu kalau kamu harus pulang. Oppa masih di Jakarta.” Ujarnya datar tanpa menunjukan ekspresi apapun.
“ya tentu aku pasti pulang. Tapi tadi kamu lihatkan aku lagi sama Zafi? kalau oppa emang masih di Jakarta ya udah untuk apa kamu maksa aku pulang tadi?”
“aduh Ra, tolong dong aku lagi sibuk. Yang jelas aku cuma ngikutin apa kata oppa kamu. Bisa keluar sekarang?” ujarnya
“ahhh baiklah…” timpalku dan menutup pintu kamar Elang.
Ada apa dengannya? Kenapa dia mulai menyebalkan sekarang. Setelah meminum segelas air mineral untuk menyegarkan pikiranku aku langsung pergi kekamar.
Loh kenapa ada mawar dan coklat lagi?dimeja belajarku?. Tapi dirumah ini hanya ada Elang dan oppa, apa … ah gak mungkin, paling seperti biasa mawar dan coklatnya ada  didepan pintu rumah dan Elang atau oppa menyimpannya dikamarku. Sekarang tulisan seperti apa lagi yang ‘dia’ tulis?

Senyum ini terlukis saat bayangkan semua hal tentangmu… entah mengapa aku tak pernah mengerti. Semua ini terlukis tanpa alasan. Jangan biarkan langit begitu gelap hari ini, bersinarlah Zira Stefyani Raharja…

Jujur aku senang dengan apa yang ‘dia’ lakukan, tapi semakin lama … ahh ini bisa membuatku gila. Siapa sebenarnya dia?... baiklah akanku coba hubungi ‘dia’…
Tak ada jawaban tak ada balasan. Oohhh… tak lama handphoneku bergetar aku kira dari’dia’ ternyata Zafi

Lain kali kita harus makan sampai habis ya.. emm apa kita bisa bertemu? Aku ada di taman tak jauh dari rumahmu.. hanya untuk meminta saran darimu.. datanglah

Zafi? Untuk apa dia ada ditaman, rumahnya sangat jauh dari sini. Hmmm baiklah baiklah aku akan datang. Aku tak membalas pesannya tapi aku langsung pergi. Sepertinya Elang masih dikamar, dan aku sepertinya tak perlu meminta izin untuk ini. Lagi pula siapa dia.
Sepanjang jalan aku memikirkan hal apa yang akan dikatakan, apa maksudnya meminta saran? Apa dia ingin curhat denganku. Biasanya juga lewat sms atau dia telepon. Eh apa itu Zafi? Sepertinya iya masih dengan baju yang sama saat terkahir direstoran tadi
“hay! Untuk apa ? kenapa gak kerumah aja sih? Lagian ini kan jauh dari rumah kamu Fi” ujarku dan duduk disampingnya
“tidak. Hanya saja tadi aku sedang dirumah seorang teman, tak jauh dari sini. lagi pula disini lebih tenang dan pemandangannya indah bukan?”
“oke alasan aku terima. Jadi mau  minta saran apa? Emm--  soal hati? Haha. Tapi sorry ya tadi aku pergi saat kita makan hehe. Well aku masih gak enak soal Feytsa nih.. apa dia marah ya?”
“oke bisa kita gak bahas soal Feytsa dulu? Aku janji besok disekolah aku bisa jelasin kedia. Oke.. menurut kamu emm tapi keep secret ya Ra”
“oke.. apa?”
“orang tua aku berantem lagi Ra. Aku—aku gak tahu harus kayak gimana. Apalagi kamu tahu kan Ra aku—aku selalu gak kerasan dirumah. Ayah.. dia rasanya gak pernah peduli sama aku Ra, apa yang aku lakuin apa yang aku raih dia gak peduli. Aku matipun mungkin dia gak akan pernah peduli. Ra aku harus kayak gimana? Aku pusing aku capek dan aku gak berbuat apapun untuk mereka—emmm--- supaya mereka gak berantem lagi. Menurut kamu aku harus kayak gimana?”
“apapun itu, satu hal yang kamu harus tahu kalau orang tua kamu gak pernah bermaksud untuk bikin pusing atau capek. Mungkin mereka lagi ada masalah. Biasalah dalam kehidupan rumah tangga semuanya gak berjalan mulus. Soal ayah kamu? Aku gak tahu harus bilang apa, karena kamu juga tahu akan ayah aku gak pernah ada dirumah, bahkan untuk sekedar menanyakan kabar aku aja itu frekuensi yang sangat jarang dan renggang. Tapi oppa selalu bilang jauh didalam hatinya ayah selalu mikirin aku, disetiap doa dan nafas ayah selalu ada nama aku. Gimana pun dia—dia itu ayah kamu Fi. Gak ada seorang ayahpun yang gak peduli sama anaknya sendiri. Dia acuh bukan berarti dia gak peduli, dia marah tapi jauh dalam kemarahannya ada rasa sayang, dia cuek tapi jauh dalam hatinya diselalu bertanya, dia gak peduli tapi jauh dari itu dia bangga. Ya aku tahu ini terdengar muluk dan basi tapi kamu harus percaya itu. Hmmm …”ujarku
“aku rasa itu gak muluk atau basi. Sama sekali enggak Ra, aku cuma bingung aja harus kayak gimana, karena semua yang aku lakuin rasanya salah gak ada satupun yang bener”
“hey apa ini Zafi? Ayolah salah atau enggak itu gak masalah yang penting kamu gak diem Fi. Lagi pula bukannya kamu sendiri yang bilang kalau keluarga itu segalanya, kalau kita gak bisa hidup tanpa mereka? Ohh apa waktu itu ,itu cuma basi basi aja? Hemm??”
“enggak lah Ra, itu bukan basa basi kok, itu tulus dari hati yang terdalam. Mungkin iya kamu bener Ra, ini hanya perasaan aku aja kali ya. Gimanapun dia ayah aku. Makasih banget ya Zira, kamu emang sahabat yang the best”
“emm sama sama, iya dong Zira gitu haha.. ya udah sekarang gimana kalau kita makan ice cream atau coklat”
“buat apa” tanyanya
“ahh.. kedua makanan itu bisa ngilangin rasa penat atau galau aku, mungkin itu manjur juga buat kamu? Haa.. tapi sebaiknya kamu pulang sekarang”
“pulang? Tadi ngajak makan gimana sih”
“kamu bisa makan itu dirumah. Ya udah gih sana..”
“kamu ngusir?”
“iya” jawabku datar dengan tertawa
“baiklah..”
Setelah dia antar aku sampai depan rumah dia tak mampir dan langsung pulang. Aku gak pernah lihat ekspresi wajahnya yang seperti itu, murung dan sangat sedih bahkan ketika dia sakit sekalipun. Fi.. Fi… sampai kapanpun selagi aku mampu akan selalu ada saat kamu butuh saat kamu perlu bantuan.
Setelah menelepon oppa menanyakan kebaradaan dan kabarnya aku hanya menonton televisi dan membalas pesan dari teman temanku. Biasalah soal tugas haha. Eh ada sms dari ‘dia’ lagi

Perlahan mawar itu kini telah bermekaran, benang benang itu kini telah terpintal dengan sangat indah, tetesan tetesan air yang mengalir kini terus dan terus membentuk sebuah genangan.. sama seperti apa yang aku rasa untukmu Zira Stefyani Raharja…

Baiklah ini sudah cukup, come on Zira anggap saja ‘dia’ tak pernah ada, jangan dipikirkan ini benar benar bisa membuatmu gila. Sebaiknya aku pergi tidur rutinitas sebagai pelajar esok akan dimulai.
Sepertinya perasaan Elang kini mulai membaik, setidaknya pagi ini wajahnya dihiasi oleh senyumannya sendiri. Huuuh lagi lagi mawar dan coklat itu, baiklah sebaiknya aku tidak membaca cardnya. Aku akan memberikan dua barang ini untuk Feytsa atas rasa bersalah yang sebenarnya tidak perlu atas perisiwa kemarin.
Setibanya dikelas ternyata Feytsa sudah ada disana, aku mulai menghampirinya dan mulai menjelaskan semuanya, sebenarnya ini tak perlu aku lakukan tapi ya sudahlah. Sedikit ada percekcokan tapi aku bisa mengatasinya dan dia akhirnya mengerti terlihat sangat mengerti aku bisa membacanya dari matanya dari mata seorang Feytsa.
Lega rasanya. Waktu selalu saja terasa begitu cepat seolah olah aku baru saja masuk dan menginjakan kakiku yang mungil ditaman kanak kanak, lalu melangkah kedapan menuju sekolah dasar dan sedikit berlarike sekolah menangah pertama. Ahh dan rasanya baru saja aku diospek di sekolah menengah atas dan kini Ujian Nasional benar benar ada didepan mata. Apa rasanya secepat itu? Apa aku tumbuh secepat itu? Bukankah 12 tahun itu waktu yang cukup lama? Menempuh jenjang pendidikan selama 12 tahun, bersosialisasi setiap tahunnya. Berteman dan bersahabat.
Baiklah aku harus mempersiapkan diri setidaknya aku tak mau tiga tahun aku menempuh semua ini di sekolah menengah atas akan hancur dalam beberapa hari karena aku tidak fokus pada saat ujian
Masih ada waktu satu bulan untuk itu. Aku, Saka, Gerza, Nifa dan Elang setiap harinya hampir rutin mengadakan belajar bersama untuk membahas ini dan itu. Mencoba mengingat setiap materi yang diberikan selam tiga tahun ini. Mencoba untuk bisa mengerti setiap SKL yang diberikan, materi yang akan muncul di ujian nasional tahun ini. Terkadang Vidya dan Feytsa juga ikut serta.
Lelah? Bosan? Tak ada kata untuk itu karena bukan hanya ujian nasional tapi juga seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri atau snmptn. Aku rasa ini ujian yang paling sulit. Bagaimana mungkin materi tiga tahun harus aku kuasai dalam jangka waktu sedekat ini. Hanya mencoba, berusaha dan berdoa. Latihan soal soal dari tahun tahun sebelumnya semakin membantu setidaknya aku tidak harus mempelajari materi secara penuh hanya sesuai SKL yang diberikan.
Apa? Benarkah? Waktu benar benar terasa cepat seperti roda yang terlus berputar tiada henti. Besok ujian nasional???
Perlahan namun pasti setiap pelajaran akhirnya terlewati, bahasa dan mafikibi semuanya berakhir semuanya selesai. Kini hanya tinggal menunggu hasilnya. Apa aku belum bercerita? Kalau aku juga salah satu peserta dari snmptn jalur undangan?  Jadi ada dua hal yang sedang aku tunggu soal hasil ujian nasional dan jalur undangan. Hanya berharap dan berdoa agar semuanya adalah hasil yang baik.
“hmm gak kerasa ya, semuanya .. masa putih abu akan berakhir” ujarku dengan meminum milkshake coklat dikantin sekolah
“iya, hanya tinggal menunggu dan belajar untuk snmptn tulis” timpal Gerza
“hmm kamu sih enak enak aja, tinggal ngasah sedikit pasti sukses, aku???” ujar Zafi
“sama aja kali Fi haha” protes Gerza
“emm Ra, pulang yuuk bosen nih” ujar Elang
“okelah. Semuanya kita duluan yaa” pamitku
“hati hati ya Ra, nanti kita belajar lagi oke, persiapan!” timpal Zafi
“sip” jawabku singkat.
Diperjalanan pulang Elang bilang sama aku kalau tiba tiba aja dia ingin kemakam Kiara dan dia menanyakan apakah aku keberatan jika menemaninya. Tentu saja tidak. Sebelumnya kita mampir ketoko bunga, Elang bilang dia ingin membeli beberapa kuntum bunga lily untuk Kiara. Sesampainya dimakam aku hanya mengikuti Elang dan tidak ada pembicaran sama sekali. Disamping kanan makam Kiara, Elang mulai bersimpuh dan menyimpan bunga yang telah dia beli tepat diatas makam Kiara.
“hay Key, aku bawain lagi bunga lily buat kamu. Oh iya mungkin setelah hari itu tiba aku gak bisa sesering sekarang untuk ngunjungin kamu. Ya kamu tahukan aku harus kembali. Oh ya Key ada seoarang gadis yang entah kenapa dia selalu bisa buat aku nyaman dan kerasan, dia terkadang memang sedikit menyebalkan tapi dia juga menyenangkan. By the way emm Key maaf ya aku harap setelah hari itu aku masih bisa untuk ngunjungin kamu” ujarnya “ Ra? Mau ke makam afa atau bunda kamu?” tanyanya mengalihkan pandangannya dari makam Kiara kearahku
“enggak.” Jawabku singkat
“emm baiklah!”ujarnya
Tak lama kita meninggalkan makam dan berjalan kearah taman tak jauh dari sana. Lama sekali kita terdiam duduk menikmati setiap jengkal yang ada ditaman ini. Merasakan anginnya, udaranya, semua hal yang ada disini. Sebenarnya aku masih sibuk memikirkan ucapan Elang untuk Kiara “gadis itu” dan “hari itu” lagi lagi dia membuatku bingung. Aku tanya orangnya aja langsung kali ya, biar gak penasaran juga.
“emm, Lang boleh nanya sesuatu gak?” ujarku kaku
“apa?” jawabnya singkat
“hari itu yang kamu maksud apa?”
“hari dimana aku akan meninggalkan kota ini. Kamu ingatkan kalau aku akan ada disini hanya sampai kelulusan tiba setelah itu aku menyusul Langit ke Bali”
Ah iya juga aku bahkan lupa kalau Elang hanya sampai kelulusan dan setelah itu dia akan kuliah di Bali, Langit malah pengen kuliah disini. Emm rasanya aku harus membuat sedikit perpisahan untuk Elang, bagaimanapun selama disini dia yang nemenin aku sama oppa.
“Ra!hey! kok bengong?” tambahnya, “oh kamu sedih kan aku mau pergi?” ujarnya
“eh apa? Enggak kok ya udah sana sekarang aja kalau bisa haha!” timpalku
“yakin?” goda Elang
“iya! Haha.. jangan dong gimanapun rasanya pasti akan berbeda tanpa kamu, dan soal gadis itu?dia siapa?” godaku
“S-E” ujarnya dengan mengeja menggunakan bahasa inggris.
“se…”ujarku memotongnya
“C-R-E” tambahnya
“secre..” aku yang nampak masih sangat bingung
“T” jelasnya dan mengalihkan pandangannya dariku
“secret??? Ahhh huuuff..” timpalku
“haha… akan ada waktunya untuk kamu tahu siapa dia, jadi sampai sekarang masih Zafi? Sebenarnya apa sih yang kamu lihat dari dia? Dia bahkan hanya menganggapmu sahabat. Lagi pula kamu tahu kan dia seperti apa?” ujarnya tenang
“sepertinya.. jangan pernah tanya kenapa, sampai kapanpun aku gak akan pernah tahu jawabnnya. ‘Sahabat’ tak hanya sekedar ‘hanya’, kamu tahu itu lebih dari sekedar ‘hanya’ Elang…” ujarku
“baiklah baiklah.. percuma berdebat, kamu akan terus membelanya kan? haha.. ayolah kita pulang!” ujarnya
“oke”jawabku singkat.
Kita mulai melangkah perlahan kearah motor hitam milik Elang.
Sudah beberapa hari ini orang orang yang biasa belajar bersama dirumahku sering kerumah untuk membahas beberapa materi dan soal, terkadang hanya aku bertiga dengan Zafi atau mungkin hanya berdua karena Elang harus pergi mengantar oppa atau saat dia malas.
Aku sangat bisa merasa biasa dengan Zafi saat belajar tapi saat kita sama sama terdiam tak sedang melakukan hal apapun rasanya hatiku meloncat loncat dan dekup jantungku masih berdebar kencang. Entahlah apa dia bisa mendengarnya atau tidak. Aku harap tidak sama sekali.
Tiba saatnya untuk kelulusan tiba, aku dan Elang bersabar sampai pak pos mengantarkan sebuah surat atau lebih tepatnya dua buah surat untuk kami, menunggu seseorang yang akan menekan bel. Bagaimanapun rasanya belum tenang jika surat itu belum ada ditanganku. Tepat pukul 11.00 siang seseorang dengan motor berwarna oranye tiba dirumah dan membawa dua buah surat. Dan saat kami berdua membukanya “LULUS”…. YIPPPYYY!!! Aku dan Elang sama sama bersorak, oppa juga turut menikmatinya.
Hari ini masih ada yang aku tunggu, yaa pengumuman jalur undangan yang akan diumumkan secara online jam lima sore nanti berharap aku tak perlu mengikuti ujian tulis keperguruan tinggi. Elang, Zafi, Saka dan Gerza juga menunggu hal yang sama denganku.
Rasanya senang karena teman temanku mengabariku soal kelulusan mereka. Untunglah sekolah kami lulus 100% jadi semuanya bersorak gembira hari ini. Tapi tenang sepertinya kami semua tidak bertindak arogan seperti mengadakan konvoi atau melakukan aksi corat coret jadi semuanya aman terkendali.
Kini aku dan Elang sama sama berada didepan laptop kami masing masing diruang tengah. Perlahan mulai mengetik alamat web untuk melihat hasilnya. Setelah muncul jendela utama kita sama sama melempar pandangan satu sama lain dan mulai memasukan nomor pendaftaran juga tanggal lahir untuk dapat melihat hasilnya dan aku… “Selamat Anda Lolos Seleksi” ahhh dunia berpihak padaku hari ini. Terima kasih Ya Allah..Alhamdulillah.
Aku hanya tersenyum kecil namun penuh arti, dan kemudian mengalihkan pandanganku kearah Elang dengan ekspresi yang seolah bertanya ‘bagaimana?’. Dia hanya menggelekan kepalanya ringan mengisyaratkan secara pasti dia tidak mendapat kebahagian yang sama denganku.
“masih ada ujian tulis!” ujarnya bersemangat
“jadi kapan ? ujianmu pasti di Bali kan?” ucapku lirih
“hey, itu pasti! Pendaftaran akan ditutup lima hari lagi jadi aku akan pulang sekitar tiga hari lagi Ra”
“secepat itu?”
“sepertinya, apa kamu tidak rela kalau aku pergi dari sini? Haha tenang saja Ra aku pulang kesana untuk mendaftar saja aku masih punya sekitar 2 minggu sampai ujian dilaksanakan, beberapa hari sebelum itu aku akan kembali untuk mengemasi semua barangku disini dan pamit pada Kiara dan orang orang dirumah ini”
“semuanya akan kembali seperti dulu, dirumah ini hanya akan ada aku dan oppa. Baiklah sebelumnya sangat tidak apa apa tanpamu dan sepertinya bisa kembali seperti itu lagi haha. Oh iya.. ini! Ambilah sedikit kenang kenangan dariku dan oppa aku sudah menyiapkannya”
“apa ini? Emm aku suka boxnya!” ujarnya riang
“bukan boxnya Elang tapi sesuatu yang ada didalamnya!” keluhku
“iya iya baiklah! Gantungan handphone? Syal? Dan jam tangan. Hey tunggu apa ini? Album foto?”
“untuk gantungan handphone dan syal aku sendiri yang membuatnya jadi maaf kalau sedikit aneh, hehe aku belum ahli merajutnya. Itu jam tangan dari oppa. Dan album foto itu, itu semua foto yang kita lakukan selama kamu disini”
“oh ya sangat terlihat jelas kalau ini buruk. Tapi aku sangat sangat menyukainya. Terimakasih. Wah wah apa sebanyak ini kenangan aku selama berada disini?” ujarnya
“aku rasa lebih dari sekedar itu. Haha”
Ternyata hanya aku dan Saka yang mendapatkan satu kursi di universitas melalui jalur undangan. Zafi dan Gerza tidak mendapatkannya.
Meski sebenarnya aku tak perlu lagi untuk membuka buku buku ini lagi. Tapi aku masih tetap melakukannya hanya sekedar membantu Zafi atau Elang untuk belajar.
Besok Elang akan kembali ke Bali.

Datanglah malam ini ditaman dekat rumahmu.. dan kamu akan tahu siapa aku. Setelah isya temui aku Zira..

Diorama #Stage 22

Silahkan review cerita sebelumnya di stage 21 J


Aku membalasnya dengan menanyakan siapa dia. Tapi tak ada balasan. Kata katanya cukup manis untuk bisa membuatku tersenyum.
“Zira……” terdengar suara teriakan dari bawah, sepertinya itu Elang, ooouu kenapa aku masih di sini, aku bisa terlambat
“maaf, hehe ayo!” ujarku
“ini!” ucap Elang dan memberikan setangkai mawar putih dan coklat yang sama seperti kemarin, ada cardnya juga
“jadi ini dari kamu?”tanyaku memastikan
“bukan!” jawabnya pasti
“ya sih gak mungkin kamu juga, sejak kapan kamu baik, dan bisa menulis kata kata yang manis. Jadi kamu bisa kasih tahu siapa?” tanyaku
“entahlah, sudah ada depan meja luar dekat pintu, aku lihat ada namakamu, jadi mungkin itu untukmu. Ahh sudahlah ayo naik” bentaknya
“iya iya baiklah!” ujarku sambil memasukannya kedalam tas, dan membaca cardnya

Pelangi pelangi itu bersinar dengan semua warna ketulusannya tepat di wajah dan hatimu
Aku hanya terpaku tak tahu harus berucap, kau yang manis dan lembut seperti coklat ini…
Untukmu Zira Stefyani Raharja

Dia tahu nama lengkapku, jelas dia mengenalku, tapi tak ada nama. Hmmm ini kedua kalinya. Apa dia juga yang memberiku pesan tadi. Nomor siapa ini?
Sesampainya disekolah aku melupakan sesaat soal kiriman kiriman ini, biarlah cepat atau lambat aku akan mengetahuinya. Aku harap..
Semenjak kepergian Zoya aku belum lagi menginjakan kaki dirumah sakit. Baiklah mungkin weekend ini. Mungkin. Bagaimanapun aku harus bisa fokus.
“jadi kamu ambil jurusan kependidikan?” tanya Gerza
“tentu, itu salah satu cita cita kan, sebenarnya aku juga tertarik dengan kedokteran di Unpad yaa setidaknya semenjak aku mengenal Vea dan anak anak yang lain. Tapi aku gak yakin, kamu tahu aku gak suka biologi dan medis? Aku juga tidak begitu menyukainya” ujarku
“lagi pula kamu lebih cocok menjadi seoarang guru kan? Haha” ujarnya
“kamu sendiri?”
“entahlah, aku masih galau, ITB, UI atau UNPAD. Entah mana yang tepat”
“haha baiklah, kamu cukup mampu dan bisa untuk meraihnya bukan? You are so smart! Jadi gak akan terlalu ada kesulitan”
“haha tetap saja, SNMPTN itu berbeda Zira”
“iya sih, hehe gimanapun harus tetap berjuang keras yaa”
“eh apaan tuh dikolong meja kamu?” tanya Gerza, “wah wah wah penggemar yaa. Cieee” goda Gerza
“mungkin haha”
Ini mawar lagi, namun tanpa coklat hanya mawar putih dan sebuah card berwarna biru

Ketika aku melukis diantara ribuan bintang yang terpendar, ternyata yang terlukis hanya senyumanmu
Ketika aku mengukir diantara indahnya warna pelangi, ternyata yang terukir hanya bayanganmu
Semoga kamu suka Zira Stefyani Raharja

Suka? Yang benar saja menurutku ini indah.
Selama dua minggu penuh aku selalu mendapatkan mawar dan coklat yang sama dan lengkap dengan tulisan computer yang manis. Sms juga selalu aku terima, namun setiap aku membalas dan mencoba untuk meneleponnya selalu tidak ada reaksi. Benar benar secret admire. Hmmm.
Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit karena memang sudah lama aku tidak kesana. Hari ini Zafi juga menemaniku, tadinya Elang akan ikut namun dia diminta oppa untuk mengantarnya ke Jakarta. Jading hanya aku dan dia.
“hmmm anak anak itu menyenangkan bukan, sangat cocok untuk refreshing ditengah tengah beban soal ujian. Benarkan?” ujar Zafi
“iya, itu salah satu alasan untuk menghilangkan rasa penat. Menyenangkan, sangat...”ujarku
“oh iya kamu sudah tahu soal dia yang.. emm secret admire?”
“belum, tapi sampai sekarang dia masih selalu melakukan hal yang sama, coklat, mawar, sweet card, sms” ujarku
“pernah jatuh cinta?” ujarnya sambil merebahkan badannya kesandaran bangku taman sambil menyilangkan tangan.
“mungkin iya (denganmu ), kenapa? Kamu sedang jatuh cinta?” tanyaku memastikan dengan pandangan kearahnya, dan dengan hati yang masih berdebar, apa dia bisa mendengarnya? Oohhh
“sepertinya. Bagaimana menututmu? Bagaimana rasanya jatuh cinta?”Ujarnya
“kamu tahu, aku geli rasanya mendengar kata itu ‘jatuh cinta’ benar benar menggelikan” ujarku
“oh ya? Bagaimana menurutmu soal.. jantung yang berdetak lebih cepat saat kita melihatnya, kaku dan perasaan ingin menjauh saat bersamanya, tapi saat jauh rasanya ingin sekali untuk melihatnya. Jika bertanya kenapa dan bagaimana? Rasanya tidak pernah ada jawaban. Bagaimana menurutmu?” ujarnya
“ohh kamu benar benar sedang dimabuk cinta Zafi, disaat seperti ini kamu masih bisa merasakannya? Disaat kita akan menghadapi dua ujian besar? Yang benar saja”
“yah, rasanya memang menyebalkan, tapi seberapa keraspun aku mencoba untuk tidak memikirkannya, bayangannya selalu muncul tiba tiba. Aneh bukan?”
Perasaan seperti itulah yang aku rasakan Zafi, persis seperti itu…
“kamu tahu, jika semua ini ada kesalahan maka ini adalah kesalahan terindah yang pernah aku perbuat” tambahnya
“wah wah wah, aku sepertinya bisa memahaminya. Jadi siapa gadis ini? Gadis yang membuatmu seperti ini?” ujarku
“rahasia dong, haha” tawanya
“baiklah, saat kamu ingin bercerita, memberitahu siapa dia, dia yang telah kini ada dihatimu. Carilah aku! Sahabatmu!” ujarku
“sahabat?”
“ya persis seperti yang selalu kamu katakan”
“benar, sahabat…” ucapnya tenang, “baiklah menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang? Selain memberitahu gadis itu kalau aku sangat menyukainya? Karena aku sama sekali belum siap untuk itu” tambahnya
“payah… tapi selama kamu bisa lebih dekat dengannya mungkin akan lebih baik!”
“yaa aku selalu merasa sangat sangat bisa jauh lebih baik dan nyaman saat bersama dia, dia yang aku suka” ujarnya dengan seulas senyuman diwajahnya, sangat tulus.
“haha, senang rasanya bisa melihatmu bahagia seperti ini. Bukankah gadis itu sangat luar biasa bisa membuatmu seperti ini haha!” godaku
“mungkin. Ayolah perasaanku sedang baik hari ini. Aku teraktir sahabatku makan bagaimana? Mau?”
“tak akan menolak!” ujarku dengan seulas senyum.
“bagaiman dengan Langit? Kamu suka sama dia?” tanyanya
“aku? Dan Langit? Bayangin aja bagaimana aku dan Elang. Sama seperti itu, Langit dia memang menyenangkan dan manis tapi untuk sesuatu yang lebih. Tidak. Ayolah aku lapar Fi, katanya mau teraktir, sekarang?” tanyaku riang
“oke” jawabnya singkat
Setelah selesai memesan, kita hanya berbincang ringan soal ujian nasional dan ujian untuk PTN. Tak lama..
“Zira Zafi?” sahut Feytsa
“hay Tsa, mau gabung?” tanyaku sungkan, kau tahu rasanya tidak menyenangkan saat ketahuan makan berdua dengan mantan sahabatmu. Terdengar seperti ‘penghinat’. Walaupun aku tahu semua ini tak terlihat seperti itu
“tak apa, aku cari tempat makan lain, daahh” ujar Feytsa yang langsung pergi begitu saja. Sudahlah mengejarnyapun akan percuma.
Hmmm. Begitu terlihat jelas dari matanya, dia sedih, kecewa, marah atas apa yang telah dilihatnya. Tapi aku sendiri tak tahu harus berbuat apa. Raut wajah Zafi terlihat datar. Apa dia benar benar tak berperasaan bagaimanapun Feytsa adalah… ahhh sudahlah Zira ini sama sekali bukan urusanmu. Tak lama handphoneku bergetar.
“sorry, bentar ya Fi” ujarku dan mengangkat telepon, dia hanya mengangguk pelan
“halo, ada apa Elang?”
“kamu dimana? Kenapa gak ada dirumah sakit?”
“oh aku lagi makan, gak jauh dari rumah sakit kok, tempat makan seafood,”
“oh iya aku tahu itu dimana, sama siapa? Zafi?”
“iya”
“tunggu aku kesana”
“tapi..” ahhh teleponnya terputus.
“siapa? Elang Ra?” ujar Zafi
Aku hanya mengangguk pelan, dan bilang padanya kalau Elang akan menyusul kesini. Sedikit bayangan akan kejadian tadi saat Feytsa muncul benar benar menganggu pikiranku. Bagaimanapun aku tahu perasaannya, aku bisa merasakan kebenciannya akan apa yang dilihatnya tadi. Ehh handphoneku bergetar lagi ada sms.. dari.. secret admire. Hmmm

Tunggu dan lihatlah cahaya bintang dimatamu tak akan pernah padam. Tunggu dan aku akan ada bersamamu..
Zira Stefyani Raharja..

Sebenarnya siapa dia? Aku balas dan bertanyapun pasti tak akan diresponnya. Tapi semakin lama ini membuatku takut. Bagaimana tidak rasanya seperti ada yang menerormu namun dengan kata kata yang sangat manis. Apa dia ada disini? Apa dia selalu ada didekatku? Pertanyaan yang selalu muncul ketika aku mengingatnya.
“kenapa?” tanya Zafi
“nothing. Tuh pesenannya udah datang”
“kita gak nunggu Elang?”
“gak usah aku udah laper.hehe”
“baiklah”
Kita terdiam satu sama lain. Sama sekali tak ada perbincangan saat makan. Tak berapa lama Elang tiba dan dengan wajah yang kurang mengenakan. Ada apa dengannya? Dia memaksaku untuk pulang alasannya karena oppa ingin aku pulang. Biasanya kalau ada apa apa oppa pasti hubungin aku. Tapi rona wajah Elang benar benar menyebalkan.
“dia lagi makan Elang? Gak bisa tunggu sampai kita selesai?” ujar Zafi sambil menahan tangan Elang dan menarikku
“dia harus pulang. Sekarang!” timpal Elang
“sudahlah cukup. Fi aku sebaiknya ikut Elang karena aku yakin dia gak bohong soal oppa yang minta aku pulang. Maaf ya”
“tak masalah. Baiklah. Hati hati ya!” ujar Zafi
“pasti. Makasih untuk teraktirannya!” ucapku dan pergi.