Tampilkan postingan dengan label Secret Message. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Secret Message. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2016

Patah

Kata kata itu ada, sebuah patahan kata yang pada akhirnya mematahkan
Mematahkan bagian sayap, hingga akhirnya kesulitan untuk terbang lagi
Mematahkan hati, hingga akhirnya luka yang tersisa
Mematahkan senyuman, hingga akirnya hanya ada kepedihan
Bukan prihal siapa yang mematahkan atau siapa yang dipatahkan
Sebab alasan hanyalah formalitas belaka
Sebab bukan siapa tapi mengapa
Karena kata mengapa berarti saling melukai
Karena kata mengapa adalah sebuah titik awal dan akhir
Yang ku tahu
Selalu ada akhir disetiap awal
Selalu ada awal disetiap akhir
Ini aku yang tengah menyaksikan orang-orang yang terpatahkan
Hanya bisa terdiam tanpa menenangkan 

Minggu, 01 Mei 2016

Aku Kamu

Aku terkesima, pada bulir-bulir rindu yang terkirim lewat angin pagi ini
Aku terkesima, pada setiap partikel doa yang terkirim disela keheningan malam
Aku terkesima, pada setiap celotehan yang terlayangkan dalam sela waktu yang padat
Ya.. ku bilang... aku terkesima dan aku suka itu
Terima kasih ^^ 

Selasa, 26 April 2016

Jemariku asing

Banyu, lama tak mengudara lagi bersama. Ada kepingan acak yang merusak ingatanku, aku rasa aku amnesia, pada beberapa kotak waktuku terdahulu. Banyu, jika semu adalah nyata, maka fakta apa yang tak bisa kusentuh? semuanya hanya menjadi abu dalam ingatan. Aku, aku ingin kembali mengingat, sebuah masa dimana aku tak harus memiliki alasan untuk tersenyum, aku ingin kembali, pada sebuah waktu dimana rinaiku adalah bahagiaku. Banyu, saat melintasi waktu, yang ada hanyalah jejak tak berpijak, sebuah langkah tanpa bayangan. Arah angin mengelabuiku, hanya sebuah sentusan magis, semuanya kabur dan aku hanya terdiam dalam sepi. Berapa banyak waktu lagi? aku tak ingin ahu dan tak ingin peduli. Banyu, kembalilah dan bawakan aku sepasang langkah itu lagi.

Sepasang langkah

Siapa sangka jika sepasang langkah akan mempengaruhimu
Karena sepasang langkah, kau ikut tersenyum
Karena sepasang langkah, kau ikut menghitung waktu
Karena sepasang langkah, kau bahkan menjatuhkan rinaimu
Siapa sangka jika sepasang langkah begitu berarti bagimu
Karena sepasang langkah membuatmu ingin kembali
Karena sepasang langkah membuatmu memcintai duniamu
Karena sepasang langkah membuatmu ada
Siapa sangka, kau akan dibuat jatuh karena sepasang langkah
Kita seperti dua buah garis sejajar
Langkah kita sama
Langkah kita beriringan
Namun tak pernah dipertemukan
Tak apa, aku tetap menyukainya
Bagiku itu adalah sepasang langkah ajaib
Terima kasih karena menjadi sepasang langkah yang bisa kulihat
Karenanya, aku lebih menyukai hidupku
Karenanya aku suka dengan dunia sekarang
Dunia yang sama namun berbeda

Senin, 14 Maret 2016

Mr N

Hallo Mr N, masih ingat awal jejak kita ada di satu lantai yang sama? kuyakin pasti sudah lupa, jangankan untuk mengingat, rasanya bertukar namapun tidak. Oh iya akhir-akhir ini ramai, jika harus ku tanggapi, akupun tak tahu bagaimana harus bersikap. Tapi Mr N, tahukah? ada yang berbeda darimu, dan aku tak menyukai apa yang berubah darimu, ini berbeda yang tidak menyenangkan. Semacam kau menciptakan jarak, juga orang terdekatmu. Apa yang salah? Apa aku begitu merepotkan.. atau.. sungguh aku tak ingin banyak berspekulasi, rasanya hanya sedikit menyebalkan. Mr N selamat atas jatah usiamu yang berkurang satu tahun ini, terlambat memang, tapi doa terbaikku untukmu. Baiklah terlepas bagaimanapun sikapmu yang mulai asing, terima kasih atas waktumu, keheningan yang menyenangkan, aku tak tahu apa kau bisa melihat caraku tersenyum malam itu? rasanya aku malu sendiri jika memang benar. Ah ya sikapku yang berbeda jangan kau anggap aneh yaa, apapun itu aku mulai menyebutmu dalam doaku. Aku tahu kaupun tahu, kita berbeda, itu tak masalah, yang aku tahu aku menyukainya, suasana saat ini. Selamat malam :) 

Sabtu, 26 September 2015

Dik, untukmu...

Hari ini hanya ingin bercerita saja tak apakan? Di sela rehat dari tugas kuliah yang sudah mendekati DL, bisanya menghibur diri dengan bercerita, kebanyakan lewat tulisan, saat ini tak sengaja menemukan sebuah halaman yang tak asing siapa penulisanya. Seolah sedang mendengarkan setiap ceritanya. Tak bisa kubilang itu adalah cerita keluhan, nyatanya ia tak mengeluh sama sekali, kebanyakan ia justru mengambil pelajaran dari kisah hidupnya. Kata "kasihan" jelas bukan kata yang tepat, ini untuk semua adik-adikku, yang jelas tak bisa kusebutkan satu persatu. Jika bisa, kakak ingin mengenalkan kalian pada mimpi dan membuat kalian semua jatuh cinta karenanya, dik, tahukah? untuk usia yang sering kusebut "bocah" nyatanya kalian lebih siap menghadapi hari esok, nyatanya kalian lebih dewasa, nyatanya kalian selalu berhadapan dengan kenyataan. Sedangkan kakakmu ini terlalu banyak menatap mimpi, kadang takut menghadapi hari esok, kepalang percaya diri bahwa hari esok akan selalu ada, dan tak jarang menghabiskan waktu untuk mengeluh dibandingkan memperbaiki diri. Dik, tahukah? kalian nayatanya lebih unggul soal kehidupan, kakak tahu kalian juga memiliki mimpi mimpi yang indah dan luar biasa, entah itu menjadi polisi, tentara, dokter, guru dan hal hal hebat lainnya. Kalian kadang hanya terlalu sibuk untuk bisa menghasilkan, untuk makan, sekolah dan jajan. Dik, salutlah kakakmu ini pada kalian, tapi bisakah sesekali kalian tengok mimpi-mimpi kalian? Menjadikannya alasan untuk terus bernafas, menjadikannya alasan untuk tak pernah lelah belajar. Maafkan kakakmu ini yaa, yang belum bisa utuh, yang katanya peduli tapi tak melakukan apapun, yang katanya sayang tapi kebanyakan hanya sibuk sendiri, yang katanya selalu rindu tapi singgah untuk jumpa seringnya sulit. Kalian punya rumah untuk berlindung, jalanan menjadi tempat kalian bermain dan menjadi modal untuk hari esok, sekolah menjadi tempat kalian untuk belajar, bisakah mimpipun menjadi rumah bagi kalian? yang kelak langkah-langkah kaki kalian akan sering berpijak disana, tempat yang akan kalian tuju, tempat kalian untuk pulang pada akhirnya dan banyak menghabiskan waktu disana. Kakak tahu kalian adalah jagoan-jagoan hebat yang tak takut bermimpi dan berani wujudkan impian kalian, kelak inginlah mata ini melihat kalian menjadi orang-orang hebat dimasa depan yang gemilang. Fighting !

Rabu, 23 September 2015

Surat yang tersesat

Ceriamu memang tak lagi dapat terlukis dengan jelas dalam kanvas, namun tahukah? sama seperti angin, mungkin aku tak bisa melihatnya ketika ia datang, namun masih bisa kurasakan. Ini seperti sesuatu yang tak dapat kau ukir lalu kau bekukan dengan sebuah lensa kamera, seperti menggerakkan jarimu diatas permukaan air, jari jarimu bergerak membentuk sebuah pola namun tak bisa kau lihat hasilnya, lagi… tak ada bukan berarti tiada. Awalnya hanya sebuah kertas kosong, tanpa ada irama yang membuat jemariku tergerak untuk menumpahkan tinta kedalamnya, boleh kubilang jika itu dulu?
Puitis, itulah dirimu yang didefiniskan oleh susunan susunan abjad yang kau gulirkan dalam rasa, sederhana namun jauh dari itu, sederhana yang tak pernah menjadikannya sederhana. “Tersesat” ingatkah? jika ingatanku mengingatkanku dengan tepat itu adalah sebuah kata pertama yang kau suka dariku, hingga tak lama detik waktu dalam arlojimu berselang, sebuah karya dalam melodi sastramu muncul di kamar pribadimu. Jika bukan dan kau tak kebertan, izinkan aku untuk menganggapnya seperti itu, karena tulisanmu adalah penyulut api untukku dalam kebaikan abjad.
Romantis, yaa… puitis yang romantis tak pernah hilang makna, beralaskan ketulusan adalah pondasi dalam setiap bulir waktumu. Aku tahu, waktu memang tak lagi sama, mungkin iramanya yang berbeda, atau ada beberapa irama yang hilang, atau mungkin iramanya mulai mengasingkan diri dariku, hingga tak lagi aku merasa. Puitis… romantis… tulus, masih kugunakan koma disana, karena tak berhenti disana sosokmu selalu kukagumi.
Sungguh, ada waktu yang teramat ajaib untukku, saat Tuhan mengaturkan lingkaran yang sama. Hangat dan menyenangkan, tambahan dalam koma, seperti dalam sebuah drama yang pernah kusaksikan, hangat akan membuat kenyamanan, dan menyenangkan akan menjadi sebuah pelengkap. Apa aku terlalu banyak membual tentangmu? Kurasa tidak, saat ini aku tak dapat menuliskan kata yang tepat untuk menggambarkan dirimu, sehingga kepingan acak ini tak bisa membuatnya utuh. 
Rinduku memang kadang kusampaikan, tapi terlalu banyak yang tak dapat kusampaikan langsung. Kau pernah menjadi perantara dalam mengatakannya padaku, potongan kata yang tak sama, namun ini yang ada dalam kotak memoriku “Untuk apa bilang rindu, jika bertemupun tidak” ahhh yaa, aku tahu kurasa tidak seperti itu bukan? Namun akankah kerinduanku tersampaikan? karena yang aku tahu, rindu tahu kemana dia harus pergi
“Kak” terima kasih, telah menginsipirasi, maafku terlalu banyak untuk disampaikan, jadi bisakah kuringkas saja ? Tetaplah dengan caramu, puitis, romantis, tulus, ceria, hangat dan menyenangkan, tentu dirimu juga pintar dan cerdas, kak… tetaplah bercerita dalam kamar pribadimu, karena hanya lewat pintu itulah aku setidaknya bisa merasakan hadirmu, dan kembali bisa merasa. Terima kasih untuk waktumu yang pernah singgah, sangat menyenangkan ketika berada dalam waktu yang sama denganmu. Kerinduanku kini akan berwujud doa, aku tahu Tuhan akan menyampaikannya, mungkin lewat angin, hujan atau langit malam yang tengah kau tatap. Untukmu penikmat kopi, ini bukanlah surat yang puitis apalagi romantis, tetaplah cantik, haha… ku tahu kau akan tetap cantik meski usiamu kelak masuk 70-an  karena kecantikan hatimu adalah abadi yang selalu dibentengi dengan ketegaran dan ketulusan. Salamku untukmu yang selalu sayang pada malaikat malaikat kecil yang kerap kau temui. Semoga Tuhan akan kembali mengatur waktu kembali.
Kutahu surat ini akan tersesat, namun jika kelak kau berkunjung ke kamarku, kuharap kau mengetahuinya, jika surat ini kutujukan untukmu… 

Senin, 08 Juni 2015

Kau hanyalah kau

Mataku tak bisa ku kontrol
Hanya terus memandang layar yang sama
Layar yang bercerita banyak tentangmu
Hai... Bagaimana kabarmu?
Masih serukah dengan segala ceritamu?
Aksaramu kutunggu yaa...
Tak sabar, seolah hanya jeda
Bolehkah kutulis biografi tentangmu
Pasti sangat menyenangkan..

Minggu, 07 Juni 2015

Kau (lagi) pengagum bangsa

Deretan aksaramu bertutur lagi, ahh tidak hanya aku yang baru melihatnya. Hai pengagum bangsa masihlah kau dengan dirimu sendiri, sederhana yang tidak pernah sederhana. Kau tahu jika aksaramu sebuah lilin untukku, mmm... cukuplah hanya menatap sebuah lilin dengan api kecilnya disaat aku marah atau saat aku dipermainkan oleh emosi negatifku, cahaya itu seketika akan medamaikan, cahaya yang akan selalu bersinar ditengah ruang gelap. Cahaya lilin seolah menjadi pengganti hal ajaib pertamaku, bintang... Sulitlah melihatnya kini, karena langit selalu saja telanjang, hingga kutemukan cahaya lain, ia hangat dan berpendar indah dalam gelap, entahlah seolah hal ajaibku yang lain. Penganggum bangsa, boleh kutanya ini "Kau, pernahkah merasa terpuruk?" Aku yakin pernah, tapi pada sisi yang lain, kau selalu menanggapinya dengan pikiran idealismu, dengan senyuman dan dengan pandanganmu yang tak pernah bisa kuprediksi. Banyak aksara yang kubuka dari rumahmu, ada barikade abjad yang kusuka "... tak terlihat bukan berarti tak ada". Kau tau, aku juga suka sunyi, kau bilang "... orang yang tak pernah bisa sendiri, tak bisa merasakan nikmatnya sunyi". Kesunyian adalah obat untukku, orang lain mungkin akan mengatakannya dengan buruk, tapi tahukah aku suka sunyi karena disitulah aku merasa penuh da tak sendirian, penuh akan angan, mimpi, harapan atau sejenisnya, menaruh penuh pikiranku yang hanya tak kutujukan untuk diriku sendiri. Hai kau sang pengangum bangsa, teruslah mengaksara, rasanya ingin beradu aksara denganmu, tapi sepertinya aku akan kalah, aksaramu hanya... mmm terlalu sempurna? sampai aku dibuat merinding dibuatnya, sesekali tersenyum dan tertawa atau hanya ekspresi kagum yang muncul dengan sendirinya tanpa diketahui alam sadar. Kau pasti sibuk sekali ya? dalam sibukmu masihlah kau peduli, dalam sibukmu masilah dirimu menjadi dirimu. Rumahmu itu akan sering ku kunjungi, tak apa kan? untuk selalu melihat aksaramu, yang akan menjadikanku iri dan mengikuti perlahan... 

Rabu, 03 Juni 2015

Lingkaran baru

Belum lama ini aku memasuki sebuah lingkaran baru, tak sama seperti si hijau dan si merah, ini dia.. si biru...
Masihlah dalam satu langit yang sama, didalamnya ada kasih yang tertebar, hanya memang ada beberapa hal yang berbeda.
-Kesan pertama?-
Emmm, entahlah, cukup menyenangkan, bagaimanapun aku selalu tertawa disana, terlalu banyak malah sampai perutku sakit.
-Apa yang membedakan?-
Yang membedakan? yang ada didalamnya bukanlah malaikat malaikat kecil, tapi mereka adalah pembuat sayap malaikat, sepertinya memang bukan kata yang tepat, tapi kurasa cukup mewakili peran mereka disana.
-Kau menyukainya?-
Ya.
-Berapa lama akan tinggal?-
Selama yang aku bisa, aku harap 3 lingkaran yang aku masuki bisa terhubung satu dengan lainnya, menjadikannya sebuah segitiga yang utuh, pasti akan menyenangkan.


Sebuah Lingkaran

Entah lingkaran ke berapa yang kumasuki, awalnya lingkaran ini begitu berbeda, begitu menarik perhatian, sampai langkah ini tertarik kedalamnya, didalamnya hangat sekali, sampai tak ingin beranjak kemana mana. Lingkaran yang begitu syarat akan kasih, menerima dan memberi, saling bertukar apapun itu. Lingkaran dimana hatiku tertanam disana, sampai tak pernah berhenti untuk membicarakannya. Sudah berapa lama kah aku disana? menetap dan tinggal?. Sebuah lingkaran yang ketika didalamnya, disudut lain lingkaran itu aku hanya bisa tersenyum, dimana aku selalu mendapatkan bahagia yang sederhana. "Kak" sapaan yang begitu hangat, rasanya hanya... ada sisimu yang sangat kau suka, yang hanya bisa kau temui saat kau ada dalam lingkaran itu. Namun entah... rasanya kali ini berbeda, lingkaran itu seolah menjadi tempat diamana aku ingin menghindar untuk sementara waktu, karena ada ketidaknyamanan yang muncul begitu saja, mmm... mungkin karena kesalahan yang aku perbuat, tapi entahlah akupun tak mengerti. Ketidaknyamanan yang muncul perlahan, membuatku kehilangan sesuatu. Kebahagiaan itu masilah ada, bertambah malah, terutama bersama mereka jagoan jagoanku, bagaimanapun aku tak ingin melangkah pergi, rasa yang kusimpan disana masih dalam, selalu ada kerinduan yang muncul disana, awalnya selalu kuungkap tapi sekarang tak bisa, sulit sekali. Entah aku yang mulai terasingkan atau mulai mengasingkan diri, jangan tanya, hanya saja akupun tak menemukan jawabannya. Hanya ada wajah yang mulai kulupa, bagaimana wajah wajah itu selalu tersenyum saat melihatku, menebar banyak cerita, dan selalu disampingku, sepertinya aku kehilangan mereka, mmm... Tapi, aku tahu mungkin aku yang berlebihan, mungkin tak ada yang berubah, hatiku... akan kupastikan tetap sama. Wajah wajah malaikat malaikat kecil itu yang terpenting, wajah yang mungkin tak selalu tersenyum, tak manja, bahkan menghindar, tak apa, tak mudah memang mendapat hati mereka, tapi kebanyakan hanya ada bahagia yang tak bisa kuurai, mereka adalah mereka yang selalu kurindukan, meski jahatnya ada nama yang tak bisa kuingat, wajah yang tak kukenali. Tapi sayang tetaplah sayang bukan? Satu yang kurahap tak hilang, hatiku disana... Tak peduli siapa yang terasingkan dan mengasingkan, mereka tak akan pernah asing untukku, aku masihlah ingin ada dalam lingkaran itu sampai mereka sendiri yang membuat lingkaran ini menjadi kosong dan berpindah pada sebuah lingkaran yang yang jauh lebih indah.

Jumat, 01 Mei 2015

Surat keluhanku, tak apa kan?

Terlalu malu untuk mengeluh dihadapan kalian, terlalu pengecut untuk bisa menatap mata kalian juga. Aku tahu, kalian lelah dan ingin segera berakhir, akupun... bagiku tak masalah meluangkan waktuku, pikiranku juga... itu menyenangkan, tapi jika hati ini lelah menghadapi kalian, saat kalian mengeluh rasanya nafasku semakin berat saja. Tak dipungkiri aku pun kerap mengeluh, aku tahu aku yang mengajak kalian kelingkaran itu, dan aku tahu aku yang menghilang pertama kali, tapi yang perlu kalian ingat... kalian yang membawaku kembali bukan? Kalian tahu alasanku bertahan hingga kini? karena menyenangkan bisa bersama mereka, berbagi kisah kerap kali berbagi tawa, atau saling berbagi lelah karena harus berlarian. Tapi jika kalian seperti ini, akupun rasanya ingin berhenti saja, aku tahu terlalu egois bukan? Aku tahu kalian pun peduli, aku tahu rasanya tak benar jika ku bilang hanya aku yang melangkah karena kalian juga ikut melangkah, tapi kenapa aku merasa hanya aku dan dia yang peduli dan terus melangkah? entahlah.. maaf mungkin itu hanya egoku saja. Jika bukan karena mereka mungkin aku telah berhenti bukan karena aku lelah hanya hati yang tak lagi bisa mengirama, jikapun aku berhenti aku akan tetap berpijak disana, tak menghilang, hanya mungkin tak lagi melingkar bersama kalian. Tolonglah, kalian memiliki aktivitas kalian sendiri, waktu kalian juga hak kalian untuk menggunakannya, tapi bisakah kita benar benar berbicara? Aku rindu lingkaran kita yang dulu, dimana kita benar benar melangkah pada waktu yang sama. Terlepas dari apa yang kutulis, bisakah kalian memaafkan pikiran picikku? yang menganggap aku yang paling lelah? Hati ini yang lelah melangkah bersama kalian, bukan dengan mereka. Mereka adalah satu satunya alasanku bertahan, dan lainnya adalah alasanku untuk berhenti. Banyak emosi yang ingin kuluapkan tapi aku lebih suka melihat emosi kalian terlebih dahulu, karena disitulah aku akan berhenti dan menahan diri karena tak benar jika semuanya mengeluh bukan?. Pada akhirnya aku akan bertahan, jika kalian lelah bisa kalian bertahan sebentar lagi saja? Alasan kenapa kalian bertahan kuharap masih kuat, aku akan melakukan yang terbaik meski dalam kesalku. Jadikan mereka sebagai alasan terkuat untuk kalian bertahan dengan hati, itu ampuh untukku dan kurasa itu akan ampuh untuk kalian juga... Berhentilah diwaktu yang tepat, setelah itu kalian boleh benar benar pergi, dan aku tak akan menahan, mungkin akupun akan pergi tapi kuharap kaki kakiku akan selalu berpijak disana. Jika meluangkan waktu masih sulit, perlahan saja, tak apa jika ingin menghindar ataupun menghilang, aku mengerti kalian benar benar lelah. Akan menjadi kesalahan juga mempertahankan apa yang tidak ingin dipertahankan dan memperjuangkan apa yang tidak ingin diperjuangkan, jika hati kalian tak bisa ikut mengirama kalian bisa berhenti, mungkin akan menyakitkan untukku, tapi lebih menyakitkan jika terus melihat keterpaksaan kalian. Baiklah itu ocehanku, jika terluka maafkan aku...  sungguh, sudah kubilang aku terlalu pengecut untuk menghadapi kalian dan terlalu lelah... Pikirkan apa yang ingin kalian pikirkan tentangku yang sungguh egois tentang perkataanku, marahpun tak masalah, marahlah dihadapanku bukan dibelakangku agar aku tahu seberapa besar kemarahan kalian, dan agar aku tidak lagi menjadi pengecut yang merasa lelah dibelakang kalian... mengertilah, kumohon.. 

Kamis, 30 April 2015

Ini untukmu, yang tak suka sendirian

Percaya pada yang ingin kau percaya, begitulah caranya hidup
Sendirian tak berarti kau dalam sepi
Ibarat jika seseorang membisu tak berarti dia tak bersuara
Kau tahu, sendirian untukku seringnya menyenangkan
Cobalah lihat sudut yang tak kau kenali
Jamahlah ujung yang tak kau lihat
Disana ada keramaian yang tak tersentuh, mungkin menunggumu
Berhenti kesal karena sendirian, jangan sampai air matamu pun terjatuh
Lihatlah lebih dalam, kau tak sendirian bukan?
Ku tahu, langkahmu yang tak pernah lelah akan membawamu selalu pada keramaian
Kata katamu yang tak henti membuat ceritamu tak pernah berakhir
Jika yang dekat tak bisa melingkar denganmu, mungkin yang jauh bisa
Media, gunakan media dan rasa sendirimu akan hilang

Sabtu, 25 April 2015

2 yang tak bisa kulupa

Kau tulis kata ini "Makasih banyak" pada kertas ujianmu, lalu melepar seulas senyum yang sampai kini aku masih mengingatnya. Kurasa waktu mempertemukan kita dengan caranya, bukan hanya waktu, situasi juga mempertemukanmu denganku pada akhirnya. Jika hanya bukan karena soal itu, soal yang tak bisa kau ingat jawabannya, mungkinkah akan berbeda? karena sejak saat itu kita mulai bertukar sapa. Tak banyak waktu dimana kita beriringan, tapi ingatkah saat aku mengajarkanmu cara untuk berjalan? lucu sekali... kadang aku masih tertawa kecil jika mengingatnya, seperti yang kulakukan saat ini. Hai teman... lama kau tak menyapaku, mungkin karena kita tak lagi satu alamat. Aku lupa berterima kasih, karena telah menjadi rivalku, herannya kau adalah rival yang selalu ingin ku bantu. Tak pernah bisa aku mengejarmu karena kau selalu berada didepanku, tapi kusenang pada akhirnya kita hanya berbeda satu level. Waktu sepertinya tak akan mempertemukan lagi kita, kau.. masihkan boleh ku anggap teman baikku? meski waktuku didalamnya tak ada lagi dirimu. Ahh sahabatmu pun, meski kini ada dalam alamat yang sama tetap saja sama sepertimu, waktu tak mempertemukan aku dan dia, hanya karena sebuah kesalahan yang aku lakukan pada sahabatmu, dia tak lagi sama. Kata kata manisnya tak pernah lagi kudengar, kata kata bujukannya apa lagi, dia berbeda... jauh sekali. Tapi aku senang, mungkin tak banyak kabar yang bisa kudengar, tapi kalian kini bahagia bukan? aku hanya tahu itu... cerita kalian memang sudah tak lagi menjadi ceritaku, kadang aku rindu dengan ocehan atau keluhan dari sahabatmu, kadang ku juga rindu kata bijak darimu. Satu kata yang sering kali kudengar atau kubaca dari kalian berdua "makasih" sampai bosan aku menjawabnya. Kalian 1000 langkah didepanku kini, sungguh aku iri, secepat apapun aku berlari tetap saja masih tak bisa kukejar, mungkin aku harus berlatih lagi agar bisa didepan kalian. Untuk kalian yang ingin ku sapa, bolehkah aku bilang jika aku rindu? entahlah berteman dengan kalian membuatku merasa hebat, kali ini biar aku yang mengucapkannya "Terima kasih banyak"... 

Ini suratku, untukmu yang suka sekali menghilang

Kapankah waktu benar benar mempertemukan kita? yang ku tahu sejak taman kanak kanak, kita yang selalu bertemu namun tak saling sapa, karena kita belum bertukar nama, aku si kelas mawar dan kau si kelas melati, benarkah itu? aku lupa yang jelas kita tak ada di satu ruangan yang sama tapi ada diatap yang sama. Pertama kali menggunakan si putih merah kita dipertemukan waktu kembali, tapi tetap tak saling sapa sampai akhirnya kita saling berjabat tangan dan bertukar nama. Rumahmu tak jauh dariku, entah sejak kapan kita sering mengirama dalam langkah yang searah, dan akhirnya berpisah depan pintu rumahmu lalu aku akan melangkah seorang diri.
Intan... ini untukmu, seseorang yang selalu dikelilingi orang orang yang menyenangkan, kau yang memang menyenangkan tak sulit menarik orang orang disekitarmu untuk lebih mendekat padamu, akupun... Tahukah? semasa waktu putih merah aku sering kesal, karena jika kau sedang mengirama dengan orang lain, kebanyakan kau mengacuhkanku, kurasa... seringnya aku kehilangan sampai akhirnya ku rindu, Ahhh air mataku terjatuh, mungkin karena kini aku rindu. Aku yang tak menyenangkan dan tak tahu cara berteman membuatku hanya seolah memilikimu sebagai seorang teman terlebih untuk tahun pertamaku disekolah yang memang tak menyenangkan karena kebanyakan orang seperti.... entahlah hanya mengabaikanku, jikapun diperhatikan aku hanya dibuat mereka menangis. 
Hal yang bisa kulakukan saat kau tengah asik menjalin pertemanan barumu hanya menunggumu sampai kau kembali, karena ada pola yang mungkin hanya bisa aku rasakan, saat kau tak lagi dekat dengan teman dekat barumu, kita akan kembali menjadi kita, hanya aku dan kamu, sampai ada saat aku mulai kehilanganmu lagi dan akan seperti itu, pola yang memiliki keteraturan, tapi ada satu hal yang tak pernah berubah, kau adalah seseorang yang selalu melangkah disampingku dijalan pulang. 
Kita bertemu lagi di waktu putih biru, kau yang masih sama, terlalu menyenangkan... sampai aku kehilanganmu lagi, tapi aku selalu menunggu sampai kau kembali, aku menunggu dengan caraku, tak akan ku elak jika aku sering kesal karena kau hanya akan datang saat kau tak lagi dekat dengan sahabat barumu dan kau akan pergi lagi saat kau menemukan teman yang jauh lebih menyenangkan. Karena aku tahu kau adalah seseorang yang sangat akan peduli jika memang kau ingin melakukannya, kau akan membela dan melakukan apapun untuk orang yang kau sayangi, selalu ada waktu dimana aku bertanya, "pernahkah kau anggap aku sahabatmu?" untuk orang baru yang kau temui tak butuh waktu lama untuk kau mengatakan bahwa dia adalah sahabatmu, tapi jika itu aku? entahlah, ini yang kurasa. Ahh ini air mataku masih saja menetes... 
Ingatkah saat kita sering bertukar surat? aku sungguh menyukainya, karena hei.. aku mendapatkan dirimu kembali... Tapi ada disaat dimana kau lebih mempercayai orang lain dibanding diriku atas semua ceritamu, sungguh aku terluka, aku hanya bilang pada diriku "Tak apa, yang penting kau selalu tersenyum dengannya, tak apa... aku bisa menunggu lagi sampai dia datang sendiri". Sampai akhirnya kau bilang kau akan pindah, ke Ibu Kota... sebelum hari ulang tahunmu, takut aku tak bisa memberi akhirnya aku membeli sebuah boneka sebagi hadiah ulang tahunmu, boneka yang akan menemanimu, boneka yang ku harap saat kau menatapnya kau mengingatku, sungguh aku takut kau akan lupa... boneka itu masihkah kau menyimpannya?. 
Saat kau mulai menghilang, aku takut  kita tak akan bertukar kabar lagi, aku hanya ingin minta maaf atas sebuah pesan terakhir yang ku kirim untukmu, "apa hanya kesedihan yang kamu bagi sama aku? aku juga ingin kamu bagi kesenangan kamu" kurasa itu terakhir kita saling bertukar pesan karena akhirnya kau menghilang selama dua tahun, tanpa kabar, sesering apapun ku coba menghubungimu, nomormu tak pernah aktif. Sebuah pesan yang mungkin membuatmu tak lagi bertukar waktumu denganku, sungguh aku minta maaf... 
Lalu saat kau memintaku untuk menghubungimu kembali disebuah pesan FB, tahukah kamu aku sangat bahagia? akhirnya.. kau kembali... hanya saja kau banyak berubah, wajar bagiku karena waktu yang kau lalui tak mudah, maaf untuk waktu yang aku tak ada didalamnya bersamamu... Kuarasa itu pesan rinduku, kau ada di kota yang sama denganku kini tapi kita hanya berjumpa satu kali... saat hari ulang tahunmu tahun lalu... Mungkin waktu yang belum mempertemukan kita kembali... tak apa aku akan menunggu...

Bandung, 25 April 2015

Minggu, 19 April 2015

Mimpi #2

Jika ku tanya, kau percaya pada mimpi? terutama untuk mimpi yang kau bangun dengan anganmu sendiri? dan jika ku tanya, seberapa dekat dirimu dengan mimpi yang sedang kau coba hampiri saat ini? Adakah saat dirimu merasa lelah saat kau dibuat lari oleh mimpimu? Seberapa kencang kau berlari? Berapa banyak langkah yang telah kau ambil? Mimpimu itu... pantaskah untuk kau raih?
Entahlah ada saat dimana aku hanya ingin menyerah atas setiap mimpi yang telah kuukir dalam asa, ada saat dimana rasanya ingin saja menghentikan langkah lalu berubah haluan untuk mimpiku yang lain, ada saat dimana langkah ini terhenti dengan sendirinya, ada saat dimana hanya saja ada waktu yang ingin kulewati.
Seberapa kuat dirimu untuk tetap bertahan, dan seberapa lemah dirimu hingga kau hanya ingin menyerah? Akankah ada keajaiban disaat kaki kakimu sulit untuk melangkah, akankah ada jalan yang tersembunyi saat disekelilingmu hanya ada tembok tembok besar? akankah ada sebuah cahaya yang akan menuntunmu saat semuanya hanya gelap, saat kau tak bisa melihat apapun sehingga kau akan kalut dalam menentukan langkahmu selanjutnya. 
Untuk mimpimu yang masih belum dapat kau lihat, kau masih mempercayainya? Membayangkan saat kau benar benar meraihnya pastilah menakjubkan, jika menyerah bahkan sebelum melangkah, maka aku benar benar pecundang bukan? tapi... untuk beberapa alasan bisakah aku hanya berhenti mengejar mimpi yang tak ingin kuraih, bisakah aku berhenti melangkah untuk mimpi yang orang lain ukir untukku, bisakah aku hanya melangkah pada jalan yang ingin kutempuh? bukan jalan yang orang lain aturkan untukku... bisakah aku melakukannya? bisakah aku hanya bertindak dengan egoku? kurasa tidak, aku hanya perlu terus berjalan meski setapak demi setapak meski harus dihadapkan pada tembok tembok tinggi, meski harus terjatuh dan terluka saat tersandung kerikil, meski ku tahu masih ada batu batu besar yang harus kulalui, entah seberapa banyak rintangannya, apapun yang akan membuatku menghentikan langkahku, aku masih percaya... Mimpi itu meski mimpi yang orang lain ukirkan untukku, aku masih akan meraihnya... masih belum dan tidak akan meyerah sampai waktu benar benar menghentikanku, bahkan jika bumi tak mengijinkanku maka aku hanya perlu terus menatap jauh, bahkan jika kedua kakiku tak sanggup lagi melangkah akan kugunakan tubuhku yang lain untuk tetap berjalan, meski langkahku tunggal, meski langkahku terseok, meski.... 
Kini keraguan itu muncul lagi... bisakah dan akankah waktu memberiku kesempatan? Untukmu mimpi mimpi yang harus kuraih bisakah kau menunggu sampai aku tiba disana menjemputmu hingga akhirnya kita berjalan saling beriringan?

Lagi, untukmu "pengagum bangsa"

Lagi, ini kutulis untukmu sosok yang entah tak bisa kubayangkan kesibukanmu disana. Hari ini aku mulai mengenalmu lewat beberapa tulisan yang kau buat dan lewat segudang pertanyaan yang diajukan padamu. Caramu menjawab semua pertanyaan itu... bolehkah jika kubilang sungguh aku menyukainya, caramu merespon, caramu menjawab lewat tulisanmu, terkadang kau menjawabnya dengan sebuah gambar benar benar membuaku terkagum. Bolehkah jika kini kubilang kekagumanku padamu semakin bertambah? Selalu menjadi inspirasi untukku. Terima kasih. 
Aku juga membaca tulisan lamamu bertahun tahun silam, sungguh tak ku menyangkanya, gaya bahasamu, emm.. membuatku tersenyum sesekali tertawa, lucu sekali, kau menceritakan bagaimana dirimu, kehidupanmu dengan begitu polos namun tetap memiliki sesuatu yang tak bisa kujelaskan. Tak ku menyangkanya caramu melihat kehidupanmu yang dulu dari sisi yang tak bisa kutebak, tapi dirimu tetaplah dirimu, tak palsu apa adanya "kurasa". 
Ada beberapa pertanyaan yang kubaca mengenai seseorang yang mengungkapkan kekagumannya padamu, bahkan terlihat *terbaca* seperti mengakui perasaannya padamu, dan caramu menjawab pertanyaan pertanyaan itu... sungguh aku suka, sangat suka terlepas dari apapun jawabannya selalu manis, seperti sebuah blog yang pernah kamu buat dengan kutipan seperti ini, "perkataan manis seorang ....." tak bisa kuteruskan titik titik disana karena itulah namanu. 
Untukmu yang selalu memandang dunia dari sudut yang berbeda kadang mempengaruhiku juga, terima kasih lagi karena itu kearah yang menurutku lebih baik, kau punya cara dalam bersikap, cara dalam bertutur kata sungguh khas dan ahh tak bisa kujelaskan...
Bung Karno adalah sosok yang selalu kau kagumi, meski tak hanya beliu, kulihat sebuah potret yang kau simpan, sepertinya kau adalah reinkarnasi beliau :)
Untuk kekagumanku yang terus bertambah semoga kau tak keberatan, aku bukan mereka yang bisa berbincang padamu secara langsung, karena tak pernah ada "pertemuan" antara aku, dan dirimu, kita tak saling sapa tapi bolehkah jika kubilang.. kita cukup sering berpapasan "dulu" beberapa tahun silam. 
Menyenangkan bisa sedikit tahu mengenai dirimu, dirimu yang hanya satu, dirimu yang berbeda sungguh membuatku terus tersenyum, dan terima kasih untuk itu. Kesibukanmu ditengah segudang prestasi yang pernah kau raih aku juga terkagum karena itu. Jagalah kesehatanmu jangan suka keluar tengah malam untuk mencari makan lagi yaa... jagalah kesehatanmu dalam sibukmu, jangan sampai sakit... Teruntuk dirimu yang masih kuingat caramu tersenyum...

Jumat, 17 April 2015

Nasihatku untukku sendiri

Seberapa besar menatap suatu kebaikan? Lebih besarkah menatap kebaikan orang lain atau justru lebih tertarik menatap kebaikan yang dilakukan oleh diri sendiri? Benarkah yang dilakukan adalah suatu kebaikan? atau hanya sebuah topeng yang tanpa sengaja terbentuk dengan sendirinya? Melihat diri dalam pandangan yang negatif jelaslah bukan hal benar, tapi terlalu menatap diri pada banyak kebaikan juga terkadang tak begitu baik jika pada akhirnya merasa diri sendirilah yang paling benar dan yang paling baik, hingga mencapai titik dimana niat berubah haluan dan akan menjadi sesuatu yang salah jika perubahannya bukan mengarah pada hal yang lebih baik. Menaikan kepala? atau menundukan kepala? Jika terus menaikan kepala mungkin akan ada disaat kita kan tersandung kemudian jatuh, tapi jika terus menundukan kepala akan ada titik dimana kita akan menabrak sesuatu karena tak melihatnya dengan benar hingga akhirnya akan terjatuh juga. Setiap orang akan senang menatap jauh kedalam dirinya, tapi yang ditemukan pastilah berbeda.. tidak aku meralatnya bukan "senang" tapi pasti akan ada titik dimana seseorang menatap jauh kedalam pribadinya sendiri, tapi apa yang selanjutnya akan dilakukan ketika saat menatap diri hanyalah kebaikan yang ditemukan atau justru sesuatu yang salah? sikap seperti apa yang harus diambil ? Terkadang berkata "No matter what they say, by the way this is my life". Sebarapa acuhpun tapi tak bisa dielakan akan ada perkataan orang yang kita dengar apakah itu hal baik ataupun hal buruk pada akhirnya keduanya akan didengarkan hanya akan mendapatkan respon yang berbeda. Benar akan kuhentikan saja semuanya, terlepas dari kebaikan ataukah sesuatu yang "kurang" baik yang akan kulakukan pilihannya tetap ada ditanganku, hanya perlu memandang beberapa langkah kedepan untuk menebak apa yang akan kuhadapi saat melakukan apa yang telah atau akan kuputuskan. Sebab inilah tanganku, pikiranku, kakiku sebab inilah aku. Tak apa jika ada yang berkata "apa yang kamu lakukan?" / " kamu serius akan melakukannya?" /"yang kamu lakukan adalah..." dan bla bla bla...  terimalah semuanya dan hanya perlu melakukan apa yang ingin dilakukan setelah matang matang dipikirkan atas baik buruknya, karena pada akhirnya semua akan kembali pada diri sendiri, ibarat pribahasa yang mengatakan "Apa yang kau tanam, maka itu pula yang akan kau tuai"

Kamis, 16 April 2015

Katamu

"Tak ada teman sepertimu"
Kusimpan kata kata itu dalam kotak waktuku
Yang jika ku rindu akan kusinggahi
"Butuh banget pendapat dan support dari kamu"
Prihal yang kusimpan dalam memori
Yang akan mengingatkanku jika kamu membutuhkanku
"Terima kasih untuk segalanya"
Kata kata yang kupintal dalam syal waktuku
Yang akan mengingatkanku jika aku selalu melangkah bersamamu
"Nebeng lagi nebeng lagi"
Candaan yang kuingat dalam kesalku darimu
Yang akan mengingatkanku untuk waktu dimana hanya ada aku.. kamu
Ada yang tengah kurindukan..
Caramu melihatku
Caramu memanggil namaku
Caramu memohon padaku
Caramu membuatku kesal
Caramu membuatku.. jatuh padamu
Ada memori yang ingin kuberikan saat itu
Saat terakhir bagi waktumu dan waktuku
Maaf tak sempat memberikannya
Mungkin memang kau lebih menyukai jika tak kuberikan
Tapi...
Waktu yang kuberi saat hari istimewamu
Masihkah kau simpan rapi?

Jumat, 03 April 2015

Untukmu.. partner..

Ini kutujukan untukmu.. ya untukmu yang tengah bekerja sama denganku dalam hal apapun itu.. ada yang ingin kuberitahukan tentang diriku...

Kebanyakan orang yang akan menyukaiku karena aku adalah orang yang dapat  diandalkan dalam beberapa hal.. tak jarang juga ada yang kecewa denganku karena kinerjaku yang buruk.. ketahuilah rekan.. aku tak cocok jadi sang inisiator, akulah yang butuh inisiator... aku akan bergerak jika ada yang memintaku untuk bergerak, terserah kau akan menafsirkannya seperti apa.. Aku bukanlah orang yang bisa bekerja sama dengan siapapun terlebih jika dengan orang yang hanya bermodalkan "NIAT" itu tak berguna hanya seperti akan menjadi sesuatu yang akan kulewati tanpa arti pada akhirnya, bukannya apa terlebih aku tahu bagaimana cara menilai diriku sendiri akupun kadang begitu.. tidak aku ralat, aku adalah orang yang hanya akan memiliki modal awal "NIAT" dan itu sering kali tak berguna jika aku juga bekerja sama dengan orang serupa terlebih jika kau rekan.. juga bukanlah seorang inisiator seperti halnya juga aku.. maka yang akan terjadi adalah adalah kita akan sama sama diam tak bergerak, bahkan untuk jalan ditempatpun tidak... 
Sudah banyak "project" yang kurancang namun gagal karena mereka juga sama hanya bermodalkan "NIAT" hanya manis diawal, hambar dalam proses dan gagal pada akhirnya.. tidak semua, sudah kubilang adalah kebanyakan.. aku bukanlah seorang organisatoris pula, intinya kau tak akan bisa mengandalkanku pada awalnya, tapi rekan.. geraklah.. ajak aku untuk bergerak bersamamu maka aku juga akan memulainya dan aku bisa mengatakan hal ini pada akhirnya "serahkan padaku, kau bisa mengandalkanku" dan aku yakin tak akan mengecewakanmu..
Untukmu rekan... inilah diriku yang hanya akan bermodalkan "NIAT" jika kau tak mengajakku untuk "MULAI" maka aku akan hanya diam... atau aku cenderung akan bergerak sendiri tanpa melibatkanmu.. sekali lagi inilah diriku... Bagaimana? kau bisa menerimaku? Aku tak bisa membuat orang lain menyesuaikan diri tapi akulah yang akan menyesuaikan diri. Jika sampai aku bergerak seorang diri tanpa melibatkanmu artinya aku lelah... 
Terkadang aku lelah dan jenuh jika harus bekerja sama dengan orang yang memiliki niat yang sama denganku pada awalnya, kemudian mengajakku namun akhirnya meninggalkanku sendirian membuatku tak melakukan apapun, lelah jika aku bertanya "Maunya seperti apa?" dan semua kompak menjawab banyak hal, jawaban jawaban yang sangat luar bisa dari A samapai Z terjabarkan dengan baik, namun saat berkata "Ayoo kita mulai.. ini rencananya..." dan semuanya juga kompak berkata "AYO!" namun kemudian hilang ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak.
Rekan inilah aku... tolong mengertilah ini sisi burukku yang sulit kuubah... terkadang jika akhirnya aku bergerak sendiri tanpa melibatkanmu artinya aku mulai jengah dan marah.. Aku yang seperti ini bisakah kau menerimanya? Jadi ajaklah aku untuk bergerak dan aku akan mengikutimu dan mungkin aku akan bergerak didepanmu nantinya hingga akhirnya aku tak akan ada dibelakang atau didepanmu tapi disampingmu untuk menikmati setiap langkah yang kita lakukan bersama...
Semuanya akan menjadi salahku, aku mengerti karena inilah aku.. Jika kau tak bisa menerimanya, maka kau hanya perlu berkata "berhentilah..." padaku, dan aku hanya akan pergi hingga menemukan jalanku yang lain... Jika kau mengerti maka berkatalah padaku "Ayo.. aku kan melakukan ini dan kau harus melakukan itu... kita akan bertemu lagi dan membicarakan progress masing masing" berkatalah seperti itu dan aku akan mengikutimu... 

Itulah diriku rekan.. bagaimana? Kini kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan? terlebih terhadapku...