Tampilkan postingan dengan label Secret Message Story (SMS). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Secret Message Story (SMS). Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2016

Dear Mister !

Sepatah kata ku mulai
Patahan lainnya kuakhiri
Kamu.
Aku mulai benci menyimpan sebuah rasa
Pada kotak yang telah berpenghuni
Jadi mari mengakhirnya
Kita akan berjabat tangan
Dan saat itu kumulai lembaranku yang baru
Tanpa kamu ditempat yang kau sebut hati.

Selasa, 26 April 2016

Jemariku asing

Banyu, lama tak mengudara lagi bersama. Ada kepingan acak yang merusak ingatanku, aku rasa aku amnesia, pada beberapa kotak waktuku terdahulu. Banyu, jika semu adalah nyata, maka fakta apa yang tak bisa kusentuh? semuanya hanya menjadi abu dalam ingatan. Aku, aku ingin kembali mengingat, sebuah masa dimana aku tak harus memiliki alasan untuk tersenyum, aku ingin kembali, pada sebuah waktu dimana rinaiku adalah bahagiaku. Banyu, saat melintasi waktu, yang ada hanyalah jejak tak berpijak, sebuah langkah tanpa bayangan. Arah angin mengelabuiku, hanya sebuah sentusan magis, semuanya kabur dan aku hanya terdiam dalam sepi. Berapa banyak waktu lagi? aku tak ingin ahu dan tak ingin peduli. Banyu, kembalilah dan bawakan aku sepasang langkah itu lagi.

Sabtu, 21 Februari 2015

#SMS Chapter 10 "Surat Tak Bertuan #3"

“Hay! Udah pada cape aja nih, sorry telat… tadi jemput Hani dulu. Illyas gak jadi datang dia harus ngurusin DKM katanya” ujar Bara yang baru sampai dengan Hani tepat disampingnya. Aku hanya menyimpulkan seulas senyum di wajahku dan Aga sibuk berbincang, “Kalian olahraga berdua yaa, tadi kita udah soalnya.. kita tunggu di tempat istirahat biasa”ujar Aga, dan aku hanya berlalu pergi dengannya. Dari tempatku duduk aku masih bisa melihat Bara dan Hani tengah berlari kecil sepertinya saling berbincang, baik Hani maupun Bara saling melempar tawa kecil mereka, ya ampuun apa yang aku pikirkan… bukankah seharusnya aku juga senang, nafasku semakin berat rasanya “Ve? Still with me?” ujar Aga menyadarkanku, “ahh yaa.. maaf efek lelah haha” balasku, “well karena aku yang menang, aku akan mulai dengan 1 pemintaan” jelas Aga, “yayaya.. pertandingan macam apa itu, pull up? Jelas aku akan kalah jika itu caranya, tangan tanganku mana bisa bertahan lama dibandingkan tangan seorang pria” gerutuku, “baiklah 1 permintaan.. apa?” tambahku dengan nada rendah, “Izinin aku untuk ngelakuin permintaan kamu” ujarnya menatap tajam kearahku, “tadi kamu bilang, kalau kamu menang kamu akan mengajukan 1 permintaan, aku akan lakuin itu… kamu hanya harus bilang” tambahnya. “kamu serius?” ujarku antusias, “malam ini jam 7 di cafĂ© biasa okee?”tambahku. Aga mengangguk setuju dan tak banyak menanggapi dia hanya bilang jangan sampai terlambat. Tak lama Bara dan Hani kembali. Tak banyak yang kami perbincangan dan lagi.. tak akan jauh dari persoalan akademik.
Matahari semakin meninggi, ku buka nomor kontak di handphoneku dan ku hubungi Viona, ahh ini benar benar sebuah kesempatan, rasanya sedikit tidak benar tapi… ada janji yang harus kutepati pada Viona.
Malam semakin larut sebenarnya belum terlalu larut, namun disinilah kuhabiskan malam dengan menatap indahnya bintang. Cahaya yang berkelap kelip itu selalu ampuh untuk membuatku tersenyum benar benar sangat nyaman saat melihatnya, seperti menerawang jauh kedalam masa depan yang penuh cahaya. Esok paginya bagianku untuk piket kelas bersama Viona dan beberapa teman aku sampai dikelas paling awal, kusimpan tas untuk mulai membersihkan kelas, tunggu… ‘amplop biru’ benakku, amplop yang sama… aku melihat kesekeliling tak ada siapapun atau bahkan tak ada satu taspun dikelas ini, aku menarik kursi lalu kubuka amplop biru itu..

“Bagaimana dengan music yang ku kirimkan? Kau menyukainya?.. disinilah aku membayangkan bagaimana raut wajahmu saat mendengarnya mungkinkah kamu tersenyum atau justru mengerutkan keningmu? Aku benar benar penasaran… Kini aku akan mengingatkanmu pada hal lain… ‘Bintang’ saat kamu melihatnya seperti kebiasaanmu.. mulai saat ini bintang akan mengingatkanmu padaku. Tersenyumlah.. akhir akhir ini senyumanmu menghilang, aku merindukannya, setidaknya tersenyumlah untuk dirimu sendiri” Dia tak hanya mengirimkan surat tapi juga sebuah gantungan, entahlah ini seperti gantungan HP dengan bandulnya yang berbentuk bintang, ku akui itu sangat cantik, ku raih ponsel ditasku dan kupasangkan gantungan itu. Tapi… bagaimana reaksi Aga saat dia tahu dia disana bertemu Viona… Viona juga belum datang, tak lama beberapa teman yang piket hari ini mulai datang dan kubereskan sebuah ruangan yang menjadi saksi perjalananku di masa putih abu ini.

#SMS Chapter 9 "Taruhan"

Dering handphone melantunkan lagu Just the way you are by Bruno Mars sontak membuatku terbangun, siapa yang menelepon sepagi ini, kutoleh kearah jam dinding dan waktu menunjukkan jam 5 pagi, dengan malas ku jawab panggilan telfon “Kamu baru bangun? Bersiaplah aku jemput 30 menit lagi” ujar seseorang disebrang telpon sana, kerutan di kening muncul secara reflex kulihat nama yang menelpon.. ahh itu Aga, kupejamkan mataku kembali namun mengingat waktu menunjukan pukul 5 kulangkahkan kaki kakiku kekamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan kewajibanku menunaikan sholat, selesai sholat aku terdiam, ’30 menit lagi aku jemput’ ahh apa yang dia pikirkan mengajakku keluar sepagi ini? Tak lama seseorang mengetuk pintu ‘Aga’ pikirku memastikan. Benar saja dia datang dengan motor ninja hitamnya lengkap menggunakan jaket olahraga berwarna biru-putih dengan spatu sport putih, “kamu belum siap?” ujarnya menatapku yang masih menggunakan piyama tidur, “ahh .. kita akan berolahraga? Baiklah beri aku waktu 5 menit” ucapku dan meinggalkannya tepat didepan pintu, “masukklah” tambahku dengan nada lebih tinggi.

“ayo taruhan!” tegas Aga sesampainya kami di tempat track lari salah satu lapangan olahraga di kota Bandung, “berapa keliling?” tantangku tak mau kalah “cukup 5 keliling, aku bertaruh teraktir makan siang full selama satu minggu disekolah dan kalau aku yang menang aku boleh minta 3 permintaan” jelasnya “3 .. 3 permintaan? Untuk apa? Kalau kamu bosan seharusnya kamu pergi dengan Bara dan bertaruh dengannya” ujarku kesal, “well, Bara akan datang sekitar satu jam, jangan salah paham aku juga mengajaknya, dia akan datang sekitar jam 8” jelasnya lagi, “dan.. untuk taruhan, deal?” tambahnya, “mmm… baiklah tapi kalau aku yang menang bukan hanya teraktir makan 1 minggu full, aku hanya akan meminta 1 permintaan sebagai tambahannya.. deal?” ujarku dengan seulas senyum, Aga hanya mengangguk tanda dia setuju dalam kehitungan ketiga kita berdua mulai lari mengelilingi lapangan, ini bukan pertama kalinya aku dan Aga bertaruh dalam hal olahraga terutama lari, hampir setiap pelajaran olah raga kami bertaruh, tepatnya kami berlima, namun yang sering unggul adalah Ilyas, bukan main dia adalah seorang pemain futsal disekolah jelas dia lebih unggul dalam masalah ini. Berbicara mengenai taruhan tak banyak yang bisa dipertaruhkan selain teraktiran pada jam istirahat atau menggantikan jadwal piket kelas, jika dibandingkan antara aku dan Aga, aku rasa perbandingannya adalah 50:50. Masuk putaran pertama Aga duluan sampai ke putaran ketiga, perbedaan jarak pun tipis sampai diputaran ke empat aku yang lebih unggul dan.. saat putaran terakhir bisa dibilang ini seri… ahh menyebalkan jika saja langkah kakiku lebih panjang mungkin aku bisa sampai terlebih dahulu. Bagaimanapun harus ada yang menang dan untuk menentukan pemenangnya dengan cara….

Kamis, 19 Februari 2015

#SMS Chapter 8 "Surat Tak Bertuan #2"

Kutemukan lagi sebuah amplop yang sama terselip disalah satu buku catatan sekolahku, aku hanya memandanginya lalu menyimpannya tepat diatas meja belajarku dan bergegas turun kebawah, “Bara maaf membuatmu menunggu” ujarku pada Bara yang tengah duduk diruang tengah biasa jika keluargaku berkumpul. “Mmmm” responnya singkat, “Sekarang sudah lebih baik? Kepala kamu masih sakit? Ahh seharusnya kamu lebih berhati hati!” tambahnya dengan nada khawatir. “Mmmm… lebih baik” ungkapku dengan nada rendah “lagipula bukan aku yang salah mana aku bisa tahu kalau tiba tiba ada bola basket nyasar saat aku ada membelakangi bolanya” tambahku sedikit kesal.  Sejujurnya aku ingin mengkonfirmasi apa yang dikatakan Aga saat ditaman pada Bara, bagaimanapun dia sahabatnya tapi entahlah rasanya tak yakin tapi aku rasa aku harus mendengarnya “Aga terlihat lebih diam akhir akhir ini, kamu tahu kenapa? Aga yang biasanya jahil, usil dan suka bertingkah seenaknya akhir akhir ini terlihat lebih diam, aahhh itu membuatku khawatir” ujarku pada Bara. “Aga? Mmm.. dia sedang ada masalah, tapi tunggu saja saat dia cerita padamu” ungkapnya “ahh aku harus pulang Aga tiba tiba ada dirumah, istirahatlah” tambahnya lalu pergi setelah aku mengantarnya kedepan pintu. Aku kembali ke kamar dan berbaring disana, kini hanya permasalahan Aga yang melekat dipikiranku, setidaknya aku harus menghiburnya, tapi gadis seperti apa dia? Gadis yang meninggalkan Aga? Ahh entahlah akan kupikirkan esok. Saat hendak akan pergi tidur mataku tak sengaja menoleh kearah meja belajar kulihat sebuah amplop biru yang kutinggalkan disana, kuambil dan duduk sembari memikirkan pemiliki surat ini..
“Sudah kubilang jangan terluka, karena aku akan ikut terluka… berhati hatilah istirahatkan kepalamu yang terkena bola basket, dengarlah lagu ini sambil istirahat, lagu ini 100% akan membuatmu merasa lebih baik, lalu.. bagaimana dengan novel yang aku berikan? Kamu sudah membacanya? Bagaimana ceritanya? Mulai hari ini aku akan membuatmu mengingat lebih banyak tentangku, saat kau mendengar lagu ini yang kurekam dalam sebuah CD, lagu ini akan mengingatkanmu padaku J .. Istirhatlah”

Lagi lagi tak ada nama pengirim atau bahkan inisial, dia bertanya tapi sama sekali aku tak tahu bagaimana cara menjawabnya, hanya sebuah CD yang kutemukan, ku putar lagu itu, ahh itu adalah instrument piano dengan lagu dari Weslife-My Love, lagu favoritku sepanjang masa, aku mendengarnya berulang ulang ada beberapa bagian yang dia aransement dan itu membuatnya lebih indah…

#SMS Chapter 7 "Sosok Lain"

“Vea awas!” Itu hal terakhir yang kudengar, sepertinya itu teriakan Hani, aahh kepalaku rasanya sakit, “Jangan banyak gerak dulu Ve” ujar seseorang dan saat mataku bisa melihatnya dengan jelas ahh itu Aga, “eh Ga, ini aku kenapa ya?” tanyaku yang masih memegang kepalaku yang terasa sakit karena dihantam sesuatu, “Bola basket? Kamu gak inget? Ada bola basket yang nyasar ke kepala kamu” jelas Aga, aku hanya diam tanpa respon, “Tetaplah istirahat disini sampai pulang sekolah, kebetulan hari ini aku bawa mobil, jadi pulang nanti aku anter sampai rumah” jelas Aga “Jangan nolak!” ujarnya lagi tepat disaat aku benar benar akan menolaknya aku hanya terenyum dan kembali berbaring, rasanya benar benar sakit… mata inipun terpejam dengan sendirinya.
Kubuka kedua mataku dan kulihat jam dinding diruang UKS “ahh 30 menit lagi pulang” gumamku pada diriku sendiri. Tak lama setelah bel berbunyi Aga, Ilyas, Hani, Viona dan Bara datang ke UKS, Hani memberikan tasku, mereka semua menanyakan keadaanku, aku hanya menunjuk kepalaku “disini sakitnya sudah hilang” ungkapku tak ingin membuat semua sahabatku khawatir. Hani terus merangkul lenganku sampai kemobil Aga, padahal sudah kubilang aku bisa berjalan sendiri, yang lain juga mengantarku rasanya seperti benar benar orang sakit.

Entah efek kepalaku yang masih sakit karena terhantam bola basket atau aku merasa lelah sepanjang perjalanan pulang aku hanya tertidur. Saat aku tersadar aku masih didalam mobil tapi hanya sendiri ‘Aga dimana?’ benakku, ku buka pintu mobil dan mencari sesosok Aga, seharusnya dia mengantarku pulang bukan meninggalkanku dalam mobil, kulihat seseorang tengah duduk dibangku taman tengah meminum minuman soda kaleng, yaa dia Aga aku menghampirinya “oh kamu bangun? Maaf membawamu kesini, aku gak tahu tempat kamu tinggal, handphonepun lowbat jadi aku tak bisa bertanya” ucapnya dan memberiku sebotol air mineral, aku menerimanya dan langsung meneguknya, “ahh maaf, ayo pulang” ujarku dan melangkah pergi. “Rasanya sakit, aku tak tahu harus mendeskripsikannya dengan kata apa” ujar Aga tiba tiba membuatku menghentikan langkahku dan melangkah mendekat kearah Aga yang masih terdiam menatap senja. Aku terduduk disampingnya menunggunya untuk bercerita sambil menatap senja yang sama.

#SMS Chapter 6 "Surat Tak Bertuan"

Bel sekolah berbunyi nyaring bertanda waktu istirahat tiba, aku hanya diam dikelas mengobrol dengan Hani, yapp dia sibuk menceritakan apa saja yang dilakukannya kemarin “ya gitu deh, asli Ve, aku seneng banget ya walaupun hanya nemenin dia di toko buku tapi itu hal yang menyenangkan sebelum pulang kita sempet mampir makan juga, dinner Ve.. aku sama dia” ujarnya penuh semangat karena Bara tidak ada dikelas melainkan dikantin bersama sahabatnya Aga. ‘But.. wait.. dinner?’ dalam benakku, aku bertanya jam berapa sebenarnya mereka pulang, jika Bara tengah makan dengan Hani, tak ada alasan baginya untuk merasa lapar apalagi kemarin dia terlihat lahap saat makan, yang aku tahu Bara adalah tipikal orang yang mudah kenyang dan tak begitu suka makan banyak apalagi sampai dua kali makan, “entahlah setengah 7 kita makan dan aku sampai rumah jam 7, oh iya Bara kerumah kamu kemarin?” tanya Hani membuatku kaget karena dia tahu Bara mampir kerumah, “ahh iya.. dia bilang tahu rumahku dari kamu, dia mampir mengerjakan tugas kimia hari ini” ungkapku “mmm aku tahu, dia bilang dia akan mampir kerumah kamu menanyakan beberapa soal kimia, padahal dia bisa bertanya padaku” ungkap Hani dengan nada kecewa. Untuk mencairkan suasana aku mengajaknya ke kantin sebelum jam istirahat berakhir, kami berpapasan dengan Bara dan Aga yang baru saja makan dikantin dan aku hanya menyapa sekedarnya tentu tidak dengan Hani yang terus memberikan senyum hangatnya pada Bara.
Kelas olah raga telah berakhir saat aku kembali ke kelas untuk mengambil seragam putih abu untuk kuganti pakaianku, aku melihat sebuah novel tepat dimejaku, ‘ahh mungkin milik orang lain’ benakku dan aku hanya melewatkannya lalu keluar untuk berganti pakaian. Sekembalinya ke kelas novel itu masih diposisi yang sama, kuambil dan kubuka untuk tahu siapa tahu ada sebuah nama didalamnya dan yaa ada tapi.. “Vea Prisillia Permata, 12 IPA 3” lengkap dengan tanggal “18 September 2010” sebuah format tulisan yang sama seperti yang selalu kulakukan untuk setiap novel miliku, ‘Kapan aku membelinya? Bagaimana bisa disini tercantum namaku?’ pikirku dalam dalam, tak lama bel sekolah menandakan jam pelajaran berikutnya berbunyi aku hanya memasukan novel itu kedalam kolong meja.
Sesampainya dirumah kubongkar semua isi tasku untuk ku ganti dengan mata pelajaran esok hari, aku melihatnya lagi sebuah novel yang mengatas namakanku sebagai pemiliknya, tulisannya berupa ketikan mesik komputer jadi aku tak bisa memprediksi jenis tulisannya, tunggu apa ini… sebuah amplop biru terselip tepat di Chapter 10 novel itu yang berjudul “Hanya Kau”. Lagi.. tulisannya bukan tulisan tangan tapi tulisan komputer, aku hanya membacanya dalam diam..
“Bacalah.. novel ini menarik, aku yakin kau akan menyukainya, tak perlu khawatir akan siapa yang memberimu novel ini, cukup hargai dia yang mengirimkannya dengan membaca novel ini. Kelak akan kuperkenalkan diriku secara langsung, tapi tidak sekarang karena sedang ada hal yang ingin kupastikan. Oh iya untukmu yang mungkin akhir akhir ini terluka, aku mohon jangan terluka karena aku akan terluka bersamamu, aku merindukan senyuman itu, senyuman yang tak pernah lagi kau berikan untukku, tersenyumlah seperti sebelumnya… sebelum kau terluka”

Surat itu berhenti disana tanpa nama bahkan tanpa inisial. ‘Terluka?’  aku tak pernah menceritakan apapun tentang kehidupan pribadi diriku pada orang lain. Kusimpan novel itu diatas koleksi novelku sebelumnya dan mengambil buku matematika untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpukan besok.

#SMS Chapter 5 "Dia Kembali..."

Disela sela mengerjakan tugas kimia yang harus kurampungkan, Hani terus mengabariku mengenai kebersamaan dirinya dengan Bara, ‘aishh… seharusnya dia bersenang senang dan fokus dengan keberadaannya bersama Bara, mengapa membawaku ke suasana seperti ini’ pikirku dalam benakku, aku hanya membalas pesan pesan singkat yang dikirimkan Hani dengan respon positif dan memintanya cerita saat dia sudah pulang saja dan memintanya untuk lebih bersenang senang. Denting waktu terus berlalu saat ku lihat jam dinding kamarku tepat pukul 19.30 rasanya lapar, aku berjalan menelusuri dapur rumahku, ahh rumahku ini sepi sekali kakakku sedang menempuh studinya diluar kota bang Ares namanya, kedua orang tuaku? Mereka sedang bertugas diluar kota. Kubuka pintu lemari pendingin dan melihat bahan bahan yang bisa kumasak untuk makan malam, belum sempat aku memilih bahan makanan bel pintu rumahku berdenting dengan nyaring. Saat kuintip lewat jendela ruang tamu tak ada yang bisa kulihat selain punggung seorang pria, ku buka perlahan dan ternyata Bara tepat didepan rumahku, “Bara?” ujarku padanya yang masih mengenakan seragam putih abunya, “Ayo bicara, aku lapar, kamu janji akan traktir” ujarnya dengan wajah yang dibuat memelas dan itu membuatku tergelitik sampai aku tertawa kecil, “masuklah, aku akan memasak” ujarku dan meninggalkan Bara didepan pintu, sampai akhirnya Bara melepas sepatu sport hitamnya, menyimpan helm merahnya diatas meja lalu mengikutiku ke dapur. Aku bertanya padanya dari mana dia tahu rumahku, dia hanya menjawab singkat “Hani”. Bara kini tengah duduk dikursi dengan meja lingkaran, tempatku biasa menyantap makananku, posisi disana bisa melihatku memasak, entah ini hanya perasaanku atau apa tapi seolah Bara terus memandangiku. “Ini, hanya ayam goreng dan tumis sayuran, tak banyak yang bisa dimakan” Bara memandangi masakanku sejenak lalu diam mengisyaratkan jika aku harus menyiapkan seporsi makanan untuknya, ahh benar benar menyebalkan, rasa sesak mengingat dia dan Hani hari ini membuatku tak karuan, kusiapkan porsi sedikit lebih banyak dari makanan yang biasa ku santap. “Mau bicara apa?” ujarku tanpa basa basi, “Seseorang yang kau ingin beri kesempatan denganku, dia Hani?” ujarnya tanpa sedikitpun memandangku dan hanya menyuapkan makanan kedalam mulutnya, “Mmmm” responku singkat. Bara kemudian manaruh sendok garpu di piringnya lalu menatapku, aku hanya melihat lalu diam “apa?” responku terhadap reaksinya. “Tidak akan berhasil” singkatnya dan melanjutkan makan. “Berhubung sudah disini setelah makan ayo kita ngerjain tugas kimia, aku belum sempat mengerjakannya, but bye theway are you alone here?” ujar Bara lagi, “Mmm” responku singkat dan Bara tak bertanya lebih lanjut. Pukul 20.00 WIB karena aku telah mengerjakan tugas kimia jadi aku hanya melihat Bara mengerjakannya sendirian sesekali dia bertanya dan aku hanya menjawab pertanyaannya, satu jam berlalu Bara pamit pulang karena malam yang semakin larut.

“Tidak akan berhasil” ahh kata kata itu begitu terngiang dikepalaku membuatku benar benar kesal, tapi sedikit dari bagian dalam diriku mengatakan “Mungkinkah tidak akan berhasil antara Bara dan Hani? Artinya mungkinkah…” ahh buyar sudah semuanya, kutarik selimut dan pergi tidur dengan mematikan lampu kamar.

Rabu, 18 Februari 2015

#SMS Chapter 4 "Pengakuan Semu"

“Kesempatan?” ujarnya heran, rautan keningnya nampak begitu jelas dimataku, aku hanya mengangguk pelan tak lama bang Trisno datang membawakan pesanan, “Ini yang tanpa bawang, pesenan biasa mba Vea, sekarang Cuma berdua? Yang lainnya kemana mas Bara?” Ujar bang Trisno, “Udah pada pulang duluan bang” ujar Bara, bang Trisno pergi setelah meminta kami menikmati baksonya dengan nyaman. “Makan dulu baru nanti cerita” ujarku pada Bara mengalihkan topik, setidaknya aku harus berpikir apa yang akan ku katakan tentang ini.  Aku memakan bakso dengan perlahan tak seperti biasanya, Bara yang terlihat mulai kesal mengambil hampir separuh dari mie yang masih tersisa di mangkuk ku, aku hanya tertawa kecil melihatnya, “ini karena kamu makannya lama” ujar Bara tanpa melihat kearahku. Bara kemudian menyingkirkan mangkuk kosong ke meja sebelah, “Sekarang, jelasin” ujarnya dengan menyilakan kedua tangannya diatas meja, “seperti yang aku bilang aku bukan menghindar tapi memberikan kesempatan, kesempatan untuk membuat seseorang dekat dengamu, ceritanya selesai sampai disan, jangan tanya lebih lanjut oke?” ujaku menatap Bara, aku benar benar tak bisa meneruskannya bagaimanapun ini seharusnya menjadi sebuah rahasia. “Baiklah ayo pulang, makanan hari ini aku yang bayar, besok kamu yang harus traktir” tegasnya.
Esoknya sikap Bara yang mulai terasa aneh kini dia yang seakan menghindariku atau entah dia yang berusaha mendekatkan dirinya pada Hani, setiap aku mendekat karena ingin berbicara dengan Hani jika disana ada Bara, maka Bara yang akan pergi terlebih dahulu, ‘apa apaan ini, sekarang dia balas dendam’ ungkapku dalam benakku.

Saat pulang sekolah kukira Bara akan menagih hutang teraktiranku nyatanya dengan sengaja atau tidak dia berucap tepat dihadapanku tapi bukan untukku, tapi untuk seseorang disampingku, ya untuk Hani. “Han, jadikan temenin ke toko buku, ayoo” ujar Bara lalu pergi, Hani hanya pamit dengan senyumannya yang nampak sangat senang, dan aku yang kini terduduk hanya diam mencoba bernafas dengan nyaman meski tetap terasa berat.

#SMS Chapter 3 "Melepasmu"

Kini segalanya terasa aneh dan harus menjadi berbeda, karena aku tak mungkin menetapkan hati ini lagi, kini jika hanya ada aku, Hani dan Bara maka aku akan memilih pergi sungguh selalu menjadi hal yang indah saat melihat seyuman seorang sahabat yang tengah bahagia meski ada sesuatu yang terasa tak nyaman dengan apa yang kau sebut perasaan. Suatu hari hanya ada aku dan Bara di salah satu meja perpustakaan, “Hai” sapanya dengan hangat seperti biasanya, aku hanya membalas sekedarnya, “ini aku yang ngerasa GR atau kamu yang emang sekarang sekarang menghindar Ve?” ujarnya tanpa menatapku, dia hanya menatap sebuah novel yang entah dia baca atau tidak, “mengindar? Tak ada alasan untuk melakukannya, hanya mungkin kamu GR” ujarku dengan seulas senyum yang kupaksakan, ohh Tuhan aku harap dia tak menyadarinya, “Baiklah” singkatnya lalu pergi. Aku hanya menghela nafas dengan berat memandangi punggungnya yang semakin menjauh dan kemudian hilang tak bisa kujamah dengan indra pengelihatanku. Aku menutup wajahku dengan sebuah novel yang tengah kupegang.
Bel dering pulang sekolah berbunyi seperti biasa aku pulang harus berjalan kaki hingga bisa mencapai jalan raya kurang lebih 400 meter, sampai digerbang sekolah seseorang menyapaku “Hai, ayo naik.. aku antar sampai depan tempat kamu biasa naik angkutan umum” ujar Bara yang mengagetkanku, sebelumnya dia tak pernah mengajakku seperti ini, aku melihat sekeliling jika ada Hani maka aku akan hanya melepasnya pergi dengan penyeselan, namun tak sempat aku melihat sekeliling Bara menarik tanganku dan mengisyaratkanku untuk naik motor merahnya. Tanpa berusaha menolak aku menurut, tapi tunggu Bara tiba tiba berhenti disebuah tempat makan bakso tempat kita ber-5 biasa mengobrol atau sekedar mengerjakan tugas. “kamu mau makan? Baiklah aku pulang jalan kaki dari sini. Terima kasih” tuturku padanya dengan seulas senyum, belum aku melangkah Bara menarik tanganku dan mendorongku duduk disalah satu meja tempat makan bakso itu “Bang, bakso yamin 2 ya, yang satu gak pake bawang goreng” ujarnya pada bang Trisno, abang penjual bakso. ‘Tanpa bawang’ itu yang selalu ku pesan, aku tidak menyukai tanpa alasan. Aku hanya terdiam menunggu Bara membuka pembicaraan…

“Jujur, ada apa? Kamu mungkin gak tahu kalau aku tahu saat kamu berbohong. Aku kasih kamu 5 menit… kasih tahu aku alasan kamu menghindar, apa aku berbuat sesuatu yang salah?” ucap Bara dengan menatap mataku, dan ini pertama kalinya aku merasa Bara benar benar melihat kedalam mataku, “Bukan menghindar… tapi memberikan kesempatan” 

#SMS Chapter 2 "Waktuku Jatuh Padamu"

Hari itu hari pertama kegiatan pembelajaran disekolah dimulai, karena hari itu aku terlambat tak banyak kursi yang bisa kutempati bahkan nyaris tak ada, kulihat kesekililing kelas dan terlihat kursi belakang pojok kanan masih kosong dan begitu  ku perhatikan astagaa Bara tepat duduk didepannya, aku melangkah terburu buru ke kursi tersebut karena bel telah berbunyi dengan nyaringnya. Bara yang melihatku menyapaku seperlunya dengan berkata “Hai” aku hanya membalasnya dengan senyuman sederhanaku. Satu minggu berlalu tak ada progress yang berarti belum ada informasi tambahan dari diri seorang Bara hingga saat itu ujian Biologi, lebih tepatnya kuis dan posisi duduk harus dirubah total dan tebak siapa yang duduk disampingku saat itu.. yaa dia, dia yang ingin aku kenal lebih dalam, Bara Ardiantara. Ada satu kejadian sederhana yang memulai kedekatanku dengannya, ketika dia lupa dengan jawaban satu soal pada kuis biologi saat itu, layaknya seorang siswa yang terkadang berbuat curang, dia bertanya padaku, untunglah aku mengetahui jawabannya, caranya tersenyum dan mengatakan terima kasih sungguh aku tak pernah menduganya, sejak itu sejak aku tahu bagaimana dia tersenyum sejak itu aku menjatuhkan hati padanya, terdengar konyol tapi itulah caraku memulai perasaan ini padanya hanya dengan melihat senyumannya.

Beberapa minggu telah berlalu banyak hal lain yang ku ketahui dari diri seorang Bara Ardiantara meski kami tidak dekat secara personal namun kedekatan dalam hal akademik sudah membuatku bisa tersenyum setiap harinya karena aku tahu, karena aku tahu orang pertama yang akan dia sapa adalah aku, orang yang akan duduk disampingku sebelum bel masuk berbunyi adalah dia meskipun itu karena faktor diskusi akan setiap tugas tugas sekolah yang diberikan, tapi sungguh itupun tak mengapa aku masih bisa tersenyum indah karenanya. Perasaan yang sederhana ini aku tak tahu mengapa terjadi padaku, aku bukanlah orang yang mudah kagum pada orang lain apalagi sampai merasakan perasaan yang entah aku harus namakan apa. Teman temanku yang sering melihatku berbincang padanya dan juga pada sahabatnya Aga Trisna Putra belakangan ini terus menghubungi entah hanya sekedar menitipkan salam pada 2 sahabat itu atau bahkan bertanya bagaimana sosok mereka, apa yang selalu mereka lakukan, apa yang mereka suka dan hal hal pribadi lainnya. Hingga akhirnya aku juga harus mencari tahu lebih banyak tentang Aga, terutama untuk sahabatku Viona, entah apa yang membuat sahabatku itu jatuh hati pada sosok Aga. Well ada satu 2 orang lagi yang dekat denganku dia Ilyas dan Hani. Hani adalah teman sebangku dan teman seperjuanganku di salah satu organisasi sekolah dan Ilyas… entah bagaimana aku bisa cukup dekat dengannya sosoknya yang alim dan sangat menjaga jarak dengan wanita tapi tidak denganku, sekali lagi.. yaa karena aku menyebutnya “dekat secara akademik” . Aku, Aga, Bara, Hani dan Ilyas kerap kali belajar bersama dirumah Aga setiap kali akan ujian, mereka teman diskusi yang menyenangkan. Tapi sungguh menyebalkan karena kami tak dekat secara personal, kami jarang bercerita tentang kehidupan kami secara pribadi satu sama lain.. ya inilah kami yang dijuluki “geng pintar” aneh tapi itulah bagaimana teman teman sekelasku menyebutnya.  Dan inilah awal yang aku tidak suka saat dimana hal yang tidak ingin ku hadapi terjadi, Hani pertama kalinya mengungkapkan bagaimana perasaannya pada Bara dan aku hanya terdiam dengan seulas senyum, bukan senyuman bahagia atau senang tapi sebuah senyuman dimana ini harus berakhir.

#SMS Chapter 1 "Perkenalan"

Satu hari dibulan Juni 2010, aku hanya melihat sosok yang aku tahu namanya namun aku tak mengenalnya… ah saat itu aku adalah panitia dalam sebuah masa orientasi bagi siswa baru di salah satu sekolah negeri kota Bandung. “Hai sosok yang hanya ku tahu namanya.. kebanyakan teman temanku mengagumimu bukan hanya indah parasmu namun juga kejeniusanmu dalam hal akademik juga sikap lembut dan ketulusanmu dalam berteman, heran begitu banyak yang memberimu salam dengan aku sebagai perantara padahal aku tidak mengenalmu hanya tahu namamu” gumamku saat memandangmu dalam diam…
Nomor handphone.. jika aku tak bisa menyampaikan salam teman temanku padamu secara langsung paling tidak lewat sebuah pesan elekteronik, saat itu kita ada dalam tim yang sama, hari itu akan diadakan pertemuan untuk membahas teknis pelaksanaan masa orientasi, namun karna aku memiliki aktifitas lain aku tak bisa ikut dalam pertemuan… ahh kupikir inilah saat yang tepat untuk bisa mendapatkan nomor handphone mu, kutanya seorang teman apakah bisa dia memberikan apa yang kuinginkan dan yaa.. berhasil aku mendapatkannya atas persetujuanmu pula..
Malam itu dihari sabtu.. aku mulai mengetik sebuah pesan yang akan kutujukan untukmu “ Hai, ini aku Vea.. maaf tadi tak bisa hadir dalam pertemuan (rapat), by the way kita ada dalam tim yang sama jadi apa yang harus aku lakukan besok?” itulah sebuah pesan basa basi untukmu, aku sebenarnya tak harus bertanya karena aku tahu jawabannya.. maaf. Kau balas pesanku dengan begitu detail, ahh benar sepertinya kau memiliki keperibadian yang ramah bahkan untuk orang yang belum kau kenal…

Keesokannya ku beranikan diri untuk bisa mengenalmu perlahan, kau menyambutku dengan hangat selayaknya seorang teman, hari demi hari berlalu hingga akhirnya di minggu sore kita masih sibuk dalam akhir masa orientasi bagi siswa baru, hari itu adalah pembagian kelas untuk siswa kelas 11 dan 12 di SMA tempat aku sekolah, kulihat setiap list nama yang terdaftar dalam kelas yang aku peroleh, jariku berhenti pada satu nama yang sangat aku ingin lihat “Bara Ardiantara”. Aku dan dirimu akan ada dalam kelas yang sama paling tidak 1 tahun kedepan, heran aku bahagia bukan kepalang mungkinkah… karena aku berusaha untuk bisa mengenalmu karena teman temanku? Dan hal itu membuatku benar benar ingin mengenalmu karena kemauanku sendiri? Sebuah nama yang terus aku gumamkan dalam benakku “Bara Ardiantara” dan pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiranku.. “akankah kita benar benar bisa berteman dengan baik? Akankah aku bisa mengenalmu lebih dari sekarang?”