Finding Father - Magic Stone adalah sebuah cerita sederhana, sebuah tulisan "lama" yang berputar di dunia fantasi menjelajahi sang waktu dalam kegelapan, penuh cinta, pengorbanan dan berbicara tentang persahabatan. Diadopsi dari beberapa kisah fantasi ternama. Mohon maaf jika ada ada kesamaan latar, cerita, maupun tokoh sungguhlah bukan sebuah kesengajaan. Selamat membaca :)
Tampilkan postingan dengan label Finding Father - Magic Stone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finding Father - Magic Stone. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 April 2015
FF_Dua Puluh-END
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Sembilan belas
“dengan
sangat jelas!” jawab pangeran kegelapan meyakinkan Halley, “baiklah...—aku—”
ujar Halley dan menatap kearah Gara yang ada disebrangnya memberikan pertanda,
“aku—sama sekali tak membutuhkannya!” lugas Halley dan melemparkan batu itu
pada Gara, Gara berhasil mendapatkannya, kini semuanya menatap Gara, tuan Titan
hendak meraih namun tuan Jack menghadangnya, Halley berubah kembali menjadi
seekor serigala membawa Gloria pergi dari tempat itu, Gara meraih lengan tuan
Jack dan tuan Alex lalu menghilang dari tempat itu, hingga mereka muncul
disebuah bukit lapang, Halley dan Gloria muncul kemudian, mereka semua berusaha
mengambil nafas namun mereka tak dapat menikmati setiap tarikan nafas mereka
karena para Cxipto mengepung mereka sekarang, “apa yang harus kita lakukan
sekarang?” ujar Gloria, “tetaplah bersamaku!” jelas Halley mata besar
serigalanya memandangi para Cxipto itu, “menyerahlah!” ujar tuan Titan yang
berwujud seekor serigala menatap tajam anaknya, “ayah melakukan kesalahan” ujar
Halley geram Halley, “demi kebaikanmu.. menyerahlah, ayah tak ingin kau
terluka” ujarnya, “seharusnya ayah memikirkan itu sejak awal!” jelas Halley
“tak akan ku biarkan ayah melakukan ini” tambahnya, tuan Alex melakukan
magisnya untuk menyingkirkan para cxipto itu namun sebanyak apapun yang ia
singkirkan para Cxipto itu akan bermunculan kembali, mereka terus bertambah,
“Gara! Arahkan magismu pada pada batu itu!” seru tuan Alex, gara mengambil
nafas yang cukup dalam meluncurkan sebuah mantra pada batu itu melalui tongkat
sihirnya, dan para cxipto itu langsung menjadi abu seketika ketika cahaya dari
batu itu mengenai tubuh mereka, “tuan ini..” ujar Gara perlahan memberikan batu
itu pada tuan Alex, “ini hampir tengah malam” ujar tuan Alex, “aaargghht!!!”
terdengar jerit Gloria yang kini ada pada cengkraman pangeran kegelapan, tubuh
Gloria terangkat dan ia sama sekali tak dapat melepaskan diri, Halley melompat
kearah pangeran kegelapan namun ia justru terhempaskan, Gara mencoba
menggunakan magisnya, namun pangeran kegelapan juga menghempaskannya hingga
Gara tersungkur, tuan Jack berusaha melindungi tuan Alex dengan menghadang tuan
Titan yang hendak mendekatinya, dan perkelahian terjadi diantara mereka,
“menyingkirlah!” ujar tuan Titan, “coba saja!” tantang tuan Jack, Halley meluncur
kearah ayahnya dan menghempaskannya, Halley menatap tajam kedua mata ayahnya,
“maaf ayah—aku—aku minta maaf” lirih Halley, tuan Titan melihat kedalam mata
anaknya, ingatan kebersamaan mereka berdua terbesit dalam pengelihatan tuan
Titan, matanya kini melemah melihat tatapan putranya Halley.
“berikan
batu itu jika kau tidak ingin melihat putri kecilmu ini terluka” ujar pangeran
kegelapan, ‘Gloria masih memekai kalung rubi dariku, meski rubi telah melemah
tapi magis itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya’ pikir Gara, seandainya ia
bisa melakukan koneksi itu ia bisa mengendalikan pikiran Gloria, ‘apa koneksi
itu telah benar benar terputus?’ pikir Gara, ia tahu jika koneksi yang dulu
dibuatnya sangat kuat, meski tuan Alex telah berhasil memutuskan koneksi diantara
mereka, ‘aku akan mencobanya’ pikir Gara lagi, ia memfokuskan diri memberi tahu
Gloria untuk fokus pada kalungnya, bagaimanapun kalung itu seharusnya bisa
melindungi Gloria dari setiap magis yang menjeratnya, tapi itu tak berhasil,
Gloria tidak bereaksi apapun Gara tak pernah bisa meraih pikiran Gloria, Gloria
masih terlihat kesakitan, ia menggelengkan kepalanya perlahan berharap ayahnya
tak pernah menyerahkan batu itu, tuan Alex terlihat bimbang ia tak ingin jika
terjadi sesuatu pada putrinya, perlahan tuan Alex sedikit mengarahkan batu itu
pada pangeran kegelapan, Gara merasakan keraguan itu, pangeran kegelapan tetap terfokus pada
tuan Alex, Gara menatap tajam pada Gloria, dan Gloria membalas tatapannya,
“ka-lung-mu” ujar Gara tanpa menimbulkan suara berharap Gloria dapat membaca
gerakan mulutnya, Gloria menggelengkan kepalanya memberitahu Gara ia tak
mengerti apa yang dimaksudnya, Gara menunjukan lengannya kelehernya dan
mengejanya kembali “ka-lung-mu” Pangeran kegelapan memperhatikan dan ia juga menjerat
Gara dan menghempaskannya hingga ia terjatuh kedasar bukit. Gloria
memperhatikan kalungnya, ia mulai mengerti apa yang dimaksud oleh Gara, ia
mencoba fokus pada kalungnya setidaknya untuk melepaskan jeratan dari pangeran
kegelapan. Kalung Gloria mulai bersinar hingga akhirnya Gloria terjatuh, Gloria
dengan cepat menghampiri ayahnya, tuan Alex menarik kembali batu ditangannya,
pangeran kegelapan mulai bermain dengan magisnya lagi tapi itu tak berhasil
pada Gloria hingga akhirnya ia akan melakukannya pada tuan Alex, namun tiba
tiba tuan Titan melompat kearah tuan Alex sehingga magis yang diluncurkan
pangeran kegelapan tapat mengenai tubuh serigalanya hingga ia terjatuh dan
berubah menjadi manusia kembali, “tidak—ayah!” seru Halley berlari menghampiri
ayahnya, Gara berusaha bangkit dan kembali. Gloria menghampiri Gara saat Gara
muncul, “saatnya hampir tiba!” ujar tuan Alex. Pangeran kegelapan menghempaskan
tuan Alex dan batu itu kini tepat berada dihadapannya, Gara melakukan magisnya
untuk merebut batu itu dari genggaman pangeran kegelapan namun pangeran
kegelapan berhasil menangkis magis itu dan membuat Gara terjatuh, Halley
melompat menerjang pangeran kegelapan namun cara itu tak pernah berhasil
menghentikan pangeran kegelapan, diangkatnya batu itu kearah langit lalu
ditariknya kembali dan ia simpan tepat didadanya namun sebelum pangeran
kegelapan melakukannya Gara berhasil melayangkan sebuah mantra yang membuat
batu itu terjatuh, pangeran kegelapan murka dan mengalihkan pandangannya pada
Gara diangkatnya jemari tangannya namun Gloria melindungi Gara hingga magis
yang dilayangkan pangeran kegelapan tepat masuk kedalam kalung rubi Gloria
sehingga mantra itu berbalik pada pangeran kegelapan, mereka sama sama
terhempaskan karenanya, pangeran kegelapan bangkit dan mengarah pada batu itu,
sesuatu menggerakan batu itu, itu adalah Haxio, ia membawanya dengan
keseimbangan yang sangat tidak terjaga, dan Halley membantunya, pangeran
kegelapan menghempaskan Halley dan berhasil mendapatkan batu itu, pangeran
kegelapan menyadari waktunya tak lagi banyak hingga akhirnya ia benar benar
menyerap keluatan dari batu itu, dirasakannya kekuatan yang begitu besar
mengalir pada tubuhnya, semuanya kehilangan harapan ketika melihat kejadian
itu. Pangeran kegelapan tersenyum sangat puas hingga akhirnya sesuatu yang ia
tidak duga terjadi, tubuhnya dilubangi oleh cahaya merah yang ditimbulkan dari
batu itu “tunggu—tunggu bukan seperti ini seharusnya!” murka pangeran kegelapan
hingga akhirnya tubuhnya lenyap dengan meredupnya cahaya dari batu dewa itu.
Dan batu itu terjatuh kemudian berubah menjadi abu tak ada sisa sedikitpun.
Setiap mahluk mahluk tak wajar perlahan terhempaskan dan lebur menjadi abu,
termasuk Haxio.
“aku
tidak mengerti—apa—apa yang sebenarnya terjadi, bukankah—bukankah seharusnya
dia menjadi—sangat—”—“ dia terlamBat sayang!” sela tuan Alex, “walau dia hanya
sedikit terlamBat, 1000 tahun usia batu telah berlalu saat ia mencapai titik
sempurna tapi setelah itu ia akan mencapai titik terlemahnya meski itu hanya
untuk sesaaat, sepertinya pangeran kegelapan menyerap kekuatan batu itu saat
berada dititik yang salah sehingga ia menjadi hancur karenanya, energi yang
terkoneksi dengan batu terlalu besar untuk kondisi batu yang sangat lemah
sehingga menghancurkannya dan dengan hancurnya batu itu maka semua mahluk magis
yang tercipta darinya akan ikut hancur bersamanya” jelas tuan Alex, “setidaknya
ini semua berakhir” ujar Gloria dan memeluk hangat ayahnya.
Halley
tepat berada disamping ayahnya, meski ayahnya ikut campur terlalu besar
terhadap pangeran kegelapan tapi tuan Titan tetaplah ayahnya, dalam sadarnya
tuan Titan tersenyum menatap Halley. “ayah minta maaf nak” ujar lemah tuan
Titan, “aku tahu—aku tahu ayah tidak bersalaH sepenuhnya” ujar Halley mendekap
kuat tubuh ayahnya. Hingga akhirnya tuan Titan tak mampu bertahan dan
melepaskan nafas terakhirnya, Halley hanya menangis melihat kepergian ayahnya,
Gloria menghampiri Halley dan memeluknya berharap itu bisa membantu Halley.
Gara tegak berdiri dihadapan Gloria dan Halley, menatap tajam kearah mereka dan
seulas senyuman muncul diwajahnya.
…
“lihat
ini…” ujar Halley yang muncul dari belakang tubuh Gloria menunjukan sebuah
kalung yang terjuntai dihadapan Gloria, lalu duduk disampingnya, “cantiknya..”
ujar lebut Gloria dan meraih kalung itu, “kau menyukainya?” timpal Halley,
“hhaaahhhh… (membuang nafas) tapi itu hanya sebuah kalung biasa, kalung itu tak
dapat melindungimu dari apapun, tak seperti kalung pemberian Gara” ujar Halley
tanpa memandang Gloria sedikitpun ia hanya memusatkan pandangannya pada
hamparan bunga bunga dihadapannya, “kau tahu aku bukan penyihir” tambahnya
menatap Gloria, “kalau begitu aku tak membutuhkan kalung ini bukan?” ujar
Gloria dan itu membuat raut wajah Halley sedikit geram “hmm meski kalung ini
tak secantik kalung yang diberikan Gara untukmu, dan kalung ini tak dapat
melindungimu dari magis jahat—tapi ada satu hal yang mungkin dapat
dilakukannya” ujar Halley dan bangkit melangkahkan kaki kakinya menikmati
setiap pemandangan indah yang terbentang dihadapannya, Gloria mengikuti setiap
langkah yang dilakukan Halley, “apa?” ujar Gloria, “kalung ini akan membuatmu
tak akan pernah bisa jauh dariku” jelas Halley, dan Gloria tersenyum manis
karena ucapan Halley, “kau mengikatku sekarang?” ujar Gloria, “aaiisshh kau terlalu
percaya diri, aku tak bilang aku menerimanya” tambah Gloria dan pergi dari
Halley dengan melepas senyumannya, “kau—” kalut Halley dan mengejar Gloria.
Gara
memperhatikan dari kejauhan ia tak pernah melihat Gloria sebahagia itu bahkan
ia tak bisa membuat Gloria tersenyum sebahagia itu, Gara tak pernah melepaskan
pandangannya dari mereka tidak sedikitpun, ia tahu Gloria membutuhkan Halley
dan Halley satu satunya alasan yang membuat Gloria dapat tersenyum seperti itu.
-THE END-
FF_Sembilan Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Delapan belas
“Tuan!”
terdengar seseorang sedang berbincang dengan pangeran kegelapan dan tuan Jack
dapat mendengarnya, “kau—kau gagal melakukannya?” ujar pangeran kegelapan
sangat murka, “maafkan hamba tuan—hamba tak bisa menemukan batu itu, meski Alex
masih tak sadarkan diri, hamba—hamba telah mencarinya, tapi sepertinya ia
menyembunyikannya ditempat yang berbeda” ujarnya. Tuan Jack begitu memerhatikan
percakapan itu, bagaimanpun batu itu disinggungnya, “lihat jika kau berbohong!
Cxipto-ku yang akan mengoyak tubuhmu!” jelas pangeran kegelapan, “bagaimanapun
kau kini memiliki pecahan dari batu dewa kini” ujar orang itu, “tapi aku ingin
induk dari batu itu! Jika kau mengkhianatiku, kau tahu apa akibatnya!!!” tegas
pangeran kegelapan, “hamba mengerti! Hamba harus kembali sebelum mereka mulai
mencurigai hamba!” ujarnya. Tuan Jack masih memerhatikan ia sedikit heran
ketika hanya keheningan yang didengarnya, ‘dia pergi?’ dalam benaknya, ia
mencoba melihat jauh keluar tempat ia ditahan, tuan Jack terkejut melihat
seseorang yang sangat dikenalnya berjalan leluasa ditempat seperti ini,
‘Titan?—apa—apa yang dia lakukan disini?’ pikir tuan Jack, tapi ia memastikan
jika apa yang dilihatnya adalah suatu kekeliruan. “bukan—itu—itu bukan dia”
tegas tuan Jack pada dirinya sendiri. Tuan Jack mencoba memulihkan dirinya,
sekeras apapun ia mencari celah untuk melepaskan diri ia tak pernah bisa
melakukannya, magis yang ia miliki—pangeran kegelapan telah benar benar
menghisap magis yang dimilikinya melalui batu itu. Ia hanya terus menunggu dan menunggu
sampai pangran kegelapan akan memanggilnya kembali, tuan Jack tidak boleh
membuang banyak energinya.
Salah
satu cxipto datang dan membawa kembali tuan Jack untuk menemui pangeran
kegelapan, “katakan!” sentak pangeran kegelapan, “lebih baik kau membunuhku!”
timpal tuan Jack, pangeran kegelapan tak bereaksi apapun, ia hanya perlu
menggunakan pikirannya untuk menyakiti tuan Jack, tapi sesakit apapun tuan Jack
selalu bertahan, ia tak pernah ingin mengatakan apapun lagi tentang batu itu
pada pangeran kegelapan, “kau—” –“aku tahu jawaban yang kau inginkan tuan!”
sahut seseorang yang muncul dibalik kegelapan, tuan Jack benar benar tak
sanggup bertahan hingga ia tak sadarkan namun ia dapat melihat dengan jelas
siapa yang menemui pangeran kegelapan hingga akhirnya ia tak sadarkan diri,
“batu itu—batu itu akan bekerja sempurna saat batu itu tepat mencapai usia 1000
tahun, maka tuan akan dapat menyerap seluruh kekuatan dan magis yang ada pada
batu itu” jelas tuan Titan, “1000 tahun? Kapan!” tegasnya, “tak lama lagi,
hanya tinggal menunggu beberapa jam, tepat tengah malam ini!” lugasnya lagi,
“kau temukan batu itu?” timpal pangeran kegelapan, “Alex tetap tidak
memberitahuku, dan aku selalu mencarinya, saat dia sadar ia mengatakan hal
tersebut padaku tuan, ketika usia batu itu mencapai 1000 tahun maka itu adalah
titik sempurnanya” ujarnya.
Pangeran
kegelapan mempersiapkan pasukannya bagaimanapun ia harus mendapatkan batu itu
sebelum tengah malam tiba, diperintahnya para cxipto agar mereka bersiap.
Pasukan pangeran kegelapan luar biasa dalam segi kuantitas, mustahil untuk
dapat mengalahkannya. “pasukan telah disiapkan tuan… kami menunggu perintah
darimu!” ujar halus salah satu cxipto.
…
Malam
hampir tiba, para serigala selalu bersiap setiap malamnya disekeliling daerah
mereka memastikan saat pangeran tiba dan mereka akan mengetahuinya, tak lama
salah satu dari mereka melolong memberikan suatu pertanda, lolongan itu semakin
bertambah kencang hingga Gara dapat mendengarnya, ia meminta Halley untuk
segera menyiapkan pasukan, Gloria melihat dalam pengelihatnya mengenai
keberadaan ayahnya, dan memberinya pertanda agar mulai waspada. “mereka datang
tuan!” jelas Gara pada tuan Alex yang sedang mendekat kearahnya, “kuserahkan
padamu!” jelas tuan Alex. “Alex!” seru tuan Titan, “pangeran kegelapan semakin
mendekat, kita harus lindungi batu itu!” jelasnya, “ikutlah denganku” ujar tuan
Alex pada tuan Titan dan melangkah pergi.
Tiba
tiba anak anak panah melesat diantara mereka, dan Gara mengayunkan tongkat
sihirnya dan mementalkan kembali panah panah itu, Troll yang berjalan mendekati
mereka membuat mereka bergetar menahan keseimbangan agar tidak terjatuh, Troll
itu menatap kearah mereka dicabutnya sebuah pohon besar yang ada didekatnya
kemudian dilemparkannya pohon itu, Gara melihat posisi Halley yang hampir saja
tertimpa pohon itu sebelum Halley berhasil menghindar dan berwujud menjadi
seekor serigala, sesuatu menyerang dari arah belakang Gara hingga ia teratuh,
dilihatnya goblin sedang berusaha menusuknya dengan bilah pedang namun Gara
menendang goblin dengan kedua kakinya, peperangan berlangsung sengit, jumlah
yang sangat tidak seimbang membuat mereka masing masing harus mengatasi lebih
dari satu mahluk, Halley banyak menghadapi para Cxipto, Gloria terus
mengayunkan pedangnya menghadapi para goblin, dan Gara sedang mencoba
merubuhkan Troll yang sedang mengincarnya, beberapa kali ia mengayunkan tongkat
sihirnya namun Troll itu selalu dapat menghindar, Troll itu pada akhirnya
berhasil menghempaskan Gara hingga ia terlempar dan menabrak pohon dengan
punggungnya, Gloria membantunya bangkit, “kesalahan besar Troll bodoh!” ujar
Gara dan mengucapkan sebuah mantra yang berhasil merubuhkan tubuh besarnya,
kini Gara dan Gloria dikelilingi oleh Ogre, tubuh serigala Halley berlari
kearah mereka dan merubuhkan dua Ogre yang ada dihadapannya, kini mereka
bertiga saling membelakangi menatap kesagala arah, sedetik mereka saling
menatap hingga akhirnya Gara dan Gloria mengeluarkan pedang dan menyerang ogre
ogre itu dan Halley menyerang setiap ogre yang dapat dijangkaunya.
“ayahmu
Gloria!” ujar Gara yang masih sibuk menghadapi ogre ogre itu, “kita harus
memastikan ayahmu aman!” tambahnya lagi, “apa—kau—kau tidak lihat apa yang
sedang aku—lakukan sekarang—Gara!” ujar Gloria ynag terus mengayunkan pedang ditangannya,
“dalam hitungan tiga kalian pergilah! Serahkan mahluk mahluk jelek ini padaku!”
tegas Halley, Gara dan Gloria mengangguk perlahan dan masih mengayunkan pedang
mereka, Gara menggapai tangan Gloria dan menghilang dari situasi saat itu, mereka tahu Halley cukup tangguh untuk
menghadapi ogre ogre itu, “dimana kita?” ujar Gloria melihat ke keadaan
disekililing terlihat seperti sebuah lorong, dan sangat gelap, “entahlah—aku—”
ujar Gara dan memunculkan sinar dari ujung tongkat sihirnya, “aku—aku hanya memikirkan
tentang ayahmu, dan disinilah kita sekarang” ujarnya yang kemudian Gara
melangkah ditengah tengah kegelapan, “kau yakin?” ujar Gloria mengikuti setiap
langkah Gara, “aku lebih sering tersesat sebelumnya, jadi aku tak begitu yakin sekarang—hey! Ada
cahaya lain diujung sana!” ujar Gara dan mulai berlari kearahnya, “tuan Alex!”
ujar Gara saat mencapai suatu titik dan melihat dua orang yang sangat
dikenalnya, “ayah!” tambah Gloria dan berlari memeluk ayahnya!”—“cukup!
Pangeran kegelapan tak lama akan muncul!” jelas ucapan tuan Titan, “maksudmu
tuan?” ujar Gara, “pangeran kegelapan telah mengetahui tempat ini” ujarnya
perlahan, “berikan batu itu! Dia pasti akan mengincarmu karena batu itu,
biarkan aku membawanya!” jelas tuan Titan pada tuan Alex, “dia benar! Aku dapat
melihatnya sedang mendekat, baiklah…” ujar tuan Alex dan pergi untuk mengambil
batu itu saat hendak menyerahkan batu itu ketangan tuan Titan “braaakk”
seseorang muncul mendobrak pintu itu, “jangan pernah kau serahkan! Dia adalah
pengikut pangeran kegelapan!” ujar tuan Jack yang terlihat sangat lemah dan
kesakitan, “kau—bagaimana kau—”—“terkejut? Aku dapat melepaskan diri dari
tuanmu?” sela tuan Jack, tuan Alex menjauhkan kembali batu itu dari hadapan
tuan Titan “ kau bercanda? Dia—dia tidak mungkin—”—“kau selalu mudah ditipu!”
ujar tuan Titan, “akulah yang mengkhianatimu selama ini!” jelasnya lagi menatap
tajam pada tuan Alex dan merebut batu itu dari genggamannya, “tapi—tapi kenapa
tuan? Kau—tak sekalipun kau membiarkan kami terluka—kau selalu menolong
ayahku!” ujar Gloria, “ayah? Benarkah—kau—kau mengkhianati kami?” ujar Halley
yang muncul tiba tiba, “ya anakku, tetaplah bersamaku dan kita akan memenangkan
ini, menikmati kekuasaan pangeran kegelapan” ujar tuan Titan menatap putranya
Halley, “aku muak dengan semua ini, selalu kau yang mengambil alih Alex! Kau
selalu yang memimpin, seolah kau tahu segalanya! Kau—kau membuatku selalu
menjadi nomor dua dalam hal apapun!” lugas tuan Titan dengan segala amarahnya,
“orang tuaku? Kau ingat? Kau membunuhnya!” geramnya lagi, “orang tuamu
meninggal dan kau menyalahkan Alex?” ujar tuan Jack, “dia bisa menolongnya tapi
dia tidak melakukannya!” jelasnya, “aku terlalu takut saat itu Titan, sungguh
aku tak bermaksud membiarkan orang tuamu sekarat saat itu, kau tidak pernah
tahu akan apa yang akan ditimbulkan batu ini saat itu, aku tak ingin melukai
orang tuamu!” ujar tuan Alex mendekat pada tuan Titan, “jangan—jangan
mendekat!” ujar tuan Titan, “terlambat! Pangeran kegelapan hampir tiba” ujarnya
dengan seulas senyum diwajahnya, “ayah—kau—” lirih Halley yang benar benar tak
menyangka jika ayahnya yang selama ini berkhianat, “dan kau membuat seolah olah
tuan Jack yang mengkianati kita? Ayah yang selalu memberitahu pangeran
kegelapan akan keberadaan kita sehingga pangeran kegelapan selalu berhasil
menemukan kita?” ujar Halley, “kemarilah nak—kekuasaan akan ada ditangan kita!” jelas tuan Titan, “itukah
yang ayah inginkan? Bunuh aku! Aku tak akan pernah mau melakukannya!” tegas
Halley, “Alex! Pangeran kegelapan telah mengetahui jika batu itu berusia 1000
tahun maka ia benar benar menyerap magisnya dengan sempurna!” ujar tuan Jack,
“kau—kau tahu?” ujar tuan Alex, “aku tak akan heran jika kau yang
memberitahunya Titan?” ujar tuan Jack,
tak lama mereka merasakan aura yang sangat mengerikan, “apa dia muncul?”
ujar Gloria, “hampir…” ujar perlahan tuan Titan, dan sesuatu kini berada
dihadapan mereka, hanya pangeran kegelapan, “berikan batu itu!” ujar pangeran
kegelapan menatap kearah tuan Titan, “kau—kau..” ujar tuan Alex mulai merasakan
sesuatu yang tidak benar, “dengan segala kerendahan diriku tuan” halus tuan
Titan dan hampir menyerahkan batu itu dengan kedua tangannya sendiri,
“braaakk!” batu itu terjatuh karena magis yang dilakukan Gara dan Halley meraih
batu itu sebelum batu, “Halley—berikan itu!” tegas tuan Titan, “ayah harus
membunuhku jika ingin mendapatkannya” ujar Halley, pangeran kegelapan menatap
Halley “batu itu dapat menghidupkan kembali ibumu… dan aku bisa melakukannya
untuk mu..” ujar halus pangeran kegelapan yang terus menatap tajam kearah
Halley, dan menimbulkan pengelihatan
pada Halley, kini tepat dihadapan Halley terlihat kembali sosok yang sangat
dirindukannya, ibunya. Terlihat ibunya tersenyum hangat pada Halley seolah ia
akan tetap bersama Halley, Halley menatap batu yang kini dalam genggamannya
kemudia menatap ibunya kembali, ibu Halley hanya merespon dengan anggukan kecil
dan masih tersenyum seolah mengisyaratkan pada Halley untuk memberikan batu itu
pada pangeran kegelapan, “Halley—aku mohon jangan—jangan terpengaruh!” ujar
Gloria meraih tangan Halley, “kau—kau tak mengerti..” ujar Halley dan kembali
menatap batu itu dan pangeran kegelapan, perlahan tangannya terangkat “kau—kau
bisa melakukannya?” ujar Halley pada pangeran kegelapan.
FF_Delapan Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Tujuh belas
“Gloria!
Apa yang terjadi!” ujar Gara yang terkejut melihat keadaan tuan Alex,
“entahlah, saat aku kembali ayah sudah seperti ini” cemas Gloria ketakutan,
“Gara apa yang harus aku lakukan” tambahnya lagi. Tubuh tuan Alex berlumuran
darah. “tenanglah! Kita harus mengobati ayahmu, berikan ini dia harus
meminumnya, Gara! Tutuplah luka lukanya dia tidak bisa kehilangan lebih banyak
darah lagi!” jelas perintah tuan Titan. Gara mengeluarkan tongkat sihirnya
membacakan sebuah mantra untuk menutup setiap luka yang ada pada tubuh tuan
Alex, Gloria masih menangis melihat keadaan ayahnya, “sudahlah, ayahmu akan
baik baik saja, ramuan yang aku buat akan membuatnya pulih, pergilah… ayahmu
membutuhkan istirahat” jelas tuan Titan.
Gara
membawa Gloria dan meninggalkan tuan Alex bersama tuan Titan, mereka hanya
saling terdiam dan Gloria masih menangis, “ayahmu akan baik baik saja, ingat?
Tuan Titan memberinya ramuan yang akan memulihkan ayahmu” ujar Gara berusaha
agar Gloria berhenti cemas akan keadaan ayahnya. Tak lama tuan Titan
menghampiri mereka, “ayahmu mengambil resiko yang cukup tinggi, ia berusaha
masuk kedalam pikiran pangeran kegelapan” jelas tuan Titan, “maksud tuan?
Bukankah ia tak dapat melakukannya? Maksudku—bukankah pangeran kegelapan telah
mengetahui cara agar ayah Gloria tak dapat melakukan pengelihatan atau masuk
kedalam pikirannya?” ujar Gara, “yaa—tapi dia tetap melakukannya, aku mencoba
menghentikannya tapi dia terlalu keras kepala dan dia melakukan kontak dengan pangeran
kegelapan, namun ia tak berhasil hingga akhir, sampai akhirnya pangeran
kegelapan melakukan sesuatu terhadap ayahmu Gloria” ujarnya. “batu itu—apa
masih aman?” Tanya Gara, “tentu, Alex masih menyimpannya, tapi sayang kalungmu!
Kalung yang ayahmu berikan sepertinya kini ada ditangan pangeran kegelapan,
ayahmu menggunakan itu agar dapat menembus pertahanan pangeran kegelapan, dan
pangeran kegelapan mendapatkannya namun syukurlah ayahmu dapat kembali”
jelasnya lagi.
Tuan
Alex masih tak sadarkan setelah beberapa hari berlalu, namun pasukan tetap
dipersiapkan mereka mulai menyusun rencana ketika pangeran kegelapan memutuskan
untuk kembali melakukan penyerangan. Mereka semua terus berlatih tanpa peduli
seberapa lelah mereka, mereka harus memenangkan peperangan ini.
Hari
terus berganti, masih tidak ada pertanda yang dibuat oleh pangeran kegelapan,
sejauh ini mereka masih bisa bernafas, namun bernafas dalam ketakutan, kemelut
kecemasan sangat mereka rasakan. “apa rencana kita sekarang?” ujar Halley, “apa
kita hanya akan menunggu?” tambahnya lagi, “ayahku masih tak sadarkan diri, dan
jika pangeran kegelapan memiliki kalung ayah, maka…”—“ kekuatannya semakin
bertambah, aku sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana ia akan menggunakan
batu itu, meski itu hanya bongkahan kecil… namun tatap saja batu itu sangat
kuat” sela tuan Titan, “tak adakah kelemahan dalam diri pangeran kegelapan?”
ujar Gara, “pasti ada celah untuk mengalahkannya” tambahnya lagi, “walaupun ia
memiliki kelemahan, tapi akan sulit untuk menemukannya bukan?” jelas tuan
Titan, “jika batu dewa dapat membuatnya menjadi semakin kuat, apa batu itu juga
dapat melemahkannya?—maksudku dapatkah ia bekerja sebaliknya—dari
menguatkan—justru malah menghancurkannya?” ujar Halley, “Hanya Alex yang
mengetahui secara pasti tentang batu itu” jelas tuan Titan.
….
Beberapa
hari ini langit tak pernah terlihat sebiru hari hari sebelumnya, matahari tak
sepenuhnya menyinari bumi, seringkali terjadi kabut dan awan awan gelap
sehingga membuat suasana menjadi gelap dan terasa asing. Disisi lain sudut
dunia ini sesuatu yang sangat gelap siap untuk menaklukan alam semesta.
Pangeran kegelapan masih bisa bernafas dengan sangat tenang menikmati setiap
kekuatan yang dimilikinya, “batu kecil ini telah memberiku kekuatan yang tak
dapat aku duga, jika aku benar benar
bisa mendapatkan batu itu, maka dunia ini akan takluk dalam genggamanku!” tegas
pangeran kegelapan, “kau tidak akan mendapatkannya!” ujar tuan Jack yang terkulai
lemah dihadapan pangeran kegelapan, “aaahhhh aku hampir saja melupakanmu…
percayalah batu itu pada akhirnya akan aku dapatkan!” seru pangeran kegelapan
kemudian memandang tajam tuan Jack, seketika tuan Jack merasakan kesakitan yang
teramat sangat, beberapa kali ia harus menjerit karena rasa sakit yang
diberikan pangeran kegelapan, “aku suka suara itu!” ujar pangeran kegelapan
yang perlahan menghampiri tuan Jack, tubuh tuan Jack kini terangkat perlahan
hingga ia tidak menyentuh dasar, tubuhnya terasa diikat oleh sesuatu yang
sangat menusuk, “ka—kau—kau i—ingin mem—bunuh—ku? Laku—lakukanlah!” ujar tuan
jack meringis kesakitan, “tidak untuk sekarang!” jelas pangeran kegelapan dan
menghempaskan tubuh tuan Jack hingga tersungkur dan membentur tembok. Kepala
tuan Jack seakan terasa akan meledak, sesuatu seperti menghancurkan bagian
dalamnya, ia terus menjerit kesakitan, “tengah malam nanti akan aku dapatkan
batu itu!” jelas pangeran kegelapan sekali lagi mengangkat tubuh tuan Jack
perlahan, “dan saat itu terjadi, aku akan membuatmu merasakan indahnya kematian
dalam genggamanku” tegasnya, tuan Jack geram dan tak bereaksi apapun,
dilemparkankan kembali tubuhnya dan cxipto cxipto itu membawanya kembali
kedalam tahanan. “kau akan membusuk disini!” ujar salah satu cxipto.
FF_Tujuh Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Enam belas
Semuanya
kini berkumpul, semua pasukan yang tersisa menunggu perintah dari tuannya, tuan
Alex memerhatikan keadaan sekelilingnya dilihatnya hanya sedikit pasukan yang
dimilikinya, dilihatnya orang orang yang harus ikut berjuang untuk melindungi
batu dewa, tuan Alex menatap dalam dalam putrinya, ia tak ingin kehilangannya
lagi untuk kedua kalinya. “kini aku tak dapat memantau kembali pikiran pangeran
kegelapan, aku bahkan tak bisa melihat penyerangan hari ini, dan terlalu banyak
dari kita yang gugur, namun aku masih bisa melihat seberapa kuat pasukan yang
dimiliknya” ujar tuan Alex, dan terlihat raut raut wajah yang mulai pesimis
akan semua hal yang mungkin terjadi, semuanya menghela nafas secara perlahan
beberapa menundukan kepala mereka seolah mereka tak tahu lagi bagaimana mereka
harus bertidak, “kau menyerah!” tegas salah satu diantara pasukannya, seekor
tikus kecil bahkan lebih kecil dari Haxio muncul kepermukaan, dengan gagah ia
menunjukan pedangnya “itukah yang dilakukan oleh seorang pemimpin pasukan perang?
Menyerah?” ujarnya, “jangan pernah memulai untuk sesuatu yang tak ingin kau
akhiri tuan!” jelasnya lagi. “dia benar!” tegas Halley melangkahkan kakinya
hingga kini ia benar benar ada ditengah tengah pasukan, “dari jumlah mereka
memang lebih banyak, tubuh tubuh mereka juga jauh lebih besar dari kita! Lalu
apa yang salah!” ujarnya dengan lantang, “kita masih bisa mengatur strategi
peperangan kita, mungkin mereka jauh lebih tangguh, tapi kita? Kita jauh lebih
pintar dari mereka bukan?” jelas Halley, “lalu apa yang akan kita lakukan?
Lebih mudah hanya dengan berkata!” seru salah satu serigala yang ada ditempat
itu, “jadi apa kau ingin menyerah? Tunduk dibawah pangeran kegelapan? Menjadi
budaknya seumur hidupmu?” ujar Halley dengan nada suara yang cukup tinggi
menatap tajam kesekelilingnya, “jika kita harus kalah, itu bukan karena kita
mengalah atau bahkan mundur, jadilah pemberani! Kau takut pada kematian? Bahkan
jika kau menyerah sekalipun pangeran kegelapan tak akan membiarkan kalian
merasakan kehidupan!” tambah Gara membantu Halley, “kita akan mengatur strategi
kembali, dan aku yakin itu akan berhasil” ujar Halley, “kalian bersama kami?”
tambah Gara mengangkat tinggi pedang ditangannya, Halley melakukan hal yang
sama disusul Gloria, tuan Titan, Tuan Alex dan Haxio, untuk beberapa saat tak
ada reaksi yang ditimbulkan dari pasukan perang, namun perlahan mereka
melangkahkan kakinya satu langkah kedepan dan beberapa mengangkat pedang
mereka, bersorak untuk tetap melawan pangeran kegelapan, mata Gara dan Halley
bertemu mereka saling tersenyum karena berhasil meyakinkan pasukan mereka.
Malam
semakin larut, “Gara! Gloria! Kemarilah” ujar tuan Alex, “minumlah ini!”
tambahnya menyodorkan dua gelas ramuan yang telah dibuatnya, ramuan dengan
nyala berwarna biru. “Aku tak ingin kalian saling menyakiti satu sama lain,
rasanya akan terasa sakit, tapi setelah itu koneksi diantara kalian akan
terputus” jelas tuan Alex, Gloria dan Gara meraih gelas itu, saling memandang
satu sama lain, “anda yakin ini akan berhasil tuan?” ujar Gara ragu, “sudahku
bilang magis yang dimiliki batu dewa
lebih dari cukup untuk memutuskan
koneksi diantara kalian” ujar tuan Alex. Gloria mulai meminum ramuan itu
dan kemudian Gara juga melakukannya, mereka sama sama berhenti pada satu
tegukan pertama, raut wajah mereka sungguh mengerikan, mereka seperti meminum
sesuatu yang menjijikan, “apa yang kalian harapkan? Segelas jus apel?” ujar
tuan Alex, mereka berdua meminumnya kembali memastikan mereka tak akan berhenti
sampai gelas itu benar benar kosong, Gara mulai menjerit kesekitan dan
menjatuhkan gelas miliknya, tubuhnya ambruk, dan ia meringkuk kesakitan, tak
lama hal serupa dialami Gloria, Halley dengan cepat meraih Gloria agar tak
terjatuh, tubuhnya menopang Gloria, tangannya mencengkram tangan Gloria, mereka
berdua benar benar kesakitan, tuan Alex mencoba menenangkan Gara, “apa kau
ingin membunuhku!” tegas Gara kesakitan, matanya membelalak, dan tubuhnya penuh
dengan keringat. “bertahanlah, tak akan lama!” jelas tuan Alex, butuh cukup
waktu hingga jeritan kesakitan mereka melemah, Halley dapat merasakan
cengkraman kuat dari Gloria perlahan lahan melemah hingga akhirnya mereka
berdua tak sadarkan diri. Halley merangkul Gloria membantunya agar Gloria dapat
berbaring dengan nyaman.
“biarkan
mereka beristirahat!” jelas tuan Titan memastikan Halley dapat sejenak
meninggalkan Gloria, “Jack..” ujar tuan Titan “apa menurutmu yang sedang
terjadi dengannya sekarang? Akankah ia membocorkan mengenai segala sesuatu yang
ia ketahui seperti dulu?” tambah tuan Titan pada tuan Alex, “jika itu sengaja..
aku rasa itu tidak akan terjadi, tapi jika pangeran kegelapan mempengaruhi
kesadaran Jack itu bisa saja terjadi” jelas tuan Alex yang kini terduduk
disamping putrinya, “dia bisa melakukan itu?” ujar Halley, “aku rasa…” ujar
tuan Alex, “bukankah kau bisa melakukan kontak dengan tuan Jack sebelumnya? Kau
tak mencoba melakukannya sekarang?” tambah Halley, “aku sudah pernah mencobanya
tapi tak berhasil” jawab tuan Alex, “sudahlah Halley kau harus beristirahat
sekarang!” seru tuan Titan.
…
Gara
perlahan mulai membuka matanya, tidak dilihatnya seorangpun berada
disekitarnya, ia mencoba bangkit dan mengambil langkah, dilihatnya Gloria
tengah bersama Halley terlihat sedang berlatih anak panah, Gara mengamati sisi
lainnya dilihatnya Haxio sedang berlatih dengan pedangnya, semua pasukan kini
tengah bersiap untuk segala kemungkinan, Gara mengambil pedang dan tongkat
sihirnya, menghambil nafas yang cukup dalam kemudian menghempaskannya, ia masih
terdiam, mencoba untuk merasakan dan masuk kedalam pikiran Gloria namun tak
ditemukannya apapun, ‘ramuan itu benar benar bekerja’ pikir Gara dalam
benaknya, meski begitu Gara kini sangat lemah, ia terlalu sering membagi
energinya terakhir ia berikan pada Gloria, sekali lagi ia membagi energinya maka
entah apa yang bisa terjadi pada tubuh Gara.
Gara
mulai melangkahkan kaki kakinya, mencari suatu tempat untuk berlatih seorang
diri, ia juga harus memperoleh energi baru jika ia bisa, ia mencoba melakukan
beberapa magis, magis yang dimilikinya masih cukup kuat dalam bereaksi, Gara
memunculkan setangkai bunga lily melalui tongkat sihirnya membuat bunga itu
melayang tepat dihadapannya, “kau merindukanku?” ujar Halley dari arah belakang
tubuh Gara, Gara yang sedikit terkejut membuat bunga lily itu terjatuh,
“kau—merindukanmu? Aku bahkan sangat ingin membunuhmu!” ujar Gara tajam pada
Halley, “kita harus berlatih bukan? Ayolah! Kita uji seberapa kuat kau kini”
tantang Halley, Gara dengan sigap mengeluarkan pedangnya dan menunjukannya
tepat kearah Halley, “bersiaplah!” tegas Gara, “aku tak akan berhati hati
lagi!” jelas Halley, ia tahu jika kini meski ia melukai Gara tak akan terjadi
hal apapun pada Gloria. Halley bersiap dengan pedang ditangannya, memutar
mutarkannya dan berputar mengelilingi Gara, “ada yang ingin aku tanyakan
padamu” ujar Halley tenang dengan sedikit memainkan pedang ditangannya, “apa?
Apa kau akan bertanya mengenai Gloria?” ujar Gara yang mulai sedikit rileks
dengan pedangnya dan mencoba untuk menyimpan tongkat sihirnya kedalam bajunya,
“kalungmu!” jelas Halley dan mengayunkannya tepat kearah Gara dan Gara berhasil
menangkisnya sehingga pedang mereka saling beradu, “maksudmu?” ujar Gara dan
memberi penekanan pada pedang milik Halley kemudian memutarnya, sehingga posisi
pedang Halley tepat mengarah kehamparan rerumputan, Halley melakukan pergerakan
dan mencoba untuk melawan hingga pedang mereka kembali beradu, “sewaktu kalian
sekarat, saat Gloria terkena anak panah yang beracun, saat kalung pemberian
tuan Alex meredup, kalung milikmu mengeluarkan cahaya yang cukup besar sehingga
kalian tersadar pada akhirnya” ujar Halley yang kemudian menekan pedang milik
Gara dengan pedangnya, satu ayunan dari pedang Gara dan itu menjatuhkan pedang
Halley dan kini ujung pedang Gara hampir menyentuh leher Halley yang terjatuh
tepat dihadapannya, “itu bukan urusanmu bukan?” jelas Gara dan menarik kembali
pedangnya, berjalan perlahan meraih pedang Halley yang terjatuh dan melemparnya
kearah Halley, tentu Halley berhasil menangkapnya dan kemudian bangkit, “hanya penasaran”
lugas Halley menatap tajam pada Gara, mereka terdiam Gara terdengar mengambil
nafas kemudian menghempaskannya berjalan dan duduk dihamparan rerumputan
memandangi bukit yang jauh berada disebrangnya, “racun itu hanya bekerja pada
Gloria tidak untukku, namun tubuhku tetap menerima reaksi yang sama, kalung itu
aku buat khusus untuk melindungi Gloria, dan aku memasukannya sebagian dari
energi dalam tubuhku, kalung ayahnya memang bekerja untuk mematikan racun yang
terus menjalar pada tubuh Gloria, namun tidak cukup kuat, hingga akhirnya
kalung dariku merespon dan mengeluarkan energi yang aku simpan didalamnya, dan
tubuhku juga melakukan hal yang sama aku menambah jumlah energy untuk dapat
menyelamatkan Gloria, tapi aku tidak yakin dengan efek cahaya yang
dihasilkannya, mungkin karena magis dari rubiku dan batu tuan Alex bertemu
sehingga tadi kau mengatakan jika efek cahaya yang dihasilkannya cukup besar”
ujar Gara. Halley yang telah terduduk disamping Gara terlihat seperti
memikirkan sesuatu, “sebesar itukah rasa kau ingin melindunginya?” ujarnya
perlahan tanpa memandang Gara sedikitpun, “jauh lebih besar dari yang kau bisa
bayangkan, kau juga harus melakukan itu, karena—mungkin nanti aku tak bisa
melakukannya” ujar Gara menepuk pundak Halley dan pergi begitu saja, langkah
langkah kaki Gara sungguh terasa berat, tapi jika ia harus melepas Gloria—saat
ia tidak bisa melindunginya lagi maka ia hanya ingin melepasnya pada Halley.
Halley bangkit dan memandang kearah Gara hingga Gara menghilang dari
pandangannya.
FF_Enam Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Lima belas
Keesokan
harinya semuanya kembali berlatih, “kau yakin akan melakukannya lagi denganku?”
ujar Halley pada Gara, “kau takut?” timpal Gara mengarahkan pedangnya pada
Halley, “aku hanya tidak ingin Gloria terluka lagi!” jelas Halley, Gara
terdiam, ia tahu Halley benar, ia juga tak bisa membiarkan Gloria terluka lagi
karenanya, “ayolah! Aku akan baik baik saja, kalian harus berlatih!” tegas
Gloria yang datang menghampiri mereka, “ayo! Aku ingin melihat kalian
berlatih!” tambahnya, “hai nona! Kau juga harus berlatih untuk mempertahankan
dirimu” jelas Gara, “aku sudah melakukannya dengan Haxio, kami berlatih
memanah, jadi sekarang aku bisa melihat kalian” ujar Gloria, “jadilah laki
laki” ujar Haxio yang tak berada jauh dengan Gloria. “baiklah jika begitu!”
ujar Halley, “pertahankan dirimu dengan baik agar aku tidak melukai Gloria
lagi!” tambahnya, “tak akan pernah ku biarkan kau menyentuhku kali ini!” tegas
Gara. “jangan gunakan magismu!” seru Halley, “itu tak adil bukan?” jelasnya
lagi, “jadilah pria! Aku tak akan melakukannya sekarang!” timpal Gara.
Mereka
memulai dengan saling memberi penghormatan sebelum akhirnya pedang mereka mulai
beradu satu sama lain, sejauh ini mereka dapat bertahan, meski beberapa kali
Gara terjatuh dan harus berguling untuk menghindari arah pedang yang digunakan
Halley, tak jarang itu terjadi pada Halley, hingga akhirnya Halley kembali
terjatuh, dan ujung bilah pedang Gara tepat mengarah kemata Halley, Gara
tersenyum menggoda Halley, meyakinkan dirinya yang tangguh kali ini, namun tiba
tiba kegelapan menyelubungi mereka, Gara menurunkan pedangnya mengamati keadaan
sekitarnya, Halley segera bangkit dan meraih lengan yang ditawarkan Gloria
untuk membantunya, Haxio dengan cepat naik kepundak Gara, “ada apa ini?” ujar
Haxio, “peringatan!” ujar Gloria dan Gara, mereka dapat melihat pangeran
kegelapan memberikan tanda kegelapan sebagai tanda peringatan dengan awan awan
gelap yang dikirimnya kewilayah mereka, semua pasukan yang tengah berlatih
dengan seketika menghentikan kegiatan berlatih mereka memandangi keadaan
sekitar, langit yang selalu berseri dengan matahari yang begitu cerah tiba tiba
tertutupi oleh awan awan gelap.
Gara
dan yang lainnya berlari untuk menemui ayah Gloria, Haxio benar benar
berpegangan pada kerah baju yang dikenakan Gara, Halley menggenggam erat
pergelangan tangan Gloria memastikan Gloria baik baik saja. Semua pasukan
berkumpul pada satu titik, “tenanglah!” seru tuan Alex mencoba menguasai
situasi saat ini “ini hanya peringatan! Pangeran kegelapan belum mengetahui
keberadaan kita secara pasti! Tapi kita harus lebih waspada sekarang! Siapkan
diri kalian!” ujar dengan tegas tuan Alex, “bahkan mungkin kita yang akan
mendatangi pangeran kegelapan!” ujarnya lagi, semua pasukan tuan Alex bersorai
memaknai semangat peperangan mereka.
“aku
mohon pakailah kembali kalung ini!” ujar Gara, “aku hanya ingin memastikan kau
baik baik saja” tambahnya, “kalung darimu sudah cukup untukku, bukankah tubuh
kita sekarang ini terkoneksi? Kau punya keharusan untuk melindungiku bukan?
Gunakan itu untuk melindungiku” timpal Gloria, “ayolah Gara…” tambahnya lagi.
“berapa kali lagi kita harus bicarakan hal ini?” jelas Gloria.
Gara
masih terdiam, namun Gloria memutuskan untuk pergi meninggalkan Gara seorang
diri. Halley kemudian menyusul Gloria dan membawanya kesuatu tempat “Hey!
Tunggu!” sahut Halley menghentikan langkah kaki Gloria, “yaa?” jawabnya,
“ikutlah denganku, ada yang ingin aku tunjukan padamu!” ujar Halley meraih
lengan Gloria dan membawanya kesuatu tempat. “baiklah.. apa kita sudah sampai?
Bisa aku membuka mataku sekarang?” ujar Gloria yang dalam kondisi mata tertutup
karena Halley, “hampir…” timpal Halley, “sekarang kau boleh membuka matamu”
ujar Halley kembali, “indah bukan?” ungkap Halley menunjukan satu pemandangan
yang benar benar indah, kini mereka berada diatas sebuah bukit, mereka dapat
melihat apapun dari bukit itu, awan awan gelap itu perlahan pergi, memunculkan
birunya langit kembali, terlihat burung burung berterbangan diatas sana
menggambarkan kebebasan, Gloria juga dapat melihat banyak bunga bunga yang
sangat cantik, dan beberapa ekor kupu kupu mendekat padanya, Gloria mengangkat
sebelah tangannya hingga seekor kupu kupu bersayapkan biru dengan corak hitam
yang cantik hinggap dijemarinya, Gloria hanya dapat tersenyum atas apa yang dilihatnya
kini, “aku harap ini akan—akan terus seperti ini” ujarnya, “akan aku pastikan
itu untukmu!” jelas Halley. “ayo kita lihat seberapa hebat kau dalam memanah!”
ujar Halley memberikan anak panah dan busur milik Gloria, “kau akan terkejut!”
timpal Gloria.
Gloria
mulai memasang sasarannya, sebuah pohon besar tepat didepannya, tangan tangan
lembut Gloria mengangkat busur panah dan melayangkan anak panahnya, “waw! Itu
meleset—maaf..” ujar Halley menggoda Gloria, Gloria mengambil anak panah
lainnya dan meluncurkannya kembali, “Haa—tepat bukan?” ujar Gloria bangga
karena anak panahnya tepat terpusat pada pohon bidikannya. “Aarrgghht!” jerit
Gloria, sebuah anak panah mengenai bagian perutnya, Halley seketika langsung
berubah menjadi seekor serigala dan membawa Gloria dipundaknya, ia berlari
sekencang yang ia bisa.
“Ini
peperangan!!!” jelas tuan Alex setelah melihat puluhan anak panah melesat
dihadapannya, semua pasukan siap pada posisi mereka, membentuk barikade untuk
pertahanan mereka, Gara terjatuh seketika, dan tuan Titan meraih Gara, “Alex!
Anakmu!” jelas tuan Titan yang tersadar jika terjadi sesuatu pada Gloria,
“uruslah anak itu! Aku akan mencari Gloria!” jelas tuan Alex, tak lama Halley
muncul dalam sosok seorang manusia dengan Gloria yang terkapar dipangkuannya,
tuan Alex menggapai Halley dan merangkul Gloria, lalu meminta Alex agar dapat
menangani keadaan untuk sementara, dibaringkannya Gara dan Gloria di tempat
peristirahatan mereka, “Haxio! Pakaikan kalung Gara pada Gloria juga!” jelas
perintah tuan Alex, Haxio segera melakukannya, “ambilkan aku air kehidupan!”
perintahnya sekali lagi, “ayolah—bertahanlah—ini—ini akan berhasil” ujar tuan
Alex cemas dan meneteskan air kehidupan tepat diatas batu permata, hingga batu
itu menyerap setiap tetesan air kehidupan “sudahlah! Pergilah, mereka butuh
pemimpin, biar aku yang menangani mereka berdua” jelas tuan Titan, tuan Alex
mencium kening Gloria, “kau—kau harus memutuskan koneksi diantara mereka!” ujar
tuan Alex sebelum melangkahkan kakinya dan pergi.
“racun
dari para Cxipto itu harus bisa ternetralisir—ayolah—aku tak mungkin membunuh
salah satu diantara mereka!” ujar tuan Titan, “membunuh? Apa maksud ayah?” ujar
Halley yang muncul tiba tiba, “aku harus memutuskan koneksi diantara mereka,
jika tidak mereka berdua yang akan mati!” jelas ayah Halley, “tidak—ayah tidak
bisa melakukannya! Pasti—pasti ada cara lain!” ujar Halley menatap tajam mata
ayahnya. “jika ini berhasil—ayah tak perlu melakukannya nak!—mereka tak
bereaksi apapun!” ujar tuan Titan.
Keadaan
diluar sungguh kacau, Halley tak mungkin hanya berdiam diri iya kembali untuk
berperang, sementara ayahnya dan Haxio menjaga Gara dan Gloria, serangan dari
udara yang dilakukan para burung elang cukup membantu dalam melumpuhkan lawan,
namun terlalu banyak anak panah yang pada akhirnya melumpuhkan pasukan mereka,
terlebih dengan racun dari para Cxipto itu. Halley menyerang para goblin yang
berada dibawah pengaruh pangeran kegelapan, beberapa kali ia terluka, namun ia
harus tetap bertahan. Tuan Alex pergi kesuatu tempat untuk memastikan bahwa
batu dewa tetap aman, meski ia tahu jika menghancurkan batu dewa adalah salah
satu cara untuk membantai habis pasukan pangeran kegelapan, meski demikian ia
tak mungkin menghancurkan pasukannya sendiri. Ia harus meraih batu itu dan
membiarkan magisnya bekerja sesuai perintahnya, agar pasukannya tidak
terpengaruh pada magis yang dikeluarkan oleh batu itu. Halley tahu ia harus
melindungi tuan Alex ditengah tengah peperangan yang sedang terjadi.
Gara
dan Gloria masih tak sadarkan diri, “ayolah nak—kalian harus bertahan!” ujar
tuan Titan, kalung itu masih bersinar, dan itu adalah pertanda baik, karena
jika kalung itu redup maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka berdua.
Pangeran
kegelapan sama sekali tak berada disini, terlihat beberapa nox mengejar tuan
Alex, dan Halley mengejarnya meski ia tak tahu harus seberapa cepat lagi ia
berlari untuk menghentikan mereka. Hingga ia berhasil menggigit salah satu nox
yang hampir saja menyentuh tuan Alex, dan dilemparnya nox itu oleh Halley, Tuan
Alex berhasil meraih batu itu dan dengan cepat menggunakan magisnya untuk
menghempaskan para pengikut penguasa kegelapan, hingga cahaya yang cukup besar
menyelimuti wilayah peperangan, dan semua pengikut pangeran kegelapan berubah
menjadi abu, begitu juga untuk setiap mahluk yang gugur dalam peperangan itu,
sementara pasukan tuan Alex yang masih bertahan tidak terpengaruh pada kekuatan
batu dewa.
“bagaimana
bisa aku tidak dapat melihat keputusan pangeran kegelapan!” gerutu tuan Alex
dan memasuki peristirahatan putrinya, “bagaiamana dengan anakku dan Gara?”
tambahnya, “koneksi yang diciptakan Gara terlalu kuat, sulit untuk diputuskan”
jelas tuan Titan, tak lama Halley muncul “mereka masih tak sadarkan diri?”
ujarnya, cahaya dari kalung itu perlahan
meredup, tuan Alex meraih pergelangan Gloria menggenggamnya dengan keras,
hingga akhirnya kalung rubi yang dikenakan Gloria ikut bersinar, sinar biru
perlahan keluar dari rubi itu dan masuk kedalam batu permata yang ada pada
kalung milik Gloria, hal itu menimbulkan efek cahaya yang lebih besar hingga
orang orang yang berada disekitar Gara dan Gloria terhempas, dan akhirnya
mereka berdua sadarkan diri.
Haxio
dengan cepat melepaskan kalung itu setelah Gara dan Gloria membuka mata mereka,
tuan Alex memeluk putrinya, “apa yang terjadi?” ujar Gloria, sepertinya Gara
masih terlalu lemah untuk dapat bereaksi, “bangunlah jagoan!” seru Haxio
meloncat loncat diatas tubuh Gara, “hey.. apa yang kau lakukan” ujar Gara lemah
dengan seulas senyum diwajahnya, “ayolah! Kita harus memutuskan koneksi
diantara kalian, batu dewa jauh lebih cukup untuk memutuskan energinya” ujar
tuan Alex. “aku akan membuatkan ramuan untuk kalian, tunggulah” tambahnya lagi
dan meninggalkan ruangan itu.
“Gara!
Kalungmu… emm—rubinya tak lagi berwarna ” ujar Gloria saat memerhatikan kalung
yang dikenakannya, “entahlah, aku juga tak mengerti” ujar Gara, ia tahu jika
rubi itu telah bereaksi, energi yang ada didalamnya telah masuk pada tubuh
Gloria, kini kalung itu tidak sekuat seperti semula, “maaf!” ujar Gloria, “apa
kau sedang meminta maaf kerena kalung
itu tak lagi memiliki warna?” ujar Gara dengan seulas senyumnya, “boleh aku
tahu mengapa kau tak pernah ingin melakukan koneksi denganku? Selain kau takut
jika aku akan terluka jika kau terluka… bahkan kini aku hampir saja membunuhmu”
ujar Gloria, “iya! Kau begitu ketakutan jika kau harus melakukan koneksi dengan
Gloria” tambah Halley, “Haxio! Pergilah memeriksa keadaan pasukan kita!” ujar
tuan Titan, “aku akan menemui ayahmu” ujarnya lagi pada Gloria.
Susana
menjadi hening sejenak, Gara mencoba mengambil nafas, “bukan karena aku takut,
sama sekali bukan itu alasanku, melakukan koneksi denganmu sungguh aku ingin
bahkan aku selalu ingin bisa melakukannya, aku ingin bisa melihat apa yang kau
lihat, bisa merasakan apa yang kau rasakan, aku selalu ingin bisa melihat
kedalam pikiranmu… melakukan semacam emm—koneksi denganmu… aku hanya tak ingin
kau terluka disaat aku terluka—hanya itu” jelas Gara, meski ia harus berbohong
untuk ucapan terakhirnya, Gara hanya takut jika Gloria menyadari sesuatu yang
saat ini tak diketahuinya, jelas mengenai apa yang dirasakan Gara untuknya,
Gara hanya tak ingin merubah segala sesuatu yang telah dijalaninya bersama
Gloria dan ia tahu hanya Halley yang ada dihati Gloria, dengan sangat jelas
Gara dapat merasakan hal itu, “setidaknya tuan Alex akan memutuskan koneksi
yang kau buat untuk Gloria, jadi kau tak perlu merasa cemas lagi bukan?” jelas
Halley dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Keadaan
semakin buruk, meski pasukan pangeran kegelapan telah berubah menjadi abu
karena magis dari batu dewa, namun tentu itu hanya sebagian kecil dari
pasukannya, sementara pasukan tuan Alex terlalu banyak yang berguguran, rasanya
tak akan pernah bisa sebanding, tuan Alex harus mengatur rencana kembali dan
lebih waspada, bagaimanapun pangeran kegelapan telah berhasil menutup
pikirannya sehingga tuan Alex tak dapat melihat atau membaca mengenai setiap
tindakan dan rencana dari pangeran kegelapan, jika ia benar tuan Jack yang
memberitahu pangeran kegelapan atas apa yang bisa dilakukan oleh tuan Alex,
karena sekarangpun tuan Alex tak bisa melakukan pengelihatan atau masuk dalam
pikiran rekannya itu.
FF_Lima Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Empat belas
Gara
memperhatikan setiap langkah yang diambil Gloria hingga Gloria benar benar bisa
menggapai Halley, “sudahku bilang untuk menjaga pikiranmu bukan?” ujar Haxio
membuyarkan pandangan Gara, “kau ingin bertarung denganku?” ujar Gara menatap
Haxio, “dengan segala kehormatan!” jawab Haxio dan mengayunkan pedangnya.
Malam
mulai menghampiri, mereka melakukan makan malam ditengah perapian berbincang
satu sama lain, “Gara?” seru tuan Alex, “ya tuan?” jawab gara menghentikan
makannya, “bagaimanapun koneksi antara kau dan putriku harus segera terputus,
agar kalian tak melukai satu sama lain!” jelas tuan Alex, “tapi
tuan—bukankah—koneksi dapat terputus hanya dengan sebuah kematian salah satu
diantara mereka?” jelas Halley, “itu seperti syarat mutlak—tapi jika koneksi
ini terus berlangsung diantara kalian, ini akan sangat berbahaya, kalian harus
saling menjaga satu sama lain agar salah satu diantara kalian tidak ada yang
terluka” ujar tuan Alex, “maaf—maaf jika itu soal luka yang dialami putrimu
tuan” jelas Halley, “sudahku bilang ini bukan salahmu” tegas Gloria menatap
keraah Halley, “ayah—sunggu tak apa, aku bisa melindungi Gara dengan menjaga
diriku begitu juga dengan Gara” jelas Gloria, “terserah pada kalian jika
begitu” tegas tuan Alex,
“ada
apa denganmu Alex?” ujar tuan Titan, “entahlah, aku benar benar tak bisa
mengetahui dimana Jack berada sekarang, apa menurutmu kini ia berhati hati ?
bagaimanapun ia kini berada pada genggaman pangeran kegelapan” jelas tuan Alex
yang kini terduduk diatas sebuah batu memandangi kegelapan malam bersama tuan
Titan sahabatnya, “kau—bagaiman kabarmu? Aku bahkan tak sempat bertanya itu
padamu!” jelas tuan Alex, “cukup buruk sampai akhirnya aku bisa terlepas dari
jeratan pangeran kegelapan, sayang—istriku tak dapat bertahan” lirih tuan
Titan, “terima kasih kau sudah melindungiku, maaf karena aku justru bersembunyi
ditempat setenang ini, sementara kau, istrimu, dan Jack hidup dalam kegelapan”
ujar tuan Alex mengalihkan pandangannya pada tuan Titan, “kita yang memulai
bukan? Maka kita juga yang harus menghadapi dan mengakhirinya” jelas tuan
Titan, “kau tahu? Jack tak bersalah sepenuhnya atasapa yang diketahui pangeran
kegelapan” tambahnya, “aku tahu—aku tahu… itu alasannya kenapa aku masih
membiarkan ia mengunjungiku beberapa waktu, dia juga sebagai kaki tanganku
sehingga aku tahu banyak mengenai sosok pangeran kegelapan, kau ingat—saat saat
kita memulai ini?” ujar tuan Alex, “tentu! Kita begitu cerdas bukan untuk
menemukan hal hal luar biasa seperti ini,” ujar tuan Titan, “Jack… kita harus
bisa membebaskannya, aku bisa saja meminta Haxio untuk pergi ketempat terkutuk
itu, tapi akan sangat beresiko karena kini pangeran kegelapan memperketat
pengawasannya” jelas tuan Alex, “ayah..” terdengar Gloria memanggilnya dari
kejauhan, saat tuan Alex dan tuan Titan membalikan badannya terlihat Gloria dan
Halley berdiri cukup jauh dari mereka, “anak anak kita!” ujar tuan Titan,
Gloria dan Halley menghampiri orang tua mereka, “minumlah ini!” ujar Gloria
membawakan ayahnya dan tuan Titan secangkir coklat panas, “disini terlalu
dingin untuk orang setua kalian” ujar Halley menggoda ayahnya, “ayahmu masih
muda Halley!” ujar tuan Titan memberikan reaksi berupa pukulan dikepala Halley
atas ucapannya.
“apa
kau bersedih?” ujar Haxio yang menatap tajam Gara yang sedang memandang kesudut
lain tempat ini, dimana ada Gloria, Halley beserta ayah mereka, “diamlah!”
tegas Gara, “seandainya aku dapat memeluk ayahku seperti apa yang mereka
lakukan sekarang” ujar Gara, “peluklah aku… kau bisa menganggapku ayahmu!” ujar
Haxio, raut wajah Gara berubah seketika dan mengalihkan pandangannya pada sosok
tikus kecil yang berdiri disampingnya, “ayolah!” ujar Gara “ayahku bukan seekor
tikus..” tambahnya lagi, “maaf—maksudku.. aku akan menjadi anak yang buruk
untukmu bukan?” timpalnya, “beristirahatlah, besok kita harus tetap terjaga
bukan?” ujar Gara, Haxio sedikit jengkel atas ucapan Gara, “baiklah… setidaknya
aku bukan pengecut yang tidak berani untuk mencintai seseorang” jelas Haxio dan
meninggalkan Gara, Gara merengut dan benar benar merasa jengkel tikus itu
selalu menggodanya. Bagaimanapun kebahagiaan Gloria yang kini dirasakannya,
Gara tetap tersenyum memandangi Gloria dari kejauhan. Ia merebahkan tubuhnya
kehamparan rerumputan yang begitu dingin, menatap setiap bintang yang kini bisa
ia rasakan, ia teringat dulu ketika mereka masih kecil Gara dan Gloria sering
kali menatap bintang bersama, Gara meraih kalung dilehernya, menatap setiap
bagian kalung itu, namun perlahan kalung itu bersinar, Gara terkejut dan
bangkit seketika, ia tak tahu apa artinya itu, “kau bahagia?” ujar tuan Alex
yang tiba tiba saja ada disampingnya, “batu itu akan semakin bertambah kuat
seiring dengan kebahagiaan yang kau rasakan, bahkan jika itu hanya sebuah
kenangan dan itu sesuatu yang baik” jelas tuan Alex, “maksud tuan?” heran Gara
yang masih memandangi sinar dari kalung itu, “kalung itu akan bertambah besar
kekuatannya karena dua hal, kebaikan dan keburukan, keduanya sangat
berpengaruh, batu itu juga dapat mempengaruhimu!” jelas tuan Alex, “sudahlah!
Kau harus beristirahat!” jelas tuan Alex kembali dan menginggalkan Gara dengan
segala pertanyaan dalam benak Gara.
FF_Empat Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Tiga belas
Gara
dan Gloria membersihkan serpihan tubuh Chemo yang hancur, mereka membungkusnya
pada sehelai kain putih dan kemudian membawanya keluar, “kita harus
memakamkannya bukan?” ujar Gloria, “tentu!” timpal Gara, lalu menggali halaman
rumah tuan Jack dan menguburkan jasad Chemo, “Maaf aku tak berhasil
melindungimu lagi” ujar Gara, Gloria menangis dalam dekapan Gara, “akankah ini
berakhir?” ujar Gloria, “pasti, semua ini akan berakhir, aku akan melindungimu dan
terus ada disisimu, bukankah aku telah berjanji?” ujar Gara, “terlalu banyak
yang kau lakukan untukku Gara, terima kasih, maaf—maaf aku selalu membuatmu
melindungiku” ujar Gloria menatap Gara, “satu hal—satu hal saja, aku mohon
tetaplah bernafas, hanya itu yang perlu kau lakukan untuk membalas apa yang
telah aku lakukan untukmu” jelas Gara dan memeluk Gloria.
“Gara!
Gloria! masuklah!” sahut tuan Titan. Gara dan Gloria bergegas masuk setelah
memakamkan Chemo dengan layak, “bagaimana keadaanmu tuan Jack?” ujar Gara,
“sekarang kita harus secepatnya menemui ayahmu Gloria!” jelas tuan Titan
menatap tajam pada Gloria, “Gara! Kau—kau bisa melakukan perjalanan waktu
bukan? Seperti menghilang dan muncul dari satu tempat ketempat lainnya?” ujar
tuan Jack yang menghampiri Gara, “bukankah kau juga melakukannya?” timpal Gara, “tidak setiap penyihir dapat
melakukan hal seperti itu, meski iya—itu pasti mempunyai cara yang berbeda, aku
hanya dapat melakukannya khusus untuk tempat tempat yang pernah aku kunjungi,
tapi tidak dengan tempat asing!” jelas tuan Jack, “bagaimana caramu
melakukannya?” tambahnya, “aku?—aku entahlah, terkadang aku bisa pergi pada
tempat yang ada dibenakku, tapi aku terlalu sering untuk tersesat jika aku
tidak memfokuskan diri!” jawab Gara, “apa kau bisa melakukan hal semacam
telepati?” tambah tuan Titan yang masih terduduk disamping Halley,
“sepertinya—ada sebuah mantra yang bisa membuatku terhubung pada seseorang,
tapi jika aku melakukannya aku akan terus terhubung pada orang itu, kau
tahu—itu seperti mengikat seseorang”
jelas Gara, “kau bisa membuatnya dengan Gloria? Aahh sebenarnya aku tidak yakin—tapi.. ini—ini seperti sebuah koneksi, saat Gloria memfokuskan diri pada ayahnya melalui kalung itu, dan kau bisa terhubung pada pikiran atau pengelihatan Gloria, saat itu kau bisa melakukan perjalanan—menuju arah yang ingin digapai oleh Gloria, yaitu ayahnya!” jelas tuan Titan, “kau benar! Ini bisa kita coba lakukan!” seru tuan Jack, “tapi bukankah itu akan mengikat Gara pada Gloria?” ujar Haxio, “tak ada masalah dengan itu bukan?” ujar Gloria, “lagipula Gara adalah teman, sahabat, bahkan kakak terbaik untukku, tak ada masalah jika aku harus selalu terikat padanya, emm—maksudku adalah jika ini seperti kontak batin, aku tak masalah dengan itu!” jelas Gloria, “aku tak bisa melakukannya!” ujar Gara, “kalian tak mengerti dengan apa yang kalian pikirkan tentang ini!” tambahnya dan pergi meninggalkan semua orang , ‘membuat koneksi? Dengan Gloria?’ pikir Gara yang kini terduduk menatap gelapnya malam, ‘tidak sama sekali, aku tak akan pernah bisa melakukannya’ pikirnya lebih keras. “apa ada sesuatu yang salah dengan membuat koneksi denganku?” ujar Gloria, “kau—kau tak mengerti Gloria—ini—ini tak semudah yang kau pikirkan—bukan hanya membuat sebuah koneksi!” jelas Gara, “pangeran kegelapan mungkin semakin mendekat, dan ayahku? Aku harus menemukannya, kau berjanji akan membantuku!” ujar Gloria yang berdiri tepat dibelakang Gara, Gara berdiri dan bergerak mendekati Gloria memegang kedua pundak Gloria dengan erat “bukan hanya pikiran kita—tapi—tapi tubuh kita secara tidak langsung akan membuat koneksi yang kuat, saat aku membuat koneksi denganmu—dan jika terjadi sesuatu denganku—tubuh kita akan sama sama merasakannya, bukan hanya tentang pikiran kita Gloria—kau harus mengerti, membuat koneksi dan kau tidak akan pernah bisa memutuskannya!” tambah Gara, “kau benar! Ini terlalu mengambil resiko untuk kalian berdua” jelas tuan Jack yang muncul dengan tuan Titan, “tapi tak ada cara lain selain membuat koneksi itu” tambah tuan Titan, “benarkah tak ada cara untuk memutuskannya setelah koneksi terjadi?” ujar Haxio yang muncul tepat dibawah kaki tuan Jack, “kematian!” jelas tuan Jack, “kematian kedua orang atau salah satu yang membuat koneksi yang akan membuat koneksi itu terputus!” tambahnya. “keputusan ada ditangan kalian berdua” jelas tuan Titan, “jika ini tak dapat kalian lakukan—tunggu! Ada cara lain” jelas tuan Titan, “apa?” ujar Gloria menghampiri ayah Halley, “tidak tidak—ini terlalu beresiko!” ujar tuan Titan, “apa kau—kau bercanda! Cara itu dapat membunuh anak itu!” seru tuan Jack yang memahami apa yang dipikirkan oleh rekannya, “bisa kau memberitahuku?” ujar Gloria, “tak akan pernah!” jelas tuan Jack, “yaa itu akan melukai kita semua jika gagal, bahkan itu dapat membunuhmu!” timpal tuan Titan. “arghhttt!” teriak Gloria, “ada apa???” ujar Gara ketakutan melihat Gloria yang nampak kesakitan, “pangeran kegelapan mendekat! Pikiranku terasa kacau! Kita harus pergi dari sini!” ujar Gloria, “baiklah semua bersiap!” perintah tuan Jack, mereka membuat lingkaran didekat tubuh Halley yang masih tak sadarkan diri, “semuanya berpegangan!” jelas tuan Jack dan kemudian mereka semua menghilang.
jelas Gara, “kau bisa membuatnya dengan Gloria? Aahh sebenarnya aku tidak yakin—tapi.. ini—ini seperti sebuah koneksi, saat Gloria memfokuskan diri pada ayahnya melalui kalung itu, dan kau bisa terhubung pada pikiran atau pengelihatan Gloria, saat itu kau bisa melakukan perjalanan—menuju arah yang ingin digapai oleh Gloria, yaitu ayahnya!” jelas tuan Titan, “kau benar! Ini bisa kita coba lakukan!” seru tuan Jack, “tapi bukankah itu akan mengikat Gara pada Gloria?” ujar Haxio, “tak ada masalah dengan itu bukan?” ujar Gloria, “lagipula Gara adalah teman, sahabat, bahkan kakak terbaik untukku, tak ada masalah jika aku harus selalu terikat padanya, emm—maksudku adalah jika ini seperti kontak batin, aku tak masalah dengan itu!” jelas Gloria, “aku tak bisa melakukannya!” ujar Gara, “kalian tak mengerti dengan apa yang kalian pikirkan tentang ini!” tambahnya dan pergi meninggalkan semua orang , ‘membuat koneksi? Dengan Gloria?’ pikir Gara yang kini terduduk menatap gelapnya malam, ‘tidak sama sekali, aku tak akan pernah bisa melakukannya’ pikirnya lebih keras. “apa ada sesuatu yang salah dengan membuat koneksi denganku?” ujar Gloria, “kau—kau tak mengerti Gloria—ini—ini tak semudah yang kau pikirkan—bukan hanya membuat sebuah koneksi!” jelas Gara, “pangeran kegelapan mungkin semakin mendekat, dan ayahku? Aku harus menemukannya, kau berjanji akan membantuku!” ujar Gloria yang berdiri tepat dibelakang Gara, Gara berdiri dan bergerak mendekati Gloria memegang kedua pundak Gloria dengan erat “bukan hanya pikiran kita—tapi—tapi tubuh kita secara tidak langsung akan membuat koneksi yang kuat, saat aku membuat koneksi denganmu—dan jika terjadi sesuatu denganku—tubuh kita akan sama sama merasakannya, bukan hanya tentang pikiran kita Gloria—kau harus mengerti, membuat koneksi dan kau tidak akan pernah bisa memutuskannya!” tambah Gara, “kau benar! Ini terlalu mengambil resiko untuk kalian berdua” jelas tuan Jack yang muncul dengan tuan Titan, “tapi tak ada cara lain selain membuat koneksi itu” tambah tuan Titan, “benarkah tak ada cara untuk memutuskannya setelah koneksi terjadi?” ujar Haxio yang muncul tepat dibawah kaki tuan Jack, “kematian!” jelas tuan Jack, “kematian kedua orang atau salah satu yang membuat koneksi yang akan membuat koneksi itu terputus!” tambahnya. “keputusan ada ditangan kalian berdua” jelas tuan Titan, “jika ini tak dapat kalian lakukan—tunggu! Ada cara lain” jelas tuan Titan, “apa?” ujar Gloria menghampiri ayah Halley, “tidak tidak—ini terlalu beresiko!” ujar tuan Titan, “apa kau—kau bercanda! Cara itu dapat membunuh anak itu!” seru tuan Jack yang memahami apa yang dipikirkan oleh rekannya, “bisa kau memberitahuku?” ujar Gloria, “tak akan pernah!” jelas tuan Jack, “yaa itu akan melukai kita semua jika gagal, bahkan itu dapat membunuhmu!” timpal tuan Titan. “arghhttt!” teriak Gloria, “ada apa???” ujar Gara ketakutan melihat Gloria yang nampak kesakitan, “pangeran kegelapan mendekat! Pikiranku terasa kacau! Kita harus pergi dari sini!” ujar Gloria, “baiklah semua bersiap!” perintah tuan Jack, mereka membuat lingkaran didekat tubuh Halley yang masih tak sadarkan diri, “semuanya berpegangan!” jelas tuan Jack dan kemudian mereka semua menghilang.
…
Pangeran
kegelapan tiba tiba muncul tepat didepan rumah tuan Jack, pangeran kegelapan
menutup matanya dan ia tak merasakan apapun atau seorang pun ada didalam rumah
itu, pangeran kegelapan terlihat murka atas apa yang dilihatnya, tiba tiba
rumah itu dihancurkannya dengan magis yang dimiliki pangeran kegelapan, kini ia
tahu, ia harus segera menemukan ayah Gloria jika ia tak mau kehilangan batu
itu, bagaimanapun ia harus mendapatkannya, ia memerintahkan para Cxipto untuk
lebih memperketat hutan ini, setiap mahluk yang ada dibawah pengaruh pangeran
kegelapan semakin waspada atas apa yang ada didalam hutan, namun pangeran
kegelapan merasakan sesuatu, ia menghilang dan muncul tepat dimakan Chemo,
makam itu dihancurkannya, dan ia meraih bongkahan tubuh Chemo, berusaha membaca
apa yang diketahui oleh sigung itu.
Pangeran
kegelapan mulai gelisah atas apa yang bisa dilihatnya dari mata Chemo, Chemo
terlalu banyak mengetahui mengenai tuan Alex, dan kini pangeran gelapan
mengetahui mengenai Gloria, ia tahu apa yang akan ia lakukan jika ia ingin
menemukan Alex akan lebih mudah jika ia menemukan terlebih dahulu anak gadisnya
yaitu Gloria Chadwix.
“bawa
Jack padaku! Hidup ataupun mati!” jelas perintah pangeran kegelapan pada salah
satu cxipto dihadapannya, “baik tuan” jelas cxipto itu dengan penuh rasa
hormat, kemudian memberi komando pada pengikut pangeran kegelapan yang lain
untuk memburu tuan Jack dan yang lainnya.
…
“aaauuu”
keluh Halley yang mulai sadarkan diri, “syukurlah kau sudah sadar anakku” jelas
tuan Titan, “yaa aku merasa lebih baik sekarang, apa yang sebenarnya terjadi
yah?” ujar Halley, “tak apa! Kita aman sekarang” timpal ayahnya, “lepaskan
kalung dilehermu” tambahnya lagi, Halley melakukan apa yang ayahnya minta, dan
memberikan kalung itu pada Gloria, “ini milikmu!” ujarnya, “terima kasih kau
selalu menyelamatkanku” tambahnya saat berada dekat dengan Gloria. “putuskanlah
sekarang!” ujar tuan Jack, “apa kau benar benar tak mengerti??? Aku tidak bisa
melakukannya!” tegas Gara menatap tajam pada tuan Jack, “Harus! Jika kau ingin
membantu untuk menemukan ayah Gloria!” timpal tuan Jack dengan segera. Gloria yang
berada tepat disamping Halley melangkah perlahan menghampiri Gara, “ayahku
bilang, kalung ini..” ujar Gloria menunjukan kalung yang diberikan Gara pada
hari ulang tahunnya, “aku harus memakainya karena… karena ayah bilang kalung
ini bisa melindungiku” tambahnya seraya
menunjukan kalung itu pada Gara, “bisa kau jelaskan?” tambahnya lagi, “butuh
waktu yang cukup lama untukku agar bisa membuat kalung itu untukmu, rubi
itu—sangat sulit aku menemukannya, dan aku telah memberinya mantra pelindung
yang cukup kuat, agar kau tak pernah bisa dipengaruhi magis apapun, dan rubi
itu telah aku beri air kehidupan, dimana kau harus terluka saat mendapatkannya,
air itu yang akan melindungimu dari magis jahat sekalipun” ujar Gara menatap
lembut pada Gara, “kalau begitu, bukankah aku akan baik baik saja? Selagi aku
memakai kalung ini dan selagi ada dirimu Gara?” jawab Gloria, “bisakah kau
melakukannya? Membuat koneksi denganku?” tambahnya lagi berharap Gara akan
memenuhi keinginannya, “terikat denganku selamanya? Itukah yang kau inginkan?”
ujar Gara, “aku tak akan pernah merasa keberatan” jelas Gloria, “baiklah, tapi…
ada satu syarat” jelas Gara, “apapun” tegas Gloria, “suatu saat kau akan
mengetahuinya!” timpal Gara, “lagipula aku tengah berjanji untuk menemukan
ayahmu bukan?” jelasnya lagi, “baiklah… kita lakukan!” tegas Gara.
“kalian
siap?” ujar tuan Titan, Gara dan Gloria mengangguk perlahan, kini mata Gara dan
Gloria saling menatap, untuk sedetik Gloria menatap Halley, dan Halley membalas
tatapan yang diberikan Gloria, telapak tangan Gara dan Gloria saling bertemu,
perlahan mereka berdua menutup mata mereka, Gara mulai membacakan mantra untuk
membuat koneksi dengan Gloria, seketika cahaya putih berselimut biru dan violet
mengelilingi tubuh mereka berdua, bahkan membuat mereka melayang diudara,
perlahan mereka membuka mata mereka dan turun perlahan sampai kaki mereka
berpijak kembali, “waw!” ujar Gloria “rasanya menakjubkan!” tambah Gloria dan
memeluk Gara, “baiklah karena kini kita terhubung, maka… kau harus memakai kalung
ini agar kau bisa membawa ku—eemm maksudku kami pada ayah!” tambah Gloria dan
memasangkan kalung pemberian ayahnya keleher Gara, “baikalah, kita harus
bersiap sekarang” ujar tuan Titan, “brak..brak..brak…” terdengar hentakan
seperti Troll sedang berada dekat dengan mereka, “Gloria terjatuh kepelukan
Halley, dan Halley meraihnya, Gara merasa geram melihat kejadian itu, tapi ini
sungguh bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal semacam itu, “itu Troll”
jelas Halley, “kita tidak bisa melakukannya sekarang kalau begitu, Gloria harus
terfokus!” jelas tuan Jack. Tidak ada yang mereka semua pikirkan selain lari
dari tempat itu secepat mungkin, mereka berlari sekencang yang mereka bisa
lakukan, cukup jauh mereka berlari hingga mereka terperosok dalam sebuah lubang,
dan itu lubang yang cukup dalam, mereka semua berteriak hingga mereka mendarat
“aaauuu!” jelas semuanya, Gara terjatuh pertama kali, diikuti Haxio dan tuan
Titan kemudian Halley dan Gloria yang terjatuh tepat dipangkuan Halley, Gara
bangkit dan membantu Haxio serta ayah Halley bangkit, dan Halley membantu
Gloria, dan Gara sungguh sangat memperhatikan itu, “tunggu dulu! Mana tuan
Jack!” ujar Haxio, “dimana dia?” tambahnya lagi, “oohh tidak—sesuatu
menangkapnya” ujar Gloria cemas “aku tak tahu itu apa?” tambahnya, “itu adalah nox!” jelas Gara, “kau tahu?” timpal
Halley, “apa kau lupa! Kini aku dan Gloria terhubung, aku bisa melihat apa yang
dia lihat dalam pikirannya!” jelas Gara, “nox
? mahluk apa itu?” ujar Gloria, “tak pernah ada yang tahu wujud mereka seperti
apa, mereka lebih dikenal sebagai bayangan, cepat dan bisa berpindah dari satu
tempat ketempat lainnya dalam waktu singkat, tidak dengan cara menghilang tapi
mereka benar benar secepat kilat!” jelas Haxio “baiklah kalau begitu kita tak
punya cukup waktu!” jelas tuan Titan, “tapi dimana kita sebenarnya?” ujar Gara,
“lihat sepertinya ini mengarah pada sesuatu” ujar Gloria, “tunggu tunggu!
Ini—aku tahu tempat ini…” ujar tuan Titan, “Halley kau ingat tempat ini?”
tambahnya lagi, “ahh—iya aku ingat! Ayah pernah membawaku kemari bukan? Ini
tempat kenangan ayah dan ibu bukan?” jelas Halley, “ kau benar, ini akan
mengarah pada sebuah bukit” jelas tuan Titan, “bukit yang benar benar indah”
tambah Halley, “aku tak yakin akan sama seperti dulu, tapi kita harus memastikannya!”
jelas tuan Titan.
FF_Tiga Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Dua belas
Gara
dan Gloria membersihkan serpihan tubuh Chemo yang hancur, mereka membungkusnya
pada sehelai kain putih dan kemudian membawanya keluar, “kita harus
memakamkannya bukan?” ujar Gloria, “tentu!” timpal Gara, lalu menggali halaman
rumah tuan Jack dan menguburkan jasad Chemo, “Maaf aku tak berhasil
melindungimu lagi” ujar Gara, Gloria menangis dalam dekapan Gara, “akankah ini
berakhir?” ujar Gloria, “pasti, semua ini akan berakhir, aku akan melindungimu
dan terus ada disisimu, bukankah aku telah berjanji?” ujar Gara, “terlalu
banyak yang kau lakukan untukku Gara, terima kasih, maaf—maaf aku selalu
membuatmu melindungiku” ujar Gloria menatap Gara, “satu hal—satu hal saja, aku
mohon tetaplah bernafas, hanya itu yang perlu kau lakukan untuk membalas apa
yang telah aku lakukan untukmu” jelas Gara dan memeluk Gloria.
“Gara!
Gloria! masuklah!” sahut tuan Titan. Gara dan Gloria bergegas masuk setelah
memakamkan Chemo dengan layak, “bagaimana keadaanmu tuan Jack?” ujar Gara,
“sekarang kita harus secepatnya menemui ayahmu Gloria!” jelas tuan Titan
menatap tajam pada Gloria, “Gara! Kau—kau bisa melakukan perjalanan waktu
bukan? Seperti menghilang dan muncul dari satu tempat ketempat lainnya?” ujar
tuan Jack yang menghampiri Gara, “bukankah kau juga melakukannya?” timpal Gara, “tidak setiap penyihir dapat
melakukan hal seperti itu, meski iya—itu pasti mempunyai cara yang berbeda, aku
hanya dapat melakukannya khusus untuk tempat tempat yang pernah aku kunjungi,
tapi tidak dengan tempat asing!” jelas tuan Jack, “bagaimana caramu
melakukannya?” tambahnya, “aku?—aku entahlah, terkadang aku bisa pergi pada
tempat yang ada dibenakku, tapi aku terlalu sering untuk tersesat jika aku
tidak memfokuskan diri!” jawab Gara, “apa kau bisa melakukan hal semacam
telepati?” tambah tuan Titan yang masih terduduk disamping Halley,
“sepertinya—ada sebuah mantra yang bisa membuatku terhubung pada seseorang,
tapi jika aku melakukannya aku akan terus terhubung pada orang itu, kau
tahu—itu seperti mengikat seseorang”
jelas Gara, “kau bisa membuatnya dengan Gloria? Aahh sebenarnya aku tidak yakin—tapi.. ini—ini seperti sebuah koneksi, saat Gloria memfokuskan diri pada ayahnya melalui kalung itu, dan kau bisa terhubung pada pikiran atau pengelihatan Gloria, saat itu kau bisa melakukan perjalanan—menuju arah yang ingin digapai oleh Gloria, yaitu ayahnya!” jelas tuan Titan, “kau benar! Ini bisa kita coba lakukan!” seru tuan Jack, “tapi bukankah itu akan mengikat Gara pada Gloria?” ujar Haxio, “tak ada masalah dengan itu bukan?” ujar Gloria, “lagipula Gara adalah teman, sahabat, bahkan kakak terbaik untukku, tak ada masalah jika aku harus selalu terikat padanya, emm—maksudku adalah jika ini seperti kontak batin, aku tak masalah dengan itu!” jelas Gloria, “aku tak bisa melakukannya!” ujar Gara, “kalian tak mengerti dengan apa yang kalian pikirkan tentang ini!” tambahnya dan pergi meninggalkan semua orang , ‘membuat koneksi? Dengan Gloria?’ pikir Gara yang kini terduduk menatap gelapnya malam, ‘tidak sama sekali, aku tak akan pernah bisa melakukannya’ pikirnya lebih keras. “apa ada sesuatu yang salah dengan membuat koneksi denganku?” ujar Gloria, “kau—kau tak mengerti Gloria—ini—ini tak semudah yang kau pikirkan—bukan hanya membuat sebuah koneksi!” jelas Gara, “pangeran kegelapan mungkin semakin mendekat, dan ayahku? Aku harus menemukannya, kau berjanji akan membantuku!” ujar Gloria yang berdiri tepat dibelakang Gara, Gara berdiri dan bergerak mendekati Gloria memegang kedua pundak Gloria dengan erat “bukan hanya pikiran kita—tapi—tapi tubuh kita secara tidak langsung akan membuat koneksi yang kuat, saat aku membuat koneksi denganmu—dan jika terjadi sesuatu denganku—tubuh kita akan sama sama merasakannya, bukan hanya tentang pikiran kita Gloria—kau harus mengerti, membuat koneksi dan kau tidak akan pernah bisa memutuskannya!” tambah Gara, “kau benar! Ini terlalu mengambil resiko untuk kalian berdua” jelas tuan Jack yang muncul dengan tuan Titan, “tapi tak ada cara lain selain membuat koneksi itu” tambah tuan Titan, “benarkah tak ada cara untuk memutuskannya setelah koneksi terjadi?” ujar Haxio yang muncul tepat dibawah kaki tuan Jack, “kematian!” jelas tuan Jack, “kematian kedua orang atau salah satu yang membuat koneksi yang akan membuat koneksi itu terputus!” tambahnya. “keputusan ada ditangan kalian berdua” jelas tuan Titan, “jika ini tak dapat kalian lakukan—tunggu! Ada cara lain” jelas tuan Titan, “apa?” ujar Gloria menghampiri ayah Halley, “tidak tidak—ini terlalu beresiko!” ujar tuan Titan, “apa kau—kau bercanda! Cara itu dapat membunuh anak itu!” seru tuan Jack yang memahami apa yang dipikirkan oleh rekannya, “bisa kau memberitahuku?” ujar Gloria, “tak akan pernah!” jelas tuan Jack, “yaa itu akan melukai kita semua jika gagal, bahkan itu dapat membunuhmu!” timpal tuan Titan. “arghhttt!” teriak Gloria, “ada apa???” ujar Gara ketakutan melihat Gloria yang nampak kesakitan, “pangeran kegelapan mendekat! Pikiranku terasa kacau! Kita harus pergi dari sini!” ujar Gloria, “baiklah semua bersiap!” perintah tuan Jack, mereka membuat lingkaran didekat tubuh Halley yang masih tak sadarkan diri, “semuanya berpegangan!” jelas tuan Jack dan kemudian mereka semua menghilang.
jelas Gara, “kau bisa membuatnya dengan Gloria? Aahh sebenarnya aku tidak yakin—tapi.. ini—ini seperti sebuah koneksi, saat Gloria memfokuskan diri pada ayahnya melalui kalung itu, dan kau bisa terhubung pada pikiran atau pengelihatan Gloria, saat itu kau bisa melakukan perjalanan—menuju arah yang ingin digapai oleh Gloria, yaitu ayahnya!” jelas tuan Titan, “kau benar! Ini bisa kita coba lakukan!” seru tuan Jack, “tapi bukankah itu akan mengikat Gara pada Gloria?” ujar Haxio, “tak ada masalah dengan itu bukan?” ujar Gloria, “lagipula Gara adalah teman, sahabat, bahkan kakak terbaik untukku, tak ada masalah jika aku harus selalu terikat padanya, emm—maksudku adalah jika ini seperti kontak batin, aku tak masalah dengan itu!” jelas Gloria, “aku tak bisa melakukannya!” ujar Gara, “kalian tak mengerti dengan apa yang kalian pikirkan tentang ini!” tambahnya dan pergi meninggalkan semua orang , ‘membuat koneksi? Dengan Gloria?’ pikir Gara yang kini terduduk menatap gelapnya malam, ‘tidak sama sekali, aku tak akan pernah bisa melakukannya’ pikirnya lebih keras. “apa ada sesuatu yang salah dengan membuat koneksi denganku?” ujar Gloria, “kau—kau tak mengerti Gloria—ini—ini tak semudah yang kau pikirkan—bukan hanya membuat sebuah koneksi!” jelas Gara, “pangeran kegelapan mungkin semakin mendekat, dan ayahku? Aku harus menemukannya, kau berjanji akan membantuku!” ujar Gloria yang berdiri tepat dibelakang Gara, Gara berdiri dan bergerak mendekati Gloria memegang kedua pundak Gloria dengan erat “bukan hanya pikiran kita—tapi—tapi tubuh kita secara tidak langsung akan membuat koneksi yang kuat, saat aku membuat koneksi denganmu—dan jika terjadi sesuatu denganku—tubuh kita akan sama sama merasakannya, bukan hanya tentang pikiran kita Gloria—kau harus mengerti, membuat koneksi dan kau tidak akan pernah bisa memutuskannya!” tambah Gara, “kau benar! Ini terlalu mengambil resiko untuk kalian berdua” jelas tuan Jack yang muncul dengan tuan Titan, “tapi tak ada cara lain selain membuat koneksi itu” tambah tuan Titan, “benarkah tak ada cara untuk memutuskannya setelah koneksi terjadi?” ujar Haxio yang muncul tepat dibawah kaki tuan Jack, “kematian!” jelas tuan Jack, “kematian kedua orang atau salah satu yang membuat koneksi yang akan membuat koneksi itu terputus!” tambahnya. “keputusan ada ditangan kalian berdua” jelas tuan Titan, “jika ini tak dapat kalian lakukan—tunggu! Ada cara lain” jelas tuan Titan, “apa?” ujar Gloria menghampiri ayah Halley, “tidak tidak—ini terlalu beresiko!” ujar tuan Titan, “apa kau—kau bercanda! Cara itu dapat membunuh anak itu!” seru tuan Jack yang memahami apa yang dipikirkan oleh rekannya, “bisa kau memberitahuku?” ujar Gloria, “tak akan pernah!” jelas tuan Jack, “yaa itu akan melukai kita semua jika gagal, bahkan itu dapat membunuhmu!” timpal tuan Titan. “arghhttt!” teriak Gloria, “ada apa???” ujar Gara ketakutan melihat Gloria yang nampak kesakitan, “pangeran kegelapan mendekat! Pikiranku terasa kacau! Kita harus pergi dari sini!” ujar Gloria, “baiklah semua bersiap!” perintah tuan Jack, mereka membuat lingkaran didekat tubuh Halley yang masih tak sadarkan diri, “semuanya berpegangan!” jelas tuan Jack dan kemudian mereka semua menghilang.
…
Pangeran
kegelapan tiba tiba muncul tepat didepan rumah tuan Jack, pangeran kegelapan
menutup matanya dan ia tak merasakan apapun atau seorang pun ada didalam rumah
itu, pangeran kegelapan terlihat murka atas apa yang dilihatnya, tiba tiba
rumah itu dihancurkannya dengan magis yang dimiliki pangeran kegelapan, kini ia
tahu, ia harus segera menemukan ayah Gloria jika ia tak mau kehilangan batu
itu, bagaimanapun ia harus mendapatkannya, ia memerintahkan para Cxipto untuk
lebih memperketat hutan ini, setiap mahluk yang ada dibawah pengaruh pangeran
kegelapan semakin waspada atas apa yang ada didalam hutan, namun pangeran
kegelapan merasakan sesuatu, ia menghilang dan muncul tepat dimakan Chemo,
makam itu dihancurkannya, dan ia meraih bongkahan tubuh Chemo, berusaha membaca
apa yang diketahui oleh sigung itu.
Pangeran
kegelapan mulai gelisah atas apa yang bisa dilihatnya dari mata Chemo, Chemo
terlalu banyak mengetahui mengenai tuan Alex, dan kini pangeran gelapan
mengetahui mengenai Gloria, ia tahu apa yang akan ia lakukan jika ia ingin
menemukan Alex akan lebih mudah jika ia menemukan terlebih dahulu anak gadisnya
yaitu Gloria Chadwix.
“bawa
Jack padaku! Hidup ataupun mati!” jelas perintah pangeran kegelapan pada salah
satu cxipto dihadapannya, “baik tuan” jelas cxipto itu dengan penuh rasa
hormat, kemudian memberi komando pada pengikut pangeran kegelapan yang lain
untuk memburu tuan Jack dan yang lainnya.
…
“aaauuu”
keluh Halley yang mulai sadarkan diri, “syukurlah kau sudah sadar anakku” jelas
tuan Titan, “yaa aku merasa lebih baik sekarang, apa yang sebenarnya terjadi
yah?” ujar Halley, “tak apa! Kita aman sekarang” timpal ayahnya, “lepaskan
kalung dilehermu” tambahnya lagi, Halley melakukan apa yang ayahnya minta, dan
memberikan kalung itu pada Gloria, “ini milikmu!” ujarnya, “terima kasih kau
selalu menyelamatkanku” tambahnya saat berada dekat dengan Gloria. “putuskanlah
sekarang!” ujar tuan Jack, “apa kau benar benar tak mengerti??? Aku tidak bisa
melakukannya!” tegas Gara menatap tajam pada tuan Jack, “Harus! Jika kau ingin
membantu untuk menemukan ayah Gloria!” timpal tuan Jack dengan segera. Gloria
yang berada tepat disamping Halley melangkah perlahan menghampiri Gara, “ayahku
bilang, kalung ini..” ujar Gloria menunjukan kalung yang diberikan Gara pada
hari ulang tahunnya, “aku harus memakainya karena… karena ayah bilang kalung
ini bisa melindungiku” tambahnya seraya
menunjukan kalung itu pada Gara, “bisa kau jelaskan?” tambahnya lagi, “butuh
waktu yang cukup lama untukku agar bisa membuat kalung itu untukmu, rubi
itu—sangat sulit aku menemukannya, dan aku telah memberinya mantra pelindung
yang cukup kuat, agar kau tak pernah bisa dipengaruhi magis apapun, dan rubi
itu telah aku beri air kehidupan, dimana kau harus terluka saat mendapatkannya,
air itu yang akan melindungimu dari magis jahat sekalipun” ujar Gara menatap
lembut pada Gara, “kalau begitu, bukankah aku akan baik baik saja? Selagi aku
memakai kalung ini dan selagi ada dirimu Gara?” jawab Gloria, “bisakah kau
melakukannya? Membuat koneksi denganku?” tambahnya lagi berharap Gara akan
memenuhi keinginannya, “terikat denganku selamanya? Itukah yang kau inginkan?”
ujar Gara, “aku tak akan pernah merasa keberatan” jelas Gloria, “baiklah, tapi…
ada satu syarat” jelas Gara, “apapun” tegas Gloria, “suatu saat kau akan
mengetahuinya!” timpal Gara, “lagipula aku tengah berjanji untuk menemukan
ayahmu bukan?” jelasnya lagi, “baiklah… kita lakukan!” tegas Gara.
“kalian
siap?” ujar tuan Titan, Gara dan Gloria mengangguk perlahan, kini mata Gara dan
Gloria saling menatap, untuk sedetik Gloria menatap Halley, dan Halley membalas
tatapan yang diberikan Gloria, telapak tangan Gara dan Gloria saling bertemu,
perlahan mereka berdua menutup mata mereka, Gara mulai membacakan mantra untuk
membuat koneksi dengan Gloria, seketika cahaya putih berselimut biru dan violet
mengelilingi tubuh mereka berdua, bahkan membuat mereka melayang diudara,
perlahan mereka membuka mata mereka dan turun perlahan sampai kaki mereka
berpijak kembali, “waw!” ujar Gloria “rasanya menakjubkan!” tambah Gloria dan
memeluk Gara, “baiklah karena kini kita terhubung, maka… kau harus memakai
kalung ini agar kau bisa membawa ku—eemm maksudku kami pada ayah!” tambah
Gloria dan memasangkan kalung pemberian ayahnya keleher Gara, “baikalah, kita
harus bersiap sekarang” ujar tuan Titan, “brak..brak..brak…” terdengar hentakan
seperti Troll sedang berada dekat dengan mereka, “Gloria terjatuh kepelukan
Halley, dan Halley meraihnya, Gara merasa geram melihat kejadian itu, tapi ini
sungguh bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal semacam itu, “itu Troll”
jelas Halley, “kita tidak bisa melakukannya sekarang kalau begitu, Gloria harus
terfokus!” jelas tuan Jack. Tidak ada yang mereka semua pikirkan selain lari
dari tempat itu secepat mungkin, mereka berlari sekencang yang mereka bisa
lakukan, cukup jauh mereka berlari hingga mereka terperosok dalam sebuah
lubang, dan itu lubang yang cukup dalam, mereka semua berteriak hingga mereka
mendarat “aaauuu!” jelas semuanya, Gara terjatuh pertama kali, diikuti Haxio
dan tuan Titan kemudian Halley dan Gloria yang terjatuh tepat dipangkuan
Halley, Gara bangkit dan membantu Haxio serta ayah Halley bangkit, dan Halley
membantu Gloria, dan Gara sungguh sangat memperhatikan itu, “tunggu dulu! Mana
tuan Jack!” ujar Haxio, “dimana dia?” tambahnya lagi, “oohh tidak—sesuatu
menangkapnya” ujar Gloria cemas “aku tak tahu itu apa?” tambahnya, “itu adalah nox!” jelas Gara, “kau tahu?” timpal
Halley, “apa kau lupa! Kini aku dan Gloria terhubung, aku bisa melihat apa yang
dia lihat dalam pikirannya!” jelas Gara, “nox
? mahluk apa itu?” ujar Gloria, “tak pernah ada yang tahu wujud mereka seperti
apa, mereka lebih dikenal sebagai bayangan, cepat dan bisa berpindah dari satu
tempat ketempat lainnya dalam waktu singkat, tidak dengan cara menghilang tapi
mereka benar benar secepat kilat!” jelas Haxio “baiklah kalau begitu kita tak
punya cukup waktu!” jelas tuan Titan, “tapi dimana kita sebenarnya?” ujar Gara,
“lihat sepertinya ini mengarah pada sesuatu” ujar Gloria, “tunggu tunggu!
Ini—aku tahu tempat ini…” ujar tuan Titan, “Halley kau ingat tempat ini?”
tambahnya lagi, “ahh—iya aku ingat! Ayah pernah membawaku kemari bukan? Ini
tempat kenangan ayah dan ibu bukan?” jelas Halley, “ kau benar, ini akan
mengarah pada sebuah bukit” jelas tuan Titan, “bukit yang benar benar indah”
tambah Halley, “aku tak yakin akan sama seperti dulu, tapi kita harus memastikannya!”
jelas tuan Titan.
FF_Dua Belas
Silahkan
baca cerita sebelumnya di FF_Sebelas
“ayoo,
duduklah!” ujar Gara, “apapun yang terjadi pada masa lalu ayahmu, dia—dia harus
tetap kau temukan, aku—aku berjanji akan berusaha semampuku untuk melindungimu
juga ayahmu, jadi… ahhh kau benar benar terlihat buruk saat bersedih seperti
ini” ujar Gara menatap mata Gloria yang sedang menangis, Gloria hanya
menengadahkan pandangannya pada Gara dan sedikit menunjukan simpul senyumannya,
“coba lihat ini!” ujar Gara dan memunculkan setangkai lily putih kesukaan
Gloria, dan Gloria langsung meraihnya, “terima kasih” ucap Gloria dan memeluk
Gara kembali, “ayoo kita harus masuk!” ujar Gloria dan meraih lengan Gara untuk
mengikutinya masuk kedalam rumah.
“Alex
berada disuatu tempat yang dilindungi oleh kekuatan magis, ia membuatnya
sendiri, dan pangeran kegelapan tak mengetahuinya, tapi… akan sedikit sulit
jika kita ingin kesana” jelas tuan Jack, “bukankah tadi kau bilang kau sesekali
mengunjunginya?” ujar Gara, “tidak secara langsung, aku hanya membuat hubungan
kontak dengannya, kami berdua adalah seorang penyihir, kami membuat kontak
dengan magis yang kami miliki, meski begitu, dia tak pernah memberitahuku
bagaiman caraku agar dapat masuk kedalam dunia ayahmu kini” jelas tuan Jack
pada Gloria, “kau pengkhianat! Bagaimanapun dia tak akan percaya padamu!” ujar
Halley, “dia hanya berhati hati” jelas tuan Titan, “melihatmu bahwa kau pernah
memberitahukan mengenainya pada pangeran kegelapan, aku yakin dia hanya berhati
hati!” jelas tuan Titan kembali, “jika ayahku adalah seorang penyihir, kenapa
aku tidak?” ujar Gloria, “kau hanya mewarisi ‘pengelihatan’ ayahmu sepertinya”
jelas tuan Jack, “membuat kontak? Ayahku sering melakukannya, tapi bukankah
kita harus mempunyai media agar bisa membuat kontak, cermin—itu yang kami
gunakan, kami mengalirkan magis secara bersamaan pada sebuah cermin dirumahku,
lewat cermin itu baik ayahku dan aku dapat saling bertemu, apa sama seperti
itu?” ujar Gara, “hampir, aku dan Alex menggunakan angin sebagai media, jadi
kami hanya dapat saling mendengar bukan melihat” jelas tuan Titan, “bisakah?
Bisakah kau tunjukan?” jelas Gloria, “tidak—media tak dapat kita gunakan secara
terus menerus bukan? Hanya pada saat saat tertentu, tergantung bagaimana caramu
memantrainya” jelas Gara, “anak muda itu benar! Aku hanya dapat menggunakannya
disaat situasi genting dan tenang, maksudku—hanya pada saat tidak ada
seorangpun disekitarku atau ayahmu!” jelas tuan Jack.
“apa
itu!” jelas Halley yang terkejut dengan terpaan angin yang mendobrak pintu,
“aahh itu ayahmu!” jelas tuan Jack pada Gloria, “ayah???” ujar Gloria, berharap
ia dapat melihat ayahnya—sangat berharap, “seperti yang aku bilang aku harus
mendapat suasana yang tepat agar dapat melakukan kontak dengan ayahmu,
tunggulah disini!” jelas tuan Jack yang kemudian menghilang dari pandangan
semua orang ditempat itu.
“ahh
kepalaku!” ujar Chemo disudut lain tempat ini, “Chemo??? Aku tidak menyadari
keberadaanmu sejak aku datang kemari” ujar Haxio yang terkejut melihat Chemo
yang tiba tiba menghampiri mereka, “kau merasa lebih baik sekarang?” ujar
Gloria menghampiri Chemo, “ahh yaa kau sudah lebih baik sekarang” tambahnya
lagi. “bagaimana bisa aku selamat? Anak panah itu akan membunuhku bukan?” ujar
Chemo, “jika Gara tidak menyelamatkanmu, itu mungkin akan terjadi” ujar Gloria
dan mengalihkan pandangannya pada Gara, “benarkah?” ujar Chemo, “dan aku hampir
terbunuh juga saat menyelamatkanmu!” ujar Gara, “terima kasih atas
pertolonganmu, bagaimanapun aku sangat berhutang nyawa padamu” ujar Chemo, “dan
kau! Apa yang kau lakukan disini? Tunggu—ini—tuan Jack?” ujar Chemo yang mulai
mengamati keadaan sekitarnya, “tuan Titan?” tambahnya lagi saat mendapati sosok
pria tua yang dikenalnya, “yaa ini aku, lama kita tak berjumpa bukan?” balas
tuan Titan, “ini anakku Halley!” tambahnya, “aahh benarkah??? Kalian tidak
mirip…” ujar Chemo, “Kau—” ujar Halley geram mendengar Chemo. “lalu dimana tuan
Jack? Dan apa ayahmu telah kau temukan? Ya Tuhan berapa lama aku tak sadarkan
diri!” ujar Chemo sambil memegang kepalanya, “jika ayah Gloria telah ditemukan
maka kau akan melihatnya disini!” jelas Halley.
“Gloria!”
ujar tuan Jack yang tiba tiba muncul, “saat tengah malam, gunakanlah
pengelihatanmu untuk menemukan ayahmu!” tambahnya lagi, “tapi—tapi aku tak
pernah berhasil melakukannya..” ujar Gloria lemas, “kali ini akan berhasil !”
jelas tuan Jack, “tidak—kau tahu ini sangat rentan bukan? Dua orang melakukan
kontak pengelihatan ditempat seperti ini?tidak—kau bercanda?” ujar tuan Titan,
“tuan benar, terlalu berbahaya—pangeran kegelapan akan merasakan hubungan
kontak mereka!” ujar Haxio, “iya, bukankah pangeran kegelapan juga mempunyai
pengelihatan sama seperti Gloria dan ayahnya, hal itu bisa menjadi kunci
untuknya untuk dapat menemukan tuan Alex, dan—dan kita semua!” ujar Chemo,
“tunggu—ketika aku dan ayahku melakukan kontak kami, ada satu mantra yang
sangat kuat yang dapat menyembunyikannya, bisakah itu?” ujar Gara,
“maksudmu—mantra pelindung?” ujar Halley, “ayahku bilang, ketika ia melakukan
kontak denganku, sekalipun ada seseorang disekitar kita yang bisa mendeteksi,
itu tak akan terjadi jika ada mantra pertahanan, ayahku melakukannya agar bos
ditempat ia bekerja tidak mengetahuinya” jelas Gara, “ayahmu melindungi
pengelihatannya, mungkin itu sebabnya kau tidak pernah bisa berhasil melakukannya!”
ujar Halley, “jadi—aku rasa ayahmu akan mengambil resiko dengan membuka
pengelihatannya kini!” tambahnya, “Gara benar! Kita bisa menggunakan mantra
pertahanan, kita berdua bisa melindungi pengelihatanmu akan ayahmu, dan aku
yakin ayahmu tidak akan seceroboh itu, ia juga pasti akan melindungi
pengelihatannya” ujar tuan Jack, “ tengah malam hampir tiba, berhati hatilah”
jelas tuan Titan, aku dan Halley akan berjaga disekitar kalian, segala
kemungkinan dapat terjadi pada pangeran kegelapan!” tambahnya, “kami ikut!”
ujar Chemo dan Haxio bersamaan.
Tengah
malampun tiba, semuanya bersiap, Gloria bersiap saat akan melakukan kontak
dengan ayahnya, Gara dan tuan Jack mencengkram tangan Gloria sambil membacakan
mantra mantra pertahanan untuk dapat melindungi kontak yang akan dilakukan,
Halley, ayahnya dan Chemo juga Haxio berada disekitar Gloria, Gara dan tuan
Jack, menjaga mereka dari segala arah, Halley dan ayahnya terjaga dengan
menjadi seekor serigala, hembusan angin mendobrak pintu rumah tuan Jack, itu adalah
pertanda dari tuan Alex, mereka semua saling beradu pandangan, Gloria
menganggukan kepalanya mengisyaratkan ia siap melakukannya, Halley, tuan Titan,
Haxio dan Chemo menatap dengan tajam memastikan Gloria tetap aman, Gara dan
tuan Jack terus melayangkan mantra mantra mereka, perlahan Gloria menutup
matanya, fokus pada ayahnya.
“ayah…
ayah…” ujar Gloria yang kini berada ditempat yang ia tak tahu itu dimana, hanya
tambok tembok putih yang ada disekitarnya dan semuanya memantulkan cahaya yang
sangat tajam, membuat Gloria tak dapat melihat apapun, “disini… oh sayang ayah
sangat merindukanmu” ujar tuan Alex yang muncul dibalik cahaya putih tapat
dihadapan Gloria, Gloria dengan sigap menghampiri ayahnya dan langsung
mendekapnya, “aku juga—sangat ayah—sangat merindukan ayah!” ujar Gloria yang
masih memeluk ayahnya, “kita harus melakukannya dengan cepat, ayah takut
pangeran kegelapan akan tetap merasakannya meski diberi mantra perlindungan,
sekarang kekuatan pangeran kegelapan semakin meningkat, kita harus tetap
berhati hati” ujar tuan Alex, “dengar, ayah baik baik saja, kau masih menyimpan
kalung yang pernah ayah beri padamu sewaktu kau masih kecil sayang?” tambahnya,
“selalu, disini!” ujar Gloria memperlihatkan kalung yang menempel dilehernya
bersamaan dengan kalung rubi yang diberi oleh Gara, “baguslah, kalung itu akan
menuntunmu pada ayah, tunggu—kalung rubi?” ujar tuan Alex, “Gara yang
memberikannya padaku, ada apa?” ujar Gloria, “kau harus tetap memakainya,
kalung itu akan melindungimu… ayah harus pergi, ayah sangat mencintaimu,
berhati hatilah!” ujar tuan Alex, dan kemudian mengilang dari pandangan Gloria,
“aku juga..” ujar Gloria menatap kosong kepergian ayahnya, perlahan mata Gloria
terbuka,
“bagaimana?
Apa yang terjadi?” ujar Gara, “aku bertemu ayah, namun ia tak memberitahuku
secara pasti mengenai keberadaannya, dia—dia hanya mengingatkanku pada kalung
yang pernah ia berikan dulu sewaktu aku kecil sebelum ia pergi, tapi aku tetap
tak mengerti” ujar Gloria, “bisa aku melihatnya?” ujar tuan Jack, “Gloria melepaskan
sesuatu dari lehernya, menunjukan sebuah kalung dengan batuan seperti permata
sebagai bandulnya dengan lilitan lilitan perak pada permata itu, “apa yang bisa
dilakukan oleh kalung itu? Ayah bilang kalung itu dapat menuntunku padanya”
ujar Gloria, “kalung itu—tidak—tidak itu adalah sedikit dari pecahan batu yang
ditemukan ayahmu” ujar tuan Titan, “dan telah ia mantrai!” tegas tuan Jack.
“batu
dewa?” ujar Haxio, “benarkah?” tambah Chemo, “aku tidak mungkin salah” ujar
tuan Jack, “itu benar—batu dewa” jelas tuan Titan yang masih dalam wujud
serigalanya, “benda kecil itu adalah batu dewa?” ujar Halley, “jangan pernah
meremehkan, ukuran batu yang sebenarnya 10 kali lipat dari kau lihat kini,
meski itu hanya pecahan kecil, batu itu tetap memiliki magis yang kuat meski
tak sebesar jika dalam ukuran sebenarnya” ujar tuan Jack, “bukankah batu dewa
akan selalu bisa melindungi pemakainya? Tapi aku masih tetap terluka, batu itu
tak melindungiku sama sekali!” ujar Gloria, “dia benar, beberapa kali ia
terluka dan sepertinya batu itu tak membantunya sama sekali” jelas Gara, “batu
itu bukan penetralisir racun, dia bekerja pada magis!” jelas tuan Titan, “hanya
magis?” ujar Gloria, “kau tidak akan bisa dibaca oleh pangeran kegelapan,
keberadaanmu akan sulit diketahui oleh pangeran kegelapan, sekarang aku tak
heran jika ia tak pernah menemukanmu” ujar tuan Jack, “batu itu pasti memiliki
kontak dengan batu induknya, apa itu yang dimaksud oleh Alex?” ujar tuan Titan,
“aku rasa itu benar” jelas tuan Jack. “jika batu itu masih ada ditangan Alex,
dan pecahannya berada pada Gloria, maka tak akan sulit untuk menemukan dia
bukan?” tambahnya lagi.
“lalu
bagaimana cara kalung ini berkerja?” ujar Gloria dengan pandangan terfokus pada
kalung dilengannya. “Brakkk!!!” sesuatu
mendobrak pintu rumah tuan Jack, mereka adalah para Cxipto, dengan reflex Haxio
meludahi mata Gara dan Gloria “iyaakk!!!—apa yang kau—” –“ diamlah, itu akan
menjagamu! Sekarang berhati hatilah!” ujar
Halley.
Terdapat
sekitar 4 Cxipto yang menyerbu rumah tuan Jack, arah pandangan Chemo tepat pada
para Cxipto, seketika ia berubah menjadi batu dan salah satu dari Cxipto
melempar sebilah pisau sehingga menghancurkan tubuh Chemo, “tidak—tidak,
Chemo!!!” teriak Gloria yang melihat tubuh Chemo hancur, Tuan Titan dan Halley
menyerang tubuh Cxipto yang ada dihadapan mereka, Gara dan tuan Jack menyihir
rambut para Cxipto namun sama sekali tak ada gunanya, terlalu bahaya jika
rambut rambut Cxipto mengenai tubuh mereka, “Gloria! Lemparkan kalungmu!” ujar
tuan Jack, “Gara bersama sama arahkan tongkatmu pada kalung ini” tambah tuan
Jack saat kalung Gloria berada ditangannya, “Haxio! Ambil cermin itu dan
arahkan pada Cxipto Cxipto itu! Jelasnya lagi, “dalam hitungan ketiga, tutup
mata! 1..2..3!” jelas tuan Jack, semua
menutup mata mereka kecuali para Cxipto itu, Gara meluncurkan sebuah mantra
pada kalung Gloria yang dipegang tuan Jack, terlihat seutas pantulan cahaya
dari batu permata itu memantul pada cermin yang dipegang Haxio, Haxio berusaha
keras menahannya agar cermin tidak terjatuh, hingga pantulan sinar itu mengenai
para Cxipto yang hancur seketika seperti butiran butiran debu. Haxio terhempas
karena tak kuasa menahan cermin, begitu juga tubuh Gara dan tuan Jack,
“Brakk!!!” mereka terhempas kesudut lain tempat ini. Gloria segera menghampiri
Gara dan membantunya bangkit, tuan Titan berubah menjadi manusia kembali dan
meraih tubuh tuan Jack, ‘Halley!’ pikir Gloria, setelah ia membantu Gara,
Gloria mencari sosok Halley, ditemukannya ia terbaring lemah disudut dekat
pintu, “kau baik baik saja?” ujar Gloria dan merangkul Halley, “aaarrgghh!”
berontak Halley, “tuan Titan!!!” seru Gloria panik, tuan Titan langsung menoleh
kearah Gloria, dilihatnya anaknya Halley terkapar kesakitan, “Ya Tuhan! Apa
para Cxipto itu mengenaimu?” ujar Tuan Titan, “akhhh rasanya tubuhku seperti
terbakar!” teriak Halley menggenggam tangan Gloria dengan keras, “tuan Jack,
Gara!!! Tolonglah, Halley sekarat!” teriak Gloria, “bertahanlah… bertahanlah
Halley!” ujar Gloria, tuan Titan memeluk anakknya berharap ia dapat melakukan
sesuatu, racunnya pasti tengah menyebar pada tubuh Halley, tuan Jack masih tak
sadarkan diri setelah tubuhnya terhempas, Gara bangkit perlahan seraya memegang
perutnya yang sakit karena terhempaskan, ia menghampiri Halley, meraih tongkatnya
dan terduduk dihadapan Halley, Gloria menatapnya lemah, ia takut jika Gara yang
nanti akan terluka, “tenanglah.. saat tuan Jack sadar, dia akan membantuku
bukan?” ujar Gara dengan sulas senyuman diwajahnya, “Halley akan akan baik baik
saja, aku tak akan membiarkanmu kehilangannya lagi!” tambah Gara, lalu
mengalihkan pandangannya pada Halley. Gara kini terfokuskan pada Halley,
mencoba mengeluarkan setengah dari energi yang dimilikinya untuk memulihkan
Halley, “stop!” seru tuan Jack, “kekuatanmu tak akan mampu menyembuhkan Halley,
“Gloria!” tambah tuan Jack “kalungmu! Pakaikan kalung ini pada Halley!” jelas
tuan Jack, “hanya alirkan sedikit energi dalam tubuhmu pada kalung itu, dan
biarkan kalung itu yang bekerja” ulang tuan Jack pada Gara, setelah Gloria memakainya
pada Halley yang terus berteriak karena kesakitan yang dideritanya, Gara
mengeluarkan sedikit dari energinya pada kalung Gloria, perlahan setitik sinar
keluar dari tongkat sihir Gara dan meluncur kearah batu permata pada kalung
Gloria, cahaya itu masuk kedalamnya, terlihat tembus kedalam tubuh Halley, dan
tiba tiba Halley tak sadarkan diri, “biarkan kalung itu bekerja!” ujar tuan
Titan, “kau kuat nak, bertahanlah—ayah mohon bertahanlah” tambah tuan Titan
yang kemudian merangkul Halley dan membaringkan tubuh anaknya.
Langganan:
Postingan (Atom)