Tampilkan postingan dengan label Senja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juni 2016

Buatku Terjatuh Lagi #Joo

Titik kerinduanku kembali memuncak pada satu titik yang lain
Dulu, terpana pada secarik kertas diantara hamparan kertas lainnya
Sejenak kuabaikan, detik waktu pada akhirnya berbisik padaku "Cobalah"
Jemariku pada akhirnya menari pada sebuah halaman web
Mataku terus menggerakkan sebuah halaman, tak asing
Pada satu titik, langkah kakiku melangkah lagi, akhirnya aku berpijak
Yang aku takut, aku berpijak namun tak berjejak
Waktu terus mengelabuiku, ku kira ia menjebakku 
"Lihat, ini tak seperti yang aku inginkan" ujarku pada detik itu
Ku bilang, waktu hanya memintaku menunggu lebih lama
Tak ada kabar yang kudengar, semua hanya sebuah ruang kosong tanpa aksara
Waktu akhirnya mengetuk, mengundangku masuk pada sebuah rumah 
Aku melingkar di dalamnya, bermain dengan imajinasiku sendiri
"Rencana apa lagi yang Tuhan aturkan untukku?"
Mungkin bukan keasingan, hanya ketidaknyamanan membuatku ingin pergi
Waktu kembali menarikku, menggodaku seperti biasanya
Tak seperti lingkaran lainnya, aku tak jatuh cinta, nyamanpun tidak
Ku "coba" mengakrabkan diri, hingga akhirnya aku terjebak dengan sendirinya
Waktu tak lagi menahanku, tapi aku yang ingin bertahan
Waktu tak lagi menjebakku, tapi aku yang melibatkan diriku masuk kedalamnya
Waktu tak lagi menggodaku, tapi ada sebuah rasa yang kutinggalkan
Sengaja, agar aku bisa kembali dan kembali lagi
Waktu tak lagi memaksaku datang, tapi kakiku terus melangkah pada arah yang sama
Lingkaran ini sama, namun berbeda
Ku bilang, aku kembali terjatuh, dan aku menyukainya
Lingkaran ini membuat gaduh, dan aku suka
Peduli berbagi, patahan kata yang membuatku jatuh cinta
Boleh ku bilang... aku mulai merasa kehilangan
Rasanya aku rindu pada sisi yang membuatku menjadi manusia
Ada bagian yang kini patah, patahan itu mengikis kembali sisi manusiaku
Perlahan kegaduhan menjadi hening dengan sendirinya
Perlahan tawa-tawa itu memudar dan aku mulai kehilangan setiap bayangannya
Boleh ku bilang rasa ini pun mulai kehilangan bayangannya?
Hanya, rumah yang ramai itu menjadi terlalu kosong
Ku kira ini hanya kecemasan semu, aku tahu ini hanya sementara, waktupun tahu itu
Kini aku hanya menunggu, sampai waktu akan menghampiriku lagi
Sampai waktu akan menggodaku lagi
Sampai waktu akan membuatku jatuh cinta lagi
Rasaku hanya terkikis sedikit, waktu akan memulihkannya bukan?
Sebuah titik rinduku yang lain untuk sebuah lingkaran yang manis dan hangat ^^

Jumat, 03 Juni 2016

#P.A.T.A.H #Sumedang #MM



Patah? entahlah, mungkin seperti patahan waktu atau patahan memori, dari sekian banyak waktu yang sudah kuhabiskan sampai detik ini, dari sekian banyak memori yang bisa aku ingat dan tersimpan dalam sebuah kotak waktu yang tak hanya kumiliki sendiri. Senja menggerakkan jemariku untuk membuka sebuah folder setahun silam, “Dok. KKN”. Sudah pernah kuceritakan kehidupan 40 hari ku, bersama mereka yang Allah telah aturkan pertemuannya dengan indah, kubilang mereka anugrah lain dari sisi hidupku yang singkat, Esa, Bayan, Feisal, Taufik, Tisha, Dian, Ima, Manda dan Rahmah mereka selalu menjadi menyenangkan meski hanya dibalik sebuah obrolan sederhana dalam sebuah aplikasi. 

Sedang ingin berkelana dengan sahabatku, aksara, berkelana kemasa itu, masa yang kini hanya bisa diingat dan dikenang, tapi yang akan kubahas hanya saat bulan puasa saja, kepalang panjang jika diceritakan semua, biarlah hanya aku, mereka dan Tuhan yang memiliki ingatan utuh akan deretan peristiwa ini.

Program bulan ramadhan kala itu tak begitu banyak, yang rutin adalah program pengajian anak-anak dan orang dewasa. Tim dibagi menjadi dua kubu, Rika, Dian, Bayan dan Taufik dikubu satu #masjid bawah, dan Tisha, Rahmah dan Fei dikubu dua #masjid atas, Ima dan Manda? Mereka lebih suka menjadi juru masak kami ^^. Banyak cerita, banyak kekonyolan, banyak ini dan itu, bagaimana kami mengajar, bagaimana sikap anak-anak, tak jarang dibuat kesal atau malah tertawa karenanya. Pertama kali “waah… ada banyak anak-anak, pasti menyenangkan” meski memegang anak-anak kelas 5 SD yang tak selucu anak-anak kelas TK dan 1-2 SD, aku masih bisa bermain dengan mereka. Permaianan pertama, mmm aku lupa namanya, kita hanya perlu melingkar dan mengikuti perintah, entah menjadi bunga, meja, kursi, atau bahkan kulkas, anak-anak suka sekali menyuruhku menjadi bunga ^^. Kadang anak-anak dari mentor lain justru diam bersamaku saat aku harus mengajar kelas 5, emang udah dasarnya disukain bocah kali yaa *ups…  tapi kalah pamor deh dari sosok Rahmah yang keibuan dan sosok Taufik yang menjadi target utama para intel cilik, ganteng katanya. Kalah pamor juga sama Dian dan Tisha yang selalu bisa handel anak kecil, dan kalah pamor dari Fei yang kalem kalem ketje juga kalah pamor dari Bayan yang selalu bisa membuat anak-anak tertawa. Jadi gue? fix abaikan saja XD. Karena sikap hangat anak-anak berubah drastis saat gue jadi pelatih mereka untuk acara pawai pembawa bendera 17 agustus, “galak” dan “teriak-teriak” gimana enggak, pasukan anak-anaknya lebih dari 70 ya mesti teriak-teriak sampe suara ciut, untuk soal ini yang lain gak ada yang bisa ngalahin haha.. 

Baiklah, ayo bahas sesuatu yang lebih biasa, bagaimana kebiasaan kami di posko. Mulai dari sahur sampai sahur kembali ^^. Yang bangun pertama kali ya juru masak kita, karena yang tidur duluan juga mereka, jago banget soal urusan dapur, gue? emm paling diminta untuk buat nasi haha.. yang makan terakhir adalah bapak kepala keluarga, ini antara dia care sama kita atau pengen dapet jatah banyak karena penghabisan, abis kita kalau makan suka nyisain banyak ^^ haha.. Abis sahur, yaps saatnya antri kamar mandi, karena yang cowo mesti ke masjid, cewe-cewe ngalah dan jangan biarkan edoh yang jago masak bubur duluan ke kamar mandi, you know what? ini dia si-terlama di kamar mandi, bahkan kalau cuma wudhu aja juga serasa nungguin orang lagi nyuci baju *eh. Abis itu posko bakal kembali sepi karena semua akan terlelap kembali, paling barter ada gue yang ngurusin laporan, atau kabayan yang asik internetan, dan… Ah ini yang aku takutkan, saat aku mulai lupa dengan cerita yang ada #hiks. 

Ah ya, kalau di Bandung udah gak aneh kalau orang rumah beli batagor buat menu buka puasa, disini juga sama, kita doyan banget sama batagornya Sumedang di Mekar Mukti, adalah batagor yang keberadaan tahunya misterius, kita juga sering sebut “batagor padahal aci” karena ya itu, batagor sih namanya tapi isinya aci aja, emmm tahunya mistis hiiii… Tapi asli enak, dan kangen banget sama batagornya.. 

Sambil nunggu buka atau selepas tarawih kita suka banget main kartu, mulai dari remi sampai uno. Btw UNO gue dimana ya guys ? ahaha… Kalah? udah biasa, maklum anak baik-baik gak bisa main kartu #hueekk.. sekali permaianan gue pernah dianugrahi memakai helm, dikalungin sendok sayur dan sendok nasi itu sumpah berat banget main kartu pake begituan, pengen nabokin anak-anak jadinya *ups. Atau pake lipstiknya ibu negara, disaat yang lain dicoret di pipi dengan tanda loreng atau heart, pas giliran gue malah di bagian mata dilingkarin dan penuh banget kan jatohnya kayak abis dikeroyok masa, ala-ala memar memar bengep gimana gitu, sampai sekarang gak mau liat fotonya, asli menyedihkan, anak-anak sih cuma haha hihi aja, “Rika, itu kayak abis di tonjok” kan minta di cubit sampe lebam banget itu… pfffttt… 

Kebiasaan malam hari juga adalah ngecek air, karena air disana biasanya dua hari sekali fullnya, jadi kalau gak dicek yang jadi korban adalah cucian kita yang numpuk, yang biasanya ngecek sih ceu edoh dan kabayan, aku kadang-kadang hihi itupun nemenin doang megangin senter, sistem pengaliran air disana agak unik, biasa kali ya kalau di desa emang gitu, ehehe.. semuanya bersumber dari satu titik tapi dibagikan ke banyak titik (kayak kamu, bagi-bagi cinta kesemua orang -_-, ehhh gagal fokus) kita udah berasa kayak maling loh menyusuri setiap selang dengan jalan membungkuk (terlihat mengendap-endap) malem malem pula *duuh, kadang guyonan “ Udah cabut aja selangnya kita pindahin” sering terlintas dan muncul, tapi karena kami adalah mahasiswa baik-baik jadi semua itu hanyalah guyonan belaka yang tak pernah dilakukan.

Apa lagi ya? ahh ini dia, ibu negara, kita kalah sama dia kalau udah urusan televisi, hak ibu negara adalah menguasai TV sejak jam 13.00-17.00, kalau sekarang hitsnya UTTARAN, dulu lagi hitsnya ELIF, please itu lama banget tayangnya, kita ber-9 gak ada yang berani ubah channel tv. Atau kebisaan bapak kepala rumah tangga yang pagi-pagi udah konser di kamar atas, dan punya kehidupan sendiri, sampai dia akan muncul dengan sendirinya, malah pernah suatu ketika disiang yang terik bapak kepala menghilang, kita udah panik karena ini anak kok gak balik-balik, dihubungin juga gak bisa-bisa, sampai disusulin ke ladang, menerjang ombak dan naik turun perbukitan #boongdeng, gak taunya malah asik sendiri di dunianya yang antah berantah dengan kondisi badan keringetan dan bawa golok tanpa membawa hasil kelapa satu pun -_- gimana gak makin kesel coba haha

well kangen sih dengan mereka semua, masing-masing punya ciri khas sendiri, ada yang diem-diem tapi sekalinya ngomong bikin petjah suasana, ada yang suka mejeng depan kipas angin kalau siang-siang, ada yang doyan banget lama-lama di kamar mandi, weeww macem macem lah karakter mereka teh. Bahkan kangen juga rodi dua hari dua malam buat bikin properti dan meeting sampe tengah malem sama warga, dan yang menyenangkan adalah ketika meeting membawa tangan kosong tapi pulang meeting selalu membawa keresek gede berisi camilan khas sumedang *uyeaaah… yang bisa langsung habis sekali buka doang.

By the way selamat untuk Taufik Hidayat S.Pd atas gelar barunya dan status jombsnya yang sudah hilang, dan guys… ini rindu loh, selamat berjuang yaa untuk tingkat akhirnya, yuuk segerakan sarjana ^^ Karena semua akan sarjana pada waktunya dan akan menikah pada waktunya <3 yooossshhh

Bulan puasa kali ini sepertinya akan memiliki cerita lain ^^ Can’t wait…
Kalian selalu SEHAT dan BAHAGIA yaaa ^^

Patah

Kata kata itu ada, sebuah patahan kata yang pada akhirnya mematahkan
Mematahkan bagian sayap, hingga akhirnya kesulitan untuk terbang lagi
Mematahkan hati, hingga akhirnya luka yang tersisa
Mematahkan senyuman, hingga akirnya hanya ada kepedihan
Bukan prihal siapa yang mematahkan atau siapa yang dipatahkan
Sebab alasan hanyalah formalitas belaka
Sebab bukan siapa tapi mengapa
Karena kata mengapa berarti saling melukai
Karena kata mengapa adalah sebuah titik awal dan akhir
Yang ku tahu
Selalu ada akhir disetiap awal
Selalu ada awal disetiap akhir
Ini aku yang tengah menyaksikan orang-orang yang terpatahkan
Hanya bisa terdiam tanpa menenangkan 

Kamis, 28 April 2016

Dear Mister !

Sepatah kata ku mulai
Patahan lainnya kuakhiri
Kamu.
Aku mulai benci menyimpan sebuah rasa
Pada kotak yang telah berpenghuni
Jadi mari mengakhirnya
Kita akan berjabat tangan
Dan saat itu kumulai lembaranku yang baru
Tanpa kamu ditempat yang kau sebut hati.

Selasa, 26 April 2016

Jemariku asing

Banyu, lama tak mengudara lagi bersama. Ada kepingan acak yang merusak ingatanku, aku rasa aku amnesia, pada beberapa kotak waktuku terdahulu. Banyu, jika semu adalah nyata, maka fakta apa yang tak bisa kusentuh? semuanya hanya menjadi abu dalam ingatan. Aku, aku ingin kembali mengingat, sebuah masa dimana aku tak harus memiliki alasan untuk tersenyum, aku ingin kembali, pada sebuah waktu dimana rinaiku adalah bahagiaku. Banyu, saat melintasi waktu, yang ada hanyalah jejak tak berpijak, sebuah langkah tanpa bayangan. Arah angin mengelabuiku, hanya sebuah sentusan magis, semuanya kabur dan aku hanya terdiam dalam sepi. Berapa banyak waktu lagi? aku tak ingin ahu dan tak ingin peduli. Banyu, kembalilah dan bawakan aku sepasang langkah itu lagi.

Senin, 07 Desember 2015

2 Kepribadian

Entah, tak ada alasan pasti mengapa judul yang dipilih adalah "2 Kepribadian", nyatanya selalu ada sisi lain dalam diri seseorang, entah yang baru dimunculkan atau yang baru saja ketahuan. Masih ingat dengan kata-kata seseorang yang cukup kusegani dulu, pada akhirnya dia berkata "Terkadang kita harus menjadi orang lain agar dapat diakui, dan sekarang ini diri saya yang tak bisa saya tunjukkan kemarin". Saat mendengarnya, mmm sedikit membingungkan tepatnya kaget melihat perubahan seseorang dalam kurun waktu yang singkat, yang kukenal selama 2 tahun nyatanya berubah dalam waktu beberapa hari saja, seolah mengenal sosok baru yang tak pernah ku temui sebelumnya. 
Nyatanya akupun pernah seperti itu, menjadikan diri seperti apa yang orang lain inginkan, faktanya keberadaanku lebih "terlihat" saat tidak menjadi diri sendiri, pengakuan diri oleh orang lain tak bisa diacuhkan, sudah berapa banyak orang yang mengatakan padamu seperti ini "Just be your self, no matter what they say". Sayang tak semua orang bisa memahami satu sama lain, untuk orang-orang tertentu mereka akan berusaha keras agar bisa terlihat, dan lainnya mereka dapat terlihat dengan mudah. 
Nyatanya tak semua orang bisa menunjukkan diri mereka seperti yang mereka inginkan. Respon yang didapat ketika orang yang selalu menunjukkan A kemudian bersikap B beragam, mulai dari sesuatu yang bisa kau anggap bercanda sampai serius. Ini mirip sepeti seseorang yang baru saja kau kenal, kau akan melihatnnya seperti A dan lama kelamaan semakin kau mengenalnya kau akan menyebut dia B. 
Ini hanya apa kataku saja, aku sepakat pada perkataannya dimana ada kalanya menjadi orang lain perlu untuk kita lakukan, mungkin bisa dibilang adaptasi, ketika kau egois dengan dirimu sendiri tapi lingkungan tak menerima, apakah itu akan baik-baik saja? Pada akhirnya kata-kata "Udahlah, jangan pedulikan apa kata orang, mereka gak kenal kamu" kadang aku hanya bisa tergelitik, nyatanya ucapan tetaplah ucapan, ketika seseorang saling menilai mana bisa diabaikan? terlepas itu sesuatu yang baik atau buruk sekalipun, ucapan orang tetaplah sesuatu yang kita dengar pada akhirnya, dan sadar atau tidak hati dan pikiran akan merespon meski ingin rasanya untuk diabaikan.
Untuk diriku yang tak sempat kukenal selalu ku katakan " bertahanlah, dirimu yang satu ini nyatanya lebih disukai orang lain, dirimu yang seperti ini lebih bisa terlihat, bertahanlah, jalani waktumu, akan ada ruang dimana kau bisa kembali pada dirimu, ketika orang lain belum bisa melihat itu paling tidak akan ada 1 orang yang mengetahuinya, dirimu tak sepenuhnya tenggelam, jangan tunjukkan jika kau tak siap, jangan tunjukkan pada mereka, karena dirimu yang seperti ini nyatanya mereka suka, nyatanya mereka bisa melihatmu, tak apa... orang lain tak perlu tahu siapa dirimu". 
Munafik karena tak bisa menjadi diri sendiri? kalian bebas menilai, ini diriku bukan kalian, ini waktuku bukan waktumu, karena ini ceritaku bukan ceritamu.
Sekarang aku adalah aku yang kutunjukkan, tak semua baru sebagian besar, nyatanya masih ada yang kusembunyikan.


Created by

-I.P.P-

Jumat, 13 November 2015

Dua senyuman

Sebuah tulisan yang mungkin tak pernah sampai pada pemiliknya. Rasa sayangku memang tak pernah kuucap langsung untukmu, perhatianku tak pernah kutunjukkan, bahkan memelukmu tak pernah kulakukan. Sayangku hanya bisa kuucap dalam doa, perhatianku adalah dalam diam menatap wajah lelah setiap malamnya. Maafku karena membuatmu lelah dalam waktu, maafku karena sering membuatmu kecewa dan marah, kini tak bisa kubuat bangga dirimu, ada satu hal yang sulit kuucapkan meski sangat ingin "Terima kasih dan maaf". Entah kapan sapaanku berubah menjadi "babeh", aku tahu sampai sekarang aku belum melakukan apapun, meski selalu ku doakan tapi aku tak ernah benar benar berdoa. Perbincangan selalu kuhindari, karena aku takut jika muncul pertanyaan yang tak bisa kujawab. Aku bukanlah seorang anak yang bisa berbakti padamu, masih suka kuhiraukan permintaanmu. Satu-satunya yang kulakukan hanya bertahan dengan apa yang pinta "Jadilah guru", menjadi seorang guru bukan mimi yang pernah kupikirkan, sama sekali bukan. Lalu muncul sebuah dialog "Dulu, mama pengen banget jadi guru, tapi gak kesampaian". Kuurungkan niatku menjadi apa yang kuinginkan, aku memilih jalan yang lain, melupakan mimpiku dan membangun mimpi yang baru. Melihat orang lain berada di posisi yang sangat aku inginkan dulu sampai sekarang masih membuatku terluka, masih kukatakan "seharusnya aku juga seperti itu". Menjadi guru ternyata bukan hal yang mudah, entahlah, meski mimpi itu mulai tumbuh namun masih kumenoleh kebelakang, sesekali menyapa mimpiku yang lama. Sungguh ini jalan yang sulit, masih tak dapat kunikmati, untukmu kujalani hari-hariku dengan beban dikedua pundakku. Maaf karena inilah aku tak bisa membuatmu bangga, untuk jalan yang sejak awal tak pernah ingin kupilih. Berapa kali aku menangis karena ini terasa berat? tak bisa kuhitung dengan semua jari yang kumiliki. 
Namun berkatmu, aku tahu apa itu memberi, kelak ilmuku bukan untukku, kelak ilmuku harus kubagikan, jika aku tak memilih jalan ini mungkin aku tak tahu apa itu berbagi, berbagi yang sederhana. Perlahan mimpiku yang lain mulai tumbuh, aku ingin menjadi seorang guru bukan hanya sekedar profesi masa depan, aku ingin mengabdi, ya kelak sudah kutetapkan waktunya. 
Tapi, beban ini kadnag tak bisa kupikul lebih lama, sekalipun aku tak pernah mengeluh padamu, tak pernah kukatakan jika ini sulit. Kau selalu melihatku jika aku bisa dan aku baik-baik saja. Percayalah aku bukanlah aku yang dulu, bukan anakmu yang memiliki prestasi disekolah dengan segala kesibukan yang kumiliki. Aku tak suka melihatmu membanggakanku untuk sesuatu yang tak pernah kulakukan, karena bebannya akan terasa lebih berat lagi. 
Akan kulakukan semampuku, akupun meminta pada-Nya, dan jalan yang kau tunjukkan untukku adalah jawabannya. Aku tak pernah akan bisa membayar semua lelahmu, tapi percayalah aku ingin melihat dua senyuman itu saat gelar sarjana melakat pada diriku, aku ingin melihat melihat dua senyuman saat sebuah profesi beriringan dengan langkahku, dan aku ingin melihat dua senyuman saat aku benar-benar menggapai apa yang kubangun menjadi mimpiku saat ini. Jadi tunggulah sebentar lagi, tunggulah lebih lama, beri aku waktu lebih lama lagi untuk bisa melihat dua senyuman terhebat dalam hidupku.

Cukup bagiku

Bahagia yang sedehana, entah kapan terakhir berbicara mengenai hal itu. Bahagiaku yang sederhana perlahan mulai pudar, dan menipis seiring berjalannya langkahku. Aku hanya takut jika kelak itu akan menghilang tanpa aku bisa menyadarinya. Bahagiaku yang sederhana entah kemana perginya, haruskah aku jemput kembali? agar aku tak kehilangnnya? 
Segalanya mungkin tak berjalan baik, perlahan aku mulai serakah. Kadang aku bisa menahannya, selalu mengatakan " ini cukup, berharap seperti ini kedepannya " hingga akhirnya aku mulai serakah dan kemudian kehilangan semuanya perlahan.
Kini aku tahu, aku tak boleh serakah sama sekali, bahkan jika harus menahan sakitnya, akan lebih baik jika kulakukan itu dibanding kelak tak memilikinya sama sekali. Yang aku takut, aku kehilangan sebelum memilikinya, karena itu bukan kehilangan pada kenyataannya, hanya proses dalam merasa, merasa ada yang hilang pada sesuatu yang memang bukan milik kita.
Kini lagi aku akan mengatakannya " Ini cukup, cukup seperti ini, dan ini adalah bahagiaku yang sederhana"

Kamis, 16 Juli 2015

Maaf...

Teriring sebuah ilusi dalam rindu, teruntuk yang hatinya pernah terluka, karena lisan yang terlalu tajam, karena lisan yang berbisa. Sebuah kata maaf haruskah ku layangkan kembali? terlalu takut, bahkan kata maaf yang lalu belum tersentuhnya cenderung terabaikan. Untuk sebuah kesalahan, tidak.. beberapa kesalahan yang masih tak ku ketahui apa, sebuah alasan atau bahkan beberapa alasan yang membuatnya pergi tak menghiraukan, menjadikan keberadaanku dalam semu. Meski demikian, terlepas apapun alasannya yang ku tahu itu bersumber dariku, teruntuk yang pernah teramat menganggapku dalam waktunya, menghilangkanku mungkin tak masalah bagimu, namun kehilanganmu begitu berbekas. Teruntukmu yang pernah kupanggil sahabat, bisakah sekali saja kau panggil lagi namaku, bukan karena keadaan mendesak atau sebuah keharusan, tapi seperti dulu, dirimu yang selalu memanggil namaku bahkan jika hanya sekedar ingin memanggil namaku, entah itu untuk mendengar kisahmu atau hanya sekedar sapaan. Terlalu takut untuk mengungkit kembali dan berkata maaf, karena ketakutan kau akan semakin membenciku, hingga tak akan lagi kau panggil namaku. Ketakutan akan kata maaf yang akan terabaikan kembali. Bukan petama kali, namun ini menjadikannya hal pertama, seseorang yang mengambil langkah untuk sebuah kesalahan yang masih tak kupahami, cenderung dia yang mempercayai apa yang ingin dipercayanya. Sepertinya senja tak lagi jingga, hanya abu abu yang kusam, jika kusampaikan maaf akankah kau menerimanya? teruntuk dirimu yang menghilangkan keberadaanku, maaf jika ku bilang “dalam keberadaanmu aku hilang, dalam hilangmu aku ada” seolah dirimu adalah pusat magnet yang akan menarik semuanya kearahmu hingga tak ada yang terisisa untukku. Lagi ku titipkan maaf dalam doaku, sampaikah? 
Malam ini terlalu indah, gema takbir yang terlantun dalam setiap sudut bumi ini, apa yang kuungkap bisakah kau hiraukan, bisakah… tak apa jika sikapmu masih tak akan berubah, tak apa jika kau kan membuang kembali kata maaf yang kutujukan padamu, kau tahu setiap ku melihat namamu atau saat kita ada dilingkaran yang sama, dalam diam aku hanya bisa melirik kearahmu, berharap kau akan memanggil namaku, menunjukan senyuman dan tawa yang kini tak lagi pernah tertuju padaku, meski tak ku ketahui apa dan bagaimana, namun pada akhirnya penyesalan adalah milikku. Pengecut jika aku hanya meminta maaf dalam sebuah aksara yang kususun, semoga kita dipertemukan lagi kelak, hingga lisanku ini bisa berucap maaf dan menjabat tanganmu bahkan bisa memelukmu ukhti… Senang rasanya selalu bisa melihat senyum dan tawamu bahkan candamu, meski bukan untukku tak apa.. Tetaplah seperti itu terus bercengkrama dalam bahagiamu…

Selasa, 14 Juli 2015

Asingkah?

Keterasingan, pernahkah? tak banyak yang bisa kupelajari dari sebuah kata dasar "asing", mungkin hanya sebuah realita ilusi, tergantung bagaimana situasinya, apakah itu "terasingkan", "mengasingkan" diri atau hanya "asing" karena kau baru memulainya. Bukan hal baru apalagi aneh teruntuk sepasang mata yang telah melihat dan sepasang kaki yang telah berpijak dalam waktu yang lama, sayang tak banyak yang telah dilihat atau daratan yang telah terpijaki. Terasingkan, ahh... situasi ini mungkin sedikit sulit dan abstrak, terasingkan bisa berarti kau hanya merasa atau benar benar itulah yang terjadi, anggap sebagai situasi yang buruk dimana kau harus menemukan cara untuk bisa terlihat sehingga tak terasingkan, namun lain hal jika situasinya benar benar sengaja, ini akan membuatnya semakin.... entahlah penafsiran seperti apa yang pantas, yang jelas sulit membuat dirimu terlihat dalam sebuah kesengajaan untuk membuatmu tenggelam, semacam kau perlu usaha yang lebih. Karena hidup tak pernah lepas dari sebuah pilihan maka anggaplah kau harus memilih, pergi atau tetap tinggal, tergantung bagaimana kesanggupanmu baik yang tersadari ataupun tidak. Hanya jika kau memilih untuk pergi artinya kau benar benar kalah, jika memilih untuk tinggal paling tidak cobalah untuk membuat hatimu tidak terluka hingga kau berhasil membuat dirimu nampak dan tak terasingkan lagi. Berbeda halnya dengan mengasingkan diri, bisa disebut sebagai sebuah taktik atau sebuah kata untuk seseorang yang cukup pemgecut, entahlah namun terkadang mengasingkan diri artinya memberikanmu ruang entah itu untuk berpikir atau bahkan untuk bernafas, bersifat sementara artinya akan ada waktu dimana kau harus kembali dan berhenti mengasingkan diri. 
Tekad dan niat adalah sebuah kunci, seberapa lama kau akan bertahan. Dalam hidup kau butuh alasan, dan niat awalmu adalah pijakan dasar, sebuah alasan yang akan menjadikannya alasan lain, sebuah alasan yang akan membuatmu tetap tinggal dan terus berjalan pada jalan yang telah kau pijak, seberapa burukpun jalan itu namun jika jalan yang telah kau pilah akan membawamu ke tempat terindah maka kau akan menetap, karna sebuah alasan yang akan membuatmu tinggal, sebuah alasan yang membuatmu bertahan, seberapa kuat alasan itu mempengaruhi langkahmu, bergantung pada seberapa besar rasa percaya dirimu.
Dan sekarang adalah waktunya dalam mencari alasan yang akan menjadikannya alasan lain mengapa kau harus bertahan...